Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Papa Mertua


__ADS_3

Keesokan harinya, Alana tengah menemani Dava sarapan. Sesekali perempuan itu mencuri pandang dengan Dave.


“Hari ini kamu ada acara, Alana?” tanya Dave.


“Aku mau ke rumah sakit jenguk ibu. Sekalian mampir ke rumah Silvi."


Dave mengangguk. “Baiklah. Apa kau sudah mahir menyetir?” tanya Dave yang mengingat beberapa hari ini istrinya tengah belajar menyetir mobil.


Alana menggeleng. “Aku masih takut karena beberapa kali aku hampir menabrak orang.”


Dave tertawa. “Padahal aku meminta orang khusus yang sudah ahli lho.”


Alana meletakkan sendok dan garpunya di atas piring. Menyentak nafasnya. “Mungkin aku saja yang bo–”


“Tidak Alana. Selagi kamu mau berusaha kau pasti bisa. Ku pikir kau hanya perlu lebih giat. Jika saja aku tidak sibuk, aku sendiri yang akan mengajarimu,” sela Dave, karena ia tidak ingin Alana menyebut dirinya bodoh. Menurutnya tidak ada seseorang yang benar-benar bodoh, selagi ia mau berusaha, dan ia tidak ingin Alana menyebut dirinya sendiri.

__ADS_1


“Bisa jadi!”


“Ya sudah aku berangkat ke kantor ya. Kamu selamat bersenang-senang.” Dave beranjak dari tempat duduknya.


“Boleh aku mengantarmu?” tanya Alana membuat Dave menoleh ke arah perempuan itu. “Maksudku mengantar ke depan,” sambungnya.


“Oh oke. Aku pikir mengantar ke kantor.”


“Aku masih ingin hidup, Dave.” Alana mencebik, membuat Dave tertawa. Keduanya beriringan jalan keluar. Di depan sudah ada Zain yang menunggunya di sisi pintu mobil yang terbuka.


Panas terik matahari yang menyengat. Membuat tenggorokan Alana merasa kering. Usai menjenguk ibunya, Alana memilih untuk meminta sopir berhenti tepat di depan restoran bintang lima. Ia mengurungkan niatnya untuk menemui Silvi ke rumahannya. Keduanya berjanjian akan makan bersama di restoran itu.


Seorang pelayan menyambut kedatangannya, menggiringnya ke salah satu meja bulat. Sementara menunggu sahabatnya, Alana meminta pelayan untuk membawakan satu gelas jus jeruk.


Alana memandang sebuah meja berbentuk persegi panjang. Tak disangka ia tersenyum, mana kala mengingat kenangan manis yang tercipta di sana. Ingatan Alana tertuju pada saat Dave menggiringnya ke sana, lalu memperkenalkan pada Pak Risky sebagai istrinya. Ya, saat ini dirinya memang tengah berada di restoran tempat di mana dulu Dave melakukan meeting negoisasi kerja sama dengan Pak Risky.

__ADS_1


Alana memandang pergelangan tangannya yang tampak memerah, bahkan terdapat luka cakaran di sana. Ini memang perih, tapi lebih perih hatinya. Sesaat ia merasa seperti hidup sebatang kara. Alana mempunyai ibu, namun seperti hidup sendiri. Waktu pengobatan ibunya bahkan sudah berjalan enam bulan, tapi belum juga ada perubahan. Alana merasa sedih, apakah usahanya akan sia-sia. Alana hanya ingin mental ibunya kembali seperti dulu. Ia sengaja datang lalu mencoba menceritakan kehidupan sebelum perempuan itu depresi, tapi yang terjadi ibunya justru kembali mengamuk.


Seorang pelayan datang membuat lamunan Alana buyar. Alana menarik gelas jus itu, menyesap menggunakan sedotan di sana. Kemudian ia mengambil ponselnya. Memeriksa pesan dari Silvi. Tampak dirinya mengetik sesuatu di sana, lalu mengirimkannya.


“Alana?” tegur seorang lelaki setengah baya, membuat Alana mengangkat wajahnya.


“Papa?” sahutnya lirih. Kedua matanya membeliak terkejut, kala melihat Papa mertuanya tiba-tiba menghampirinya. Ia merasakan sesuatu yang tak enak mengusik hatinya. Namun, Alana tetap berusaha menghormati Jonas – Papa mertuanya itu. Alana beranjak mengulurkan tangannya, hendak mengalaminya. Namun, yang terjadi Jonas justru menyembunyikan tangannya. Hal itu memang Alana menghela nafas kecewa, dan harus sadar diri.


.


.


.


.

__ADS_1


Udah pastikan tekan tombol like kan. Kalau belum balik lagi ya. hehee


__ADS_2