
Mobil mercy yang dikemudikan Zain tiba di sebuah bengkel sedang yang bernama BENGKEL BAIK ANDI.
“Kamu yakin ini tempatnya Zain?” tanya Dave.
“Iya Tuan!”
“Baiklah kita keluar. Tidak ada salahnya kita mencoba.” Dave melangkah keluar berjalan menuju sahabat istrinya itu.
Sementara itu, Silvi yang tengah menikmati satu gelas jus minumnya terkejut. Ia memang sudah sering berada di bengkel sahabatnya itu. Lalu, Andi yang tengah mengotak-atik mesin mobil pun masih tidak menyadari kehadiran Dave. Hingga tepukan di pundaknya membuat ia terlonjak. “Ada tamu tuh!”
“Siapa?”
“Tuh!” tunjuk teman sekaligus karyawannya.
Andi menoleh lalu mengerutkan keningnya mendapati suami sahabatnya itu mendatangi bengkelnya. Ia langsung beranjak mencuci tangannya lebih dulu sebelum menghampiri Dave.
“Wahh. Ada apa gerangan seorang Direktur dari PT Dirgantara Karya mendatangi tempat kumuh seorang gembel seperti kami?” tanya Andi tiba-tiba.
Zain melototkan kedua matanya saya mendengar sambutan nyeleneh dari sahabat Alana itu. Ingin maju namun secepat itu Dave mencegahnya. “Kamu yang namanya Andi?” tanya Dave pelan. Seperti biasa, Dave bukan tipikal lelaki yang akan menggunakan ototnya saat menyelesaikan masalah.
__ADS_1
“Iya, Andi Saputra. Ini ada apa ya Tuan?”
“Aku ingin bertanya tentang Alana.”
“Alana?” ulang Andi dengan bingung. “Kenapa menanyakan istri anda sendiri pada saya?” sambungnya bingung bahkan wajahnya tampak terkejut, seolah-olah ia pun tidak tahu apa-apa soal Alana.
“Kau tahu kan tentang perjanjian pernikahan kami. Dan hari ini pernikahan kami tepat satu tahun. Semalam dia pergi, apakah kamu yang membantunya? Kalau memang iya, tolong beri tahu aku di mana keberadaannya?”
“Jika memang seperti itu ceritanya. Untuk apa anda mencarinya lagi, Tuan. Bukankah semua sudah berakhir sesuai perjanjian. Antara anda dan Alana kembali menjadi orang asing.”
“Tidak bisa. Ku mohon beri tahu aku jika kau memang mengetahuinya.”
Andi berdecih. “Aku tidak tahu. Dan lagi juga untuk apa, jika anda bertemu dengannya lagi. Bukankah nasib Alana akan sama, kalian para orang kaya hanya bisa memanfaatkan orang-orang seperti kami. Aku kasihan melihatnya, jadi ku pikir biarkan saja dia pergi.”
“Tidak seperti itu. Aku tidak memanfaatkannya, aku sungguh mencintainya. Aku ingin menebus...”
“Aku mengerti. Hanya pria bodoh saja jika berdekatan dengan Alana tidak mencintainya. Tapi, sungguh aku sama sekali tidak tahu di mana Alana. Bahkan saya tau Alana pergi, ya saat anda datang kemari ini,” ucap Andi serius.
“Kamu...”
__ADS_1
“Saya berani bersumpah. Kemarin Alana memang menelpon saya, untuk menjemputnya pada hari ini tapi di sore hari. Bukan pagi-pagi buta, apalagi dinihari. Dia bilang dia ingin merayakan perpisahan pernikahannya dengan anda secara baik-baik.” Andi menjelaskan degan wajah serius. Lalu ia melihat Silvi datang menghampiri dirinya. “Jika anda tidak percaya. Tanyakan saja pada Silvi,” sambungnya Andi menoleh sahabatnya itu.
Sesaat Dave mengalihkan pandangannya ke arah Silvi. Zain pun juga melakukan hal yang sama, mengamati gerak-gerik sahabat Alana itu.
“Iya Tuan. Apa yang Andi katakan itu benar. Dan saya pikir kedatangan anda itu untuk mengantar sahabat saya. Bukankah setelah pernikahan kalian berakhir, anda akan menikah dengan kekasih anda. Lantas mengapa setelah Alana pergi anda mencarinya? Berlagak sok kehilangan? Harusnya anda bisa bahagia kan, sudah menyakiti perasaan sahabat saya. Anda sudah memanfaatkan kerapuhannya. Hanya dengan iming-iming kemewahan. Anda tidak tahu kan bagaimana rasanya dada saya begitu terasa sesak. Setiap kali Alana datang, dia menangis menceritakan tentang anda. Dan bodohnya Alana, dia selalu mengatakan ‘Aku mencintainya. Tidak apa, asal bisa melihat wajahnya aku sudah bahagia’.”
Dave terkesiap mendengarnya.
“Vi?” tegur Andi.
Silvi menggeleng, baginya ini kesempatan yang bagus untuk mengeluarkan sesuatu yang berada dalam benak hatinya.
“Dan lucunya setelah dia pergi. Anda baru mencarinya, dengan mengatasnamakan cinta.“ Silvi berdecih memandang kedua pria di depannya dengan raut wajah tak suka. “Jangan katakan tentang cinta, Tuan? Jika anda saja tidak mengerti, hakikat pernikahan sesungguhnya,” sambung Silvi memukul telak dada Dave.
Andi langsung menyeret sahabatnya, lalu meminta Dave dan Zain untuk pergi. Setelah mengucapkan terima kasih keduanya pun meninggalkan bengkel Andi.
“Kau yakin Alana tidak menghubungimu, An?” tanya Silvi setelah kepergian Dave.
Andi menggeleng. “Sama sekali tidak. Kau sendiri?”
__ADS_1
Silvi juga menggeleng.
“Ke mana dia pergi?” kata keduanya bebarengan dengan wajah bingung.