
Sudah pukul tujuh malam. Alana bergerak dalam gelisah di kamarnya. Undangan reuni beberapa kali sempat ia lihat. Berkali-kali ia juga melirik ke arah jam nakas, juga ponselnya kala tak mendapati pesan apapun dari Dave.
Alana mengigit bibir bawahnya, bagaimana ia bisa datang, jika Dave saja belum pulang dari luar kota. Ingin menelpon pun ia merasa tidak enak, takut bila mana menganggu lelaki itu.
Duduk dengan gelisah di pinggir ranjang, bayangan Alana justru terlintas raut wajah bahagia Tisa bila mana ia tidak datang ke reuni itu. Perempuan itu pasti menganggap, jika dirinya kalah dan takut kalah saing.
Drt.. drt...
Ponsel miliknya bergetar, sebuah notifikasi pesan masuk.
[Alana, kau sudah sampai mana?] Sebuah pesan dari Fara semakin membuatnya gelisah.
[Acaranya sudah mau dimulai Alana] tulis Fara lagi.
“Aku harus gimana? Haruskah aku menelpon Dave, lalu menanyakan perihal janjinya?” keluh Alana, berdiri dari tempat duduknya, kemudian kembali duduk lagi. Ia berpikir dengan keras, hingga keputusannya membuat ia memilih untuk menghubungi Dave.
Tok! Tok!
Pintu kamar yang terketuk, membuat Alana mengurungkan niatnya. Ia beranjak membukakan pintu. Terkejut mendapati lelaki yang sejak tadi kehadirannya ia harapkan berada di depannya. Alana spontan memeluk lelaki itu. “Dave, kamu pulang?” tanyanya.
Dave membalasnya dengan mengusap rambut Alana. “Tentu saja!”
Alana yang tersadar segera mengurai dekapannya, “Emm.. ma–maaf.”
“Apa kau sudah bersiap?” tanya Dave menatap penampilan Alana penuh selidik.
“Bersiap?” ulang Alana dengan bingung. Mendadak daya tangkap otaknya berkurang.
__ADS_1
“Iya. Bukankah kita harus menghadiri acara reuni yang diadakan kampusmu?” tanya Dave. Seketika Alana tersadar dari niatnya sejak tadi.
“Kau mengingatnya Dave? Ku kira–”
“Aku bukan orang yang ingkar janji Alana. Percayakan semua padaku. Aku tunggu di bawah, kamu harus bersiap jangan lupa dandan yang cantik,” ujar Dave memotong ucapan Alana.
Alana mengangguk, menatap punggung Dave yang berlalu perlahan menghilang turun ke bawah tangga.
Alana mengigit bibir bawahnya. “Bagaimana bisa aku refleks memeluknya?” keluh Alana merutuki sikapnya yang terlalu agresif, seolah-olah ia begitu merindukan sosok lelaki itu.
🦋🦋
Mobil Lamborghini milik Dave tiba di loby hotel bintang lima. Tempat di mana reuni itu akan berlangsung. Setelah mobil berhenti di loby, Dave dan Alana keluar dari sana, sementara Zain berlalu memarkirkan mobilnya ke tempat parkiran VIP.
Alana menghela nafasnya berkali-kali.
Alana mengerucutkan bibirnya ke depan, lalu berdecak. “Apaan sih?”
Dave hanya tertawa dengan kecil, kemudian memberi kode pada Alana untuk merangkul mesra lengannya. Alana tersenyum menyambut niat baik suaminya.
Keduanya lantas masuk ke dalam. Reuni Akbar akan di langsungkan di roftop gedung ini, jadi keduanya memang membutuhkan lift untuk sampai sana.
Begitu lift terbuka keduanya lantas keluar. Waktu memang sudah mepet acara mungkin sudah mau dimulai. Kemungkinan besar teman-teman lainnya pun sudah tiba. Hanya Alana mungkin yang paling terakhir.
Drt.... Drttt....
Ponsel dalam saku Dave berdering. Melepaskan tautan tangan Alana, merogoh sakunya.
__ADS_1
“Dari Pak Risky. Aku angkat telpon dulu ya?” kata Dave izin pada istrinya.
Tersenyum, mengangkat telponnya sedikit menjauh dari Alana. Hingga sepuluh menit berlalu, Dave tak kunjung menyudahi panggilannya. Alana mendengar acara hampir dimulai. Akhirnya, ia memutuskan untuk masuk lebih dulu.
Begitu masuk ke acara, semua mata memandang ke arahnya. Gaun hitam sutra menjuntai cantik di tubuhnya, dipadukan dengan tas hitam kecil. Rambutnya di kepang ke belakang lalu di beri hiasan berwarna silver, sepasang anting berlian panjang tergantung di telinganya, membuat Alana terkesan begitu cantik, bak Cinderella malam itu.
“Tak ku sangka Alana memang begitu cantik.”
“Iya bodynya juga bagus. Nyesel gak tuh Edo mutusin dia.”
“Pasti nyesel, lihat saja tatapannya.”
Bisik-bisik teman-teman Alana terdengar. Namun, ia memilih tak peduli, meski dalam hati ia merasa gugup, lantaran suaminya juga tak kunjung menyusul.
Fara yang melihat Alana datang seorang diri pun berlalu dari depan kekasihya, membawa dua gelas minum menghampiri Alana.
“Alana?” sapa Fara.
“Hai?” sapanya balik.
Fara mengulurkan satu gelas minuman. “Minum dulu biar tidak gugup.”
“Terima kasih,” sahutnya seraya menerima minuman itu. Meneguknya secara pelan.
“Kau sangat cantik Alana. Gaunmu sangat bagus,” puji Fara seraya mengangkat gelasnya untuk mengajaknya bersulang.
Tisa menyunggingkan senyum sinisnya, begitu melihat Alana hanya datang seorang diri.
__ADS_1