Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Side Story – Ngidammu Tak Masuk Akal, Alana!


__ADS_3

Dengan gaun berwarna putih sebatas lutut Silvi turun taksi dengan membawa kotak kado tak lupa tas selempang miliknya. Hari ini adalah hari ulang tahun Gala, dan ia baru saja bisa datang. Seharusnya undangannya pada pukul satu siang, namun ini sudah pukul empat sore dan dia baru tiba di kediaman Dave. Terlihat sekali jika pesta ulang tahun sudah bubar dan hanya tinggal keluarga besar Dave yang tengah berkumpul.


Silvi mengigit bibir bawahnya, ada perasaan insecure setiap kali ia datang ke kediaman sahabatnya, yang notabennya adalah seorang istri konglomerat, sedangkan dirinya hanyalah seorang pelayan bar. Di depan pintu ia menarik nafasnya berkali-kali, berusaha mengesampingkan kegugupannya. Demi Gala dan Alana? Ya, ia datang demi Gala dan Alana. Jika ia tidak datang kedua orang itu pasti akan merasa kecewa.


Silvi memijat keningnya, kemudian membuka matanya, lalu matanya terbelalak ketika mendapati seorang pria tampan berdiri menjulang di hadapannya, sepasang mata yang menatap tajam ke arahnya.


“Astaga!” pekiknya sambil mengusap dadanya.


“Kenapa?” tanya Zain dengan tatapan tajam.


Silvi menggeleng. “Oh tidak! Aku hanya terkejut. Maaf Tuan.”


“Maksudku adalah kenapa baru datang?” tanya Zain.


Silvi melototkan kedua matanya, mendengar pertanyaan Zain. Baru kali ini ia mendengar lelaki itu berkata lebih banyak.


“Maksudku, karena Nyonya Alana dan Tuan kecil sudah menanyakan dirimu sejak tadi!” ralat Zain kemudian.


Silvi menelan ludahnya, seketika rasa gugup menyergap. “A–aku tadi....”


“Urusanmu tidak penting. Masuklah, Nyonya Alana dan Tuan kecil sudah menunggumu sejak tadi!” kata Zain mengakhiri pembicaraan kemudian berlalu pergi ke area samping, melewati tubuh Silvi yang terdiam kaku.


Usai kepergian Zain, ia pun masuk ke dalam.


“Bibi?” panggil Gala. Anak kecil dengan stelan jas yang membalut tubuhnya itu berlari ke arahnya.


“Hap!” Silvi menangkapnya dan menggendongnya. “Selamat sore, ponakan Bibi yang tersayang?”

__ADS_1


“Sore juga Bibi. Kenapa baru datang?” tanya Gala dengan wajah ingin tahu.


“Maaf, Bibi soalnya tadi ada urusan!” sesalnya.


”Oke! Tetapi, di mana Paman Andi?” tanya Gala menanyakan salah satu sahabat Ibunya yang tak datang.


“Paman tidak bisa datang soalnya kan lagi di luar kota!”


Terlihat Gala merenggut kecewa. Kalau sedang seperti itu expresi wajahnya mirip sekali dengan Alana. Namun, saat tengah tersenyum seperti Dave. Benar-benar Gala itu perpaduan orang tuanya.


“Bibi punya kado untuk Gala? Selamat ulang tahun ponakan Bibi.” Satu kecupan mendarat di pipi Gala.


“Terima kasih, Bibi!”


Suara langkah dentuman sandal dan lantai marmer terdengar mendekat. “Sayang, jangan lari ingat kamu itu lagi hamil!” tegur Dave saat Alana mempercepat langkahnya mengejar Gala yang tiba-tiba keluar.


Dave melongo, dan kesempatan itu Alana gunakan untuk melangkah menjauh meninggalkannya.


“Kenapa baru datang?” tanya Alana pada Silvi. Gala turun dari gendongan dengan membawa kado yang diberikan Silvi tadi. Dan berlari ke arah Dave yang tengah berjalan ke arahnya. “Papi aku ke main sama Nesya dulu ya,” pamitnya.


“Oke.” Dave melangkah mendekati istrinya. Silvi yang melihatnya mengangguk sungkan. “Sore Tuan!”


Dave hanya tersenyum mengangguk.


“Maaf Alana. Aku tadi ada urusan yang tak bisa diwakilkan!” sesal Silvi.


Alana tersenyum memeluk sahabatnya. “Iya tidak masalah.”

__ADS_1


“Apa kabarmu?” Silvi mengusap perutnya sahabatnya.


“Baik.”


Silvi membungkuk di depan perut buncit Alana. “Hallo jagoan, Mamimu terlihat pucat. Apa kau sering sekali rewel?” sambungnya karena anak dalam kandungan Alana memang berjenis kelamin laki-laki.


“Masih suka mual kalau pagi.” Alana mengusap kandungannya yang memasuki bulan ke tujuh itu. “Kau tahu kenapa bisa begitu?”


Silvi menggelengkan kepalanya tak mengerti.


“Karena ngidamku belum keturutan, makanya aku masih suka mual-mual. Iya kan sayang?” kata Alana menoleh ke arah suaminya.


Silvi menyentak nafasnya, sementara Dave melongo.


“Ngidammu yang tak masuk akal Alana,” keluh Silvi langsung berubah masam.


Alana menggiring sahabatnya itu untuk duduk di salah satu kursi, sementara Dave berpamitan untuk kembali masuk menuju keluarga besarnya berada.


“Aku hanya ingin kamu menikah? Masa gak masuk akal sih!” protes Alana.


“Ya Tuhan aku gak punya pasangan, dan kamu memintaku nikah sama Zain, lelaki yang irit bicara itu!” dengus Silvi frustasi. Jangankan berdekatan, mau menyapa saja Silvi sudah merasa merinding.


“Tapi dia tampan kan!”


”Tampan!” ceplos Silvi lalu terkejut, mendapati Alana terkikik. “Maksudku karena dia laki-laki makanya tampan,” ralat Silvi dengan wajah merona, mana kala otaknya kembali mengingat tentang ciuman pertamanya di mall waktu itu.


“Hemm begitu, ya sudah ayo kita masuk ke halaman samping. Keluargaku ada di sana semua,” ajak Alana.

__ADS_1


Aku harus melakukan cara agar Zain dan Silvi bisa berdekatan.


__ADS_2