
Dave menyandarkan punggungnya ke tembok, sementara matanya terus menatap ke arah lampu ruang operasi di mana Papa Jonas tengah berad di dalamnya. Sementara, Alana terus menangis di kursi tunggu tak jauh dari Dave. Pikirannya berkecamuk ia tak mengerti dengan situasi yang terjadi.
“Tuan?” suara Zain membuat keduanya menoleh serentak.
“Di mana Gala?” tanya Dave pelan. Ia menoleh ke arah istrinya yang berkali-kali mengusap air matanya.
“Dia bersama Nona Silvi, Tuan.”
Dave mengangguk, setidaknya ia merasa sedikit lega ada yang menjaga putranya dalam situasi ini. “Lalu Ibu Ratmi?” tanyanya.
“Dokter terpaksa memberikan suntikan obat penenang karena tiba-tiba ia terus berteriak histeris. Sepertinya penyakit Ibu Ratmi yang dulu kembali kambuh!”
Dave melangkah mendekati istrinya yang sejak tadi terus menangis, langsung merengkuh tubuhnya. “Sudahlah, Alana. Jangan menangis, mereka akan baik-baik saja!”
Alana mengangguk. Namun, air matanya tidak kuasa untuk berhenti, entah kenapa bayangan luka tusukan di tubuh Papa mertuanya begitu membekas, hingga menyebabkan jantungnya serasa mau berhenti. Alana merasa seluruh kesakitan Papa Jonas pun bisa ia rasakan. Apakah itu artinya dia begitu peduli? Meski lelaki itu tidak pernah menyukai kehadirannya.
“Dave?” panggilnya lirih.
“Iya sayang.” Dave menangkup kedua pipi istrinya, menghapus air matanya. Lalu mengecup pelan keningnya. “Jangan khawatir semua akan baik-baik saja!”
__ADS_1
“Dave kau mendengar ucapan Papamu dan Ibuku, kan?” tanya Alana.
Dave mengangguk pelan, meski hatinya terasa gundah, ia berusaha bersikap tenang.
“Bagaimana kalau kita itu sebenarnya saudara, Dave?” sambung Alana.
Dave terhenyak, sungguh ia tidak pernah berfikir sampai ke arah sana. Perlahan kedua tangan yang masih menangkup di pipi istrinya terlepas. “Itu tidak mungkin, Alana.” Dave berusaha menyangkal. Namun, memori otaknya kembali terpusat pada hari pernikahan keduanya. Tepatnya ketika Dave membuka dokumen pernikahan mereka. Di mana tanggal, bulan, dan tahun kelahiran mereka sama.
“Dave?”
“Aku tahu Alana. Tuhan tidak mungkin mempertemukan kita, tanpa suatu alasan. Dia tidak mungkin membuat kita terikat satu sama lain, jika itu diharamkan, Alana. Aku percaya itu. Tolong jangan berpikir hal yang tidak-tidak!” pinta Dave memohon. Sungguh ia tidak akan sanggup mendengar keburukan apapun yang akan menimpa pernikahan mereka yang baru akan kembali membaik. Ia baru berniat merajut bahtera rumah tangga yang sesungguhnya. Mengapa sesulit itu untuk keduanya bersama?
“Tenanglah Alana. Kita tunggu kondisi Papa. Tidak mungkin kita menunggu Ibu, karena kondisi dia—” Dave tak lagi melanjutkan ucapannya. Mana kala melihat istrinya terus diam dengan pandangan kosong, entah apa yang Alana pikirkan.
Alana terdiam mencoba mengingat segala kenangan yang tercipta sepanjang jalan hidupnya, yang tentunya membuat ia merasa miris. Mana kala ingatannya melayang pada satu kata Ibunya yang masih membekas.
Gara-gara kamu, semua ini kemalangan ini terjadi. Aku kehilangan orang-orang yang aku cintai.
Alana tidak tahu apa maksudnya? Saat itu dirinya hanya berpikir jika Ibunya hanya berbicara dengan asal, karena kondisi sang Ibu yang tengah depresi.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, lampu ruang operasi mati tanda operasi telah selesai.
“Saya bersyukur karena tusukan itu tidak melukai organ dalamnya. Dan kemungkinan pasien untuk pulih lebih cepat. Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan, baru keluarga bisa menjenguknya,” terang Dokter.
“Terima kasih.”
💞
💞
💞
Maaf ya telat update. Akhir bulan sibuk guys, di rumah banyak tamu.
Akan terungkap besok ya.🤗
Yuk, yang belum beri rate bintang lima di tekan bintangnya bilang authornya cantik.. eh bukan-bukan.. canda 😂
Jangan lupa di like, komentar, dan hadiahnya.
__ADS_1
Kalian pengen gak sih Dave dan Alana itu bahagia?