
Dave menatap tubuh ringkih Alana dengan cemas. Sudah tiga jam yang lalu operasi pengangkatan peluru di bahu Alana selesai. Dan Alana pun sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP.
Jonas dan Gizka pun sudah keluar dari rumah sakit, setelah dirinya meminjam ponsel sang Ayah untuk menghubungi Zain tadi. Dave memang meminta mereka untuk pulang, karena merasa kehadiran mereka hanya memicu emosi dalam dirinya.
Dan kini, ia hanya sendiri di ruangan. Lelaki itu duduk dengan cemas di sisi tubuh istrinya yang terbaring di atas ranjang. Tampak jarum infus menancap di pergelangan tangannya, juga selang oksigen pun terpasang di area Indra pernafasan.
Dokter mengatakan keadaan Alana tak terlampau parah. Perempuan itu telah berhasil melewati masa kritisnya. Hanya tinggal menunggu ia membuka kedua matanya. Namun, sudah beberapa jam Alana tak kunjung membuka matanya. Hal itu membuat Dave semakin merasa cemas. Perasaan bersalah menyusup relung hatinya, mana kala mengingat insiden tadi. Tak ia duga niatnya mengajak Alana pulang, justru membuat perempuan itu nyaris meregang nyawanya, dan demi melindungi dirinya. Padahal sejak keluar dari area restoran itu Alana sudah merengek ingin menginap. Sesal yang kini Dave rasa. Mengapa ia tak menuruti saja keinginan Alana saat itu. Jika seandainya ia menuruti Alana, pasti insiden ini tidak akan terjadi.
Namun, apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur. Bukankah setiap kejadian sudah ada jalan takdirnya sendiri.
“Kenapa kau betah sekali tidur?” tanya Dave lirih. Tangannya mengusap wajah perempuan itu. “Maaf, aku gagal melindungimu. Tetapi, justru kau yang melindungiku. Kenapa kau lakukan ini, Alana?” sambungnya.
Dave bahkan sama sekali belum mengganti pakaiannya, yang masih bersimbah darah. Ia tidak sedikitpun beranjak dari sisi Alana. Tangannya menggenggam salah satu tangan Alana.
Beberapa saat kemudian, Alana mengerjapkan kedua matanya. Dave merasakannya, sontak rasa ngantuk yang tadi sempat mengerjap langsung sirna.
“Alana?” seru Dave terkejut sekaligus merasa senang. Ia langsung menekan tombol di sisi tempat tidur Alana untuk memanggil dokter.
Alana masih setia menyapu ruangan asing itu, hingga dokter tiba dan memeriksa kondisinya. “Cukup baik. Saya akui anda sangat kuat Nona. Saya bahkan sempat berfikir anda bisa koma. Karena anda sempat kritis saat kami tengah melakukan operasi pengangkatan peluru. Tapi, ternyata setelah semua selesai, anda berhasil melewati masa itu. Ini hanya tinggal menunggu masa pemulihan, dan beberapa kali untuk kontrol jahitan. Karena mungkin anda akan sedikit susah dalam menggerakkan tangan kanan anda,” terang Dokter.
Alana hanya mengedipkan matanya. “Terima kasih, Dokter.”
“Sama-sama. Setelah ini akan ada jatah makan, saya minta segera diminum obatnya, agar lukanya cepat mengering.”
__ADS_1
“Iya Dok.”
“Kalau begitu kami permisi.” Dokter dan asistennya itu pun berlalu pergi.
Sepeninggal mereka, Dave menatap ke arah Alana. Lelaki itu langsung beringsut memeluk Alana. “Terima kasih, masih bertahan.”
Tubuh Alana menegang ketika Dave memeluknya, ada sedikit rasa haru menyeruak, ia merasa senang. Bolehkah ia membalas pelukan itu. Namun, tiba-tiba saat ia mencoba menggerakkan tangannya, ia meringis sakit.
“Aww...”
Dave langsung menarik kembali tubuhnya, menatap Alana dengan pandangan bersalah. “Maaf. Kemungkinan lukanya ketekan ya?”
“Tidak apa-apa.” Alana menggeleng sebagai jawaban.
Alana tersenyum tipis. “Apakah kau mengkhawatirkanku?”
“Kau bicara apa? Tentu saja aku sangat khawatir. Aku merasa nafasku hampir berhenti. Apalagi dokter sempat mengatakan kau kritis.”
Alana tersenyum senang mendengarnya. Hanya dengan mendengar Dave mengkhawatirkan dirinya dia bisa sesenang itu. Benar cinta itu memang buta, Alana bahkan tidak bisa mengerti, mengapa ia nekat melindungi Dave dengan tubuhnya. “Itu kecelakaan Dave. Tidak apa, aku tidak akan mungkin mati semudah itu. Tapi terima kasih sudah mengkhawatirkanku,” ujar Alana.
“Aku yang berterima kasih, Alana.” Dave menghela nafasnya, Alana hanya mengangguk tersenyum tipis. “Kenapa kau lakukan itu Alana?” sambungnya bertanya.
“Tentu saja karena aku men....”
__ADS_1
Tok! Tok!
“Tuan ini saya!” suara Zain terdengar dari balik pintu. Mengalihkan pandangan keduanya.
“Aku buka pintu dulu.” Dave beranjak dari tempat duduknya, membukakan pintu untuk Zain.
Alana mengigit bibir bawahnya, merasakan gundah dalam hatinya.
Tidak Alana. Jangan katakan apapun. Dave tidak perlu mengetahui perasaanmu.
Zain masuk dengan membawa paper bag.
“Aku mandi dan ganti pakaian dulu ya Alana. Nanti kita teruskan obrolan yang tadi.” Dave berlalu ke kamar mandi. Sementara Zain berjalan menghampiri dirinya, Alana.
“Bagaimana keadaan anda, Nona?” tanya Zain.
Alana tersenyum tipis. ” Sudah lebih baik. Kau dari mana?” tanyanya.
“Menyelesaikan sesuatu, Nona.”
Tok! Tok!
Pintu kembali terketuk dari luar, seorang suster mengantarkan makanan dan obat-obatan untuk Alana.
__ADS_1