
Zain merasa kedatangannya ke sana tidak tepat pada waktunya. Kehadirannya justru menganggu momen mereka. Ia merutuki diri, kenapa ia tidak keluar saja sejak tadi. Malah enak-enakan duduk di sofa memandang adegan live. Jujur saja sebenarnya hanya merasa lelah, makanya ia lebih memilih diam.
“Maaf Tuan, Nona. Gak tahu kenapa tiba-tiba tenggorokan saya gatal,” terang Zain salah tingkah ketika pasangan itu menoleh ke arahnya secara bersamaan.
“Ya tadi hidung, sekarang tenggorokan, nanti lama-lama semua anggota tubuhmu gatal-gatal,” cibir Dave membuat Zain dan Alana tergelak. Zain bahkan sampai menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Sepertinya saya perlu kopi. Saya permisi ke cafe depan dulu, Tuan.” Zain memilih beranjak dari tempat duduknya.
“Ya. Nanti sekalian kalau kembali bawakan aku satu gelas kopi, dan jangan lupa belikan buah untuk Alana,” pinta Dave.
“Baik Tuan!”
Sepeninggal Zain. Dave kembali menoleh ke arah istrinya. Alana tampak tengah mencoba menelan butiran obat yang tadi Dave beri. Meski terasa susah untuk menelan, rasanya bahkan ia hampir muntah.
“Minumnya.” Dave mengambilkan minum. Alana meneguknya pelan, setelah di rasa obatnya sudah masuk. Perempuan itu berkali-kali menjulurkan lidahnya, ketika merasakan pahit pada lidahnya. Membuat Dave tertawa kecil.
“Kau ngantuk?” tanya Dave.
__ADS_1
Alana menghela nafasnya, lalu menggeleng. “Aku bahkan baru membuka mataku.”
“Oke kalau gitu aku akan temani kamu ngobrol.”
Alana tersenyum tipis. “Dave, kapan kita pulang?” tanyanya.
“Tunggu kamu sembuh dulu. Baru kita pulang.”
“Lalu pekerjaanmu?”
“Tapi, bagaimana kalau ada pertemuan klien di Jakarta?” tanya Alana.
“Tenanglah ada Zain yang bisa mengaturnya!”
“Kalau kau kebanyakan mengandalkan Zain. Bisa-bisa dia jadi jomblo abadi!” celetuk Alana.
Dave terkekeh pelan mendengar ucapan Alana. “ Itu bukan hal yang penting... Aku lega Alana. Kamu sudah sadar, kamu selamat. Jika saja kau tak kunjung sadar, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku.”
__ADS_1
“Memangnya kenapa Dave?” tanya Alana heran sekaligus penasaran.
“Aku pasti akan merasa sangat bersalah. Dan sekarang aku merasa berhutang nyawa padamu. Jadi, kalau kau menginginkan sesuatu katakan saja.”
Alana tersenyum masam. Dulu sebelum menikah dengan Dave. Dia memang menganggap materi sangat penting, tetapi setelah kini ia bisa dapatkan semuanya, apalagi yang ia inginkan. Alana pikir setelah putus dari Edo, hatinya akan mati. Namun, siapa sangka jika kini cintanya kembali tumbuh pada lelaki di hadapannya ini. “Saat ini tidak ada yang aku inginkan, Dave.”
Alana memilih berdusta. Barangkali jika ia jujur pun tidak akan ada gunanya. Aturan tetap sudah tertulis dalam kertas tak akan mengubah keadaan apapun.
“Kenapa kau membahayakan dirimu, demi aku Alana?” Dave memegang telapak tangan Alana yang tampak pucat. Alana terkesiap, merasakan aliran hangat dalam genggaman tangan Dave. “Seharusnya kau biarkan saja aku yang tertembak,” sambungnya.
Alana menarik tangannya dari genggaman Dave. Lalu berdecak, “Dave sudahlah. Kenapa kau membahasnya lagi.”
“Tapi, Alana...”
“Aku tidak mungkin membiarkan kamu terluka. Kau itu seorang pemimpin besar. Coba saja kau bayangkan jika kau sampai sakit, atau terluka bagaimana nasib ratusan karyawanmu,” omel Alana seraya membuang muka. “Sudahlah Dave. Aku tiba-tiba merasa ngantuk,” sambungnya.
“Ya sudah kamu istirahat,” ujar Dave membantu Alana berbaring. Tak lupa ia menaikkan selimut istrinya. Alana langsung berpura-pura untuk terpejam. Dave memilih ke sofa.
__ADS_1