Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Side Story– Sekarang Gak Suka


__ADS_3

Jika saja, sajak mampu menarik mata, menyejukkan telinga dan menggetarkan hati. Maka ia serupa dengan kamu.


Zain Prasaja.


💞


Kebingungan semakin melanda dalam otak Silvi mana kala lelaki itu menarik tangan masuk ke dalam butik mewah. Namun, belum sempat ia bertanya perihal tujuan Zain membawanya datang kesana. Ia sudah dikejutkan dengan ucapan lelaki itu pada salah satu pegawai butik.


“Nona, tolong pilihkan pakaian, sepatu, dan aksesoris lainnya yang cocok dengan calon istri saya ya,” ucap Zain dengan wajah datar.


“Zain!” Silvi melotot protes. Lagi-lagi seenak jidatnya laki-laki itu kembali mengklaim dirinya calon istrinya.


“Diam!” Dia meletakkan telapak tangannya di mulut Silvi membuat gadis itu merasa kesal. Dan diam-diam para pegawai butik di sana menawan tawanya. Mungkin saja mereka berpikir jika pasangan itu tidak ada romantisnya. Silvi yang merasa kesal karena mulutnya dibekap, langsung dengan cepat menggigit telapak tangan Zain.


“Ishh!” Zain mendesis merasa sakit akibat gigitan Silvi. Sementara Silvi mengusap bibirnya, tersenyum pada lelaki itu dengan mengejek. Membuat Zain menarik nafas panjang, seolah-olah tengah mengingatkan dirinya untuk sabar.


“Mari Nona.” Pegawai itu mengajak Silvi untuk mencoba beberapa gaun.


“Tolong pilih pakaian yang bagus, namun sopan. Aku tidak ingin dia memakai gaun yang terlalu terbuka,” pinta Zain.


“Baik Tuan!”


“Kamu pikir aku juga mau buka-bukaan di depan kamu,” dengus Silvi. Namun, tak urung ia pun menur tout kala pegawai butik itu membawanya masuk ke ruang ganti.

__ADS_1


Zain menggelengkan kepalanya. “Perempuan memang aneh. Mulut dan hati suka tidak sinkron. Bilangnya gak mau gak mau, tapi dipaksa mau,” gerutunya. Zain berlalu mengambil mencari stelan jas yang cocok untuknya. Dengan cepat ia menggantinya di ruang ganti. Setelahnya, dia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Di saat ia tengah berbicara dengan seseorang dibalik telpon. Pintu ruangan ganti terbuka, memperlihatkan Silvi dengan gaun berwarna merah. Zain langsung mematikan teleponnya. Menatap gadis itu tak berkedip.


“Bagaimana Tuan?” tanya pegawai butik itu.


“Ganti. Memangnya tidak ada gaun yang lebih terbuka!” seru Zain tanpa sadar membuat Silvi dan pegawai itu melotot.


“Zain!!” tegur Silvi kesal. Seketika membuat Zain sadar kesalahan ucapannya.


“Maksudku yang lebih tertutup. Aku tidak suka di bagian dadanya. Lagian dia tidak cocok memakai pakaian berwarna merah. Pilihkan warna yang lain tapi yang sopan!” ralat Zain kemudian.


Dengan rasa malas Silvi kembali masuk ke dalam ruang ganti. Hingga beberapa saat kemudian dia sudah keluar kali ini dengan gaun yang terlihat elegan namun terkesan sopan, meski tanpa lengan tapi menurut Zain ini masih mending dibandingkan sebelumnya. Gaun sutra berwarna grey itu terlihat cocok di kulit putihnya. Apalagi perempuan itu kini mencepol rambutnya secara asal, kemungkinan merasa gerah. Salah satu pegawai butik juga memberikan sepatu untuk Silvi. Hingga kini penampilan gadis itu tampak lebih sempurna.


“Ke mana?” tanya Silvi bingung.


“Ada deh!”


Silvi mencebik melepaskan genggaman tangan Zain. “Pakaianku yang tadi dibawa dulu ya.”


“Untuk apa? Itu udah gak berguna. Ayo kita langsung berangkat!” Lalu dengan cepat Zain langsung menarik tangan gadis itu keluar dari butik itu.


Kini, mobil BMW i8 milik Zain berlalu meninggalkan area butik. Silvi merasa bingung entah kemana lelaki itu akan membawanya. Zain menoleh ke arah gadis itu, ia tersenyum tipis melihat Silvi terdiam. Mungkinkah dia sudah lelah bicara?

__ADS_1


“Bolehkah ku tanyakan sesuatu?” tanya Zain ketika mobil berhenti tepat di lampu merah.


“Hem..”


“Kenapa kau menolak pemberian bunga dariku?” sambungnya bertanya.


Silvi berdecak, menoleh ke arah Zain. “Kamu pikir aku jualan bunga. Kirim bunga satu truk begitu.”


“Tapi kan kamu suka.”


“Dari mana kamu tahu?” tanyanya heran.


“Ada lah.”


“Sekarang gak suka bunga mawar putih, suka kesal kalau liat bunga mawar putih!” sahutnya. Ia kesal karena dengan melihat bunga mawar putih ia jadi teringat dengan kelakuan Zain yang melamarnya dengan kertas dan satu truk bunga mawar putih itu.


“Aku tahu. Kesukaan kamu sebenarnya apa?”


“Apa?” seru Silvi. Ia pikir dengan yakin jika Zain pasti akan menjawab ‘Kamu suka aku kan.’ begitu. Namun, ternyata...


“Bunga deposito kan”


“Zain!!” teriak Silvi marah. Ya Tuhan! Rasanya Silvi ingin menjerit, menjitak kepala lelaki di sisinya yang memiliki tingkat kepekaan 0, 001 % itu.

__ADS_1


__ADS_2