
Alana memandang gedung yang menjulang tinggi di depannya dengan pendangan takjub.
PT. Dirgantara Karya. Tbk
Nama perusahaan itu terpampang besar di sana. Alana mengernyit heran merasa nama itu tidak cukup asing baginya. Bahkan berkali-kali ia membolak-balik alamat yang diberikan oleh managernya. Ia tidak mungkin salah mendatangi perusahaan kan. Tidak mau salah menduga, Alana berjalan masuk setelah mengeluarkan id card miliknya pada satpam.
Pagi ini ia akan mulai bekerja di sana sebagai seorang pegawai administrasi. Kemarin managernya memanggil dirinya, hanya untuk mengatakan bahwa ia di pindahkan ke kantor pusat. Entah Alana harus merasa senang atau bagaimana? Karena jarak dari rumah Dave ke tempatnya bekerja sangatlah dekat, berbeda dari kantor cabang sebelumnya.
Dirgantara? Alana mengernyit heran, kenapa nama perusahaan ini sama dengan nama belakang sang suami. Atau jangan-jangan ini adalah perusahaan milik Dave. Alana mendesah resah, bagaimana mungkin ia bisa tidak tahu apa-apa tentang suaminya. Bahkan ia memiliki cukup banyak waktu untuk membuka obrolan dengan lelaki itu. Di saat Alana tengah sibuk dengan praduganya, seseorang menepuk pundaknya.
"Kamu yang namanya Alana? Pindahan dari kantar cabang?" tanya seorang perempuan dengan nama tag yang tersemat di pakaiannya Nana.
"I-iya Nona."
"Namaku Nana. Panggil saja Nana, aku sekretaris Direktur. Kebetulan kemarin direktur sendiri yang meminta kamu untuk merekrut kesini. Jadi, ayo aku antar kamu ke ruang kerjamu," seru Nana.
****
PT. Dirgantara Karya. Tbk adalah sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang kontraktor bonafit. Saat ini mereka tengah membangun tujuh gedung apartemen dengan masing-masing memiliki tiga puluh satu lantai, yang diberi nama Green Peace.
Hari pertama kerja di kantor baru Alana memang sengaja datang lebih pagi. Kini Alana baru kembali dari toilet melewati sebuah lorong, di luar hujan deras tampak mengguyur bumi. Alana melihat dua orang perempuan yang memandang ke arah atas.
"Ada apa ini?" tanya Alana.
__ADS_1
"Lampu lorong ini mati, dan sebentar lagi Direktur akan datang. Jika, keadaan lorong ini gelap pasti Direktur akan sangat marah!" ucap Risa yang merupakan rekan kerjanya baru di tempat itu.
"Kenapa tidak memanggil teknisi atau OB saja," saran Alana.
"Oh ayolah Alana. Kita saat ini berada dalam gedung yang berbeda. Sedangkan di luar hujan begitu deras, bagaimana mungkin kita memanggil mereka, lagian beberapa menit lagi Direktur akan datang waktu tidak akan cukup," jelas Risa.
Alana memandang lampu di atas kepalanya, otaknya tengah mengira-ngira jarak lampu dan lantai. Ia pikir ia harus memperbaikinya, toh dia hanya seorang pegawai biasa, rasanya tidak terlalu memusingkan soal penjualan, ia tidak akan rugi uang dari Dave lebih dari cukup.
"Ada tangga gak di gudang?" tanya Alana.
"Ada," sahut Moni.
"Ambilin ya. Biar aku aja yang benerin!"
Alana mengangguk. "Ya. Sana buruan ambil!"
Beberapa saat kemudian, Risa datang membawa tangga. Alana memasang tangga itu di bawah lampu. Kemudian perlahan menaikinya, beruntunglah ia lebih suka bekerja menggunakan celana bahan panjang, jadi ia bisa lebih leluasa bergerak.
"Risa ini mah bohlamnya yang mati!" teriak Alana di atas.
"Aku copot dulu lampunya ya. Kamu ambil aja lampu yang baru di bawah wastafel," ujar Alana.
"Iya!" sahut Risa seraya berlalu pergi. Alana berdiri menunggunya di tangga.
__ADS_1
"Aduh Al. Perutku kok tiba-tiba melilit ya," keluh Moni seraya memegangi perutnya.
Alana menghela nafasnya. "Mau ke kamar mandi?" tawar Alana.
Moni mengangguk.
"Pergilah!"
"Tapi, Risa bahkan belum datang," ujar Moni seraya meringis.
"Aku bisa menunggunya, tidak masalah. Kamu pergilah."
"Iya. Maaf ya Al," cicit Moni dengan wajah tak enak. Ia pun bergegas pergi.
Sementara menunggu temannya, Alana masih berdiam diri berdiri di tangga. Tidak memperdulikan serombongan laki-laki yang berjalan dari arah lobi kantor. Alana justru menatap curah hujan deras di luar.
Seorang laki-laki tampan mengenakan jas navy, berjalan paling depan dengan tas hitam di tangannya, menghentikan langkah kakinya saat ada tangga lipat yang terbentang di tengah jalan. Gemuruh hujan menyamarkan langkah kakinya, membuat Alana sama sekali tidak mendengar.
Sementara, tiga orang laki-laki yang mendampinginya terlihat kebingungan melihatnya terdiam di bawah tangga. Mulutnya terbuka secelah ingin mengatakan sesuatu, tatkala melihat Alana justru berdiri santai di anak tangga dengan wajah menghadap jendela kaca dan asyik memperhatikan curah hujan.
Risa datang tergopoh-gopoh. Namun, langsung menghentikan langkah kakinya saat melihat sosok laki-laki yang berdiri di sisi tangga. Lelaki berjas navy itu mengulurkan tangannya, meminta bohlam di tangan Risa, tanpa mengucapkan sebuah kata. Bahkan ia juga memberi tanda pada Risa untuk memanggil Alana. Perempuan itu menelan ludahnya gugup lalu berkata, "Alana... I-ini bohlamnya."
"Lama amat! Kamu yang naik atau aku yang turun?" Alana menunduk dan seketika wajahnya terperangah saat melihat ada banyak orang di bawahnya. "Dave?" desisnya kaget.
__ADS_1