
Tiga hari kemudian
Setelah kondisi Ibu Ratmi dan Papa Jonas membaik. Dokter sudah memperbolehkan mereka pulang. Jonas juga sudah menemui Ibu Ratmi meminta maaf atas kesalahannya.
Malam Senin pukul delapan malam, mobil Ranger Rover yang membawa rombongan keluarga kecil Dave sudah masuk pintu gerbang dan berhenti tepat di pintu masuk utama. Mereka keluar dari mobil, kedatangannya sudah disambut oleh pelayan.
“Salma, antarkan Ibu ke kamarnya ya,” titah Dave.
“Baik Tuan!”
Sementara Dave menggendong Gala yang sudah tertidur. “Ayo sayang.”
“Aku bisa jalan sendiri, Dave.” Alana menolak ketika sang suami berniat menggandengnya. Dave terkekeh kecil benar-benar lima tahun tidak bertemu istrinya itu menjelma menjadi perempuan yang galak.
__ADS_1
Dave menidurkan Gala di ranjang, lalu menyelimutinya. Alana masih berdiri di sisinya menatap sekeliling kamar putranya.
“Ayo.” Alana tersentak mana kala tangan sang suami kini merengkuh pinggangnya.
“Eh... Ke mana?” tanyanya polos.
“Kamar,” bisik Dave yang entah kemana membuat tubuh Alana meremang. Namun, tak urung ia pun menurut kala sang suami menggandengnya keluar menutup pintu kamar putranya, kemudian berjalan menuju kamar yang memang sejak dulu di tempati Dave. Di depan pintu Alana kembali menoleh ke arah suaminya, ia meringis membuat Dave mengangkat kedua alisnya.
“Kenapa?”
“Udah ayo masuk.” Dave langsung membuka pintu menggiring istrinya masuk. Sedikit takjub ketika melihat dalamnya. Hingga tak sadar Alana tersenyum melenggang masuk menatap ke arah jendela kaca yang belum tertutup. Dave menutup pintu tak lupa menguncinya. Ia khawatir jika tiba-tiba putranya masuk sedangkan ia tengah membutuhkan waktu berdua.
Dave langsung memeluk istrinya dari belakang, membuat Alana tersentak. Namun, secepat itu kesadarannya pulih.
__ADS_1
“Dave?” desis Alana.
Dave menyibakkan rambut istrinya yang terurai, lalu mengecup tengkuknya. Hal itu membuat Alana merasa gugup, nafasnya terasa tercekat. “Kenapa? Deg-degan ya?” bisik lelaki itu sambil menggigit telinganya secara sen su al.
“Dave... Aah!” Alana terengah merutuki dirinya yang gampang sekali men de sah, padahal sang suami hanya baru memulai.
“Boleh kan?” pintanya dengan suara parau Dave meminta ijin pada istrinya. Memang ini adalah hal yang kedua. Namun, tetap saja seperti yang pertama. Dulu Dave melakukannya dalam pengaruh obat, sedangkan kali ini sepenuhnya ia sadar jika menginginkan Alana.
Tanpa di sangka Alana berbalik, lalu mengecup bibir suaminya sebagai jawaban. Dave tersenyum, tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung menangkap kedua sisi wajah istrinya, lalu menyatukan kembali bibir keduanya. Tak hanya sekedar bersentuhan namun ia juga menghisapnya dan juga lidahnya menari bersama.
Tangannya meraba bagian belakang istrinya, kemudian menarik resleting dress Alana. Hingga membuat dress itu teronggok ke lantai begitu saja. Alana merasa malu nyaris dalam keadaan polos di depan suaminya. Namun, ia sadar jika suaminya pun sangat menginginkannya. Masih bagus lima tahun Dave sama sekali bisa tahan tidak menjamah tubuh perempuan lain.
Sementara ciumannya terus berlangsung, kedua tangan mereka terus bekerja melepaskan pakaian yang menempel di tubuhnya masing-masing, hingga kini keduanya sama-sama dalam keadaan polos. Tubuh mereka nyaris berada di pinggir ranjang.
__ADS_1
“Biar aku yang memulai,” kata Alana membuat Dave terkejut. Ia pikir istrinya itu akan malu-malu saat dirinya menyentuhnya.
Di tengah rasa terkejutnya, tubuh Dave di dorong oleh istrinya ke atas ranjang. Sebenarnya tubuh Dave jauh lebih besar dari Alana. Jika dalam keadaan normal tentu saja ia tidak akan jatuh hanya di dorong oleh Alana. Namun, karena kini keadaannya berbeda, Dave pura-pura lemah saja di depan istrinya.