Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Aku Butuh Kamu


__ADS_3

“Dave sudah cukup. Aku baik-baik saja, ini hanya tersiram sedikit,” kata Alana membuyarkan lamunan Dave.


“Ohh oke!” Dave langsung beringsut menarik tubuhnya ke belakang.


Alana memutar tubuhnya menghadap Dave, lalu tersenyum. “Makasih ya Dave.”


“Apa perlu diberi salep, agar tidak melepuh?” tawar Dave.


Alana terkekeh geli. “Tidak perlu. Aku baik-baik saja,” sahutnya berlalu mengambil cangkir kopi miliknya, membawakannya ke atas meja.


Dave mengikuti Alana, menarik kursi dan duduk di sisi perempuan itu.


“Apa kau sudah makan Dave? Sepertinya kau baru pulang?” tanya Alana lagi sambil menyesap kopi miliknya. Jujur saja bersama Dave ada rasa senang namun juga sedih. Alana merasa segera ingin berlalu dari sana.


“Sudah!” jawabnya seraya menatap wajah Alana. “Emm... Ngomong-ngomong kita jarang makan bersama ya?”


Suasana menjadi sedikit canggung malam itu. “Tidak apa-apa, kamu kan sibuk.”


Dave tertawa kecil, menatap kopi buatan Alana. “Kamu mau?” tawar Alana sedikit bercanda.


“Boleh?”

__ADS_1


Alana mengangguk, ia pikir Dave hanya bercanda. Namun, tanpa di sangka lelaki itu langsung mengambil cangkir lalu menyesap kopinya, membuat Alana melongo. “Itu bekasku Dave. Maksudku kalau kamu mau, aku bisa membuatkannya untukmu yang baru.”


“Tidak perlu, satu cangkir berdua lebih nikmat.”


Alana tersenyum malu. Memalingkan wajahnya.


“Alana besok, temani aku ke sebuah acara ajang penobatan bisnis ya?”


”Bukannya sudah ada Jessica?” tanya Alana heran.


”Emm... Aku butuh kamu. Besok akan ada orang butik yang membawakan gaun untukmu. Jam tujuh malam aku akan menjemputmu,” ujar Dave.


Alana mengangguk. “Baiklah!”


”Iya Dave.”


“Kamu juga jangan kebanyakan bergadang. Tidak baik untuk kesehatan,” pesannya sebelum berlalu meninggalkan Alana.


Alana menoleh menatap punggung suaminya, yang semakin menjauh. Ia tersenyum getir, meratapi nasibnya.


💞💞

__ADS_1


Keesokan harinya, sesuai ucapan Dave jika lelaki itu memintanya untuk menemani Dave ke suatu acara. Tepat pukul tujuh malam Dave sudah menunggunya di depan rumah, dengan Zain yang menyetir mobilnya.


“Cantik sekali,” puji Dave ketika Alana sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di sisinya.


Alana hanya terkekeh kecil, gaun sutra tanpa lengan dengan warna merah muda, dengan rambut di Cepol ke atas, diberi hiasan, membuat kulit putih Alana tampak bersinar. Ia melongok ke arah depan.


“Cari siapa? Aku kan di sini?” ujar Dave heran.


“Jessica,” cicit Alana yang berfikir Dave pun mengajak kekasihnya juga.


“Sudah ku katakan, aku kan membutuhkanmu mana mungkin aku mengajak dia. Ya mungkin dia juga datang, sebagai bintang tamu dalam acara ini.”


Alana mengangguk pelan. Hingga mobil tiba di gedung yang menjulang tinggi itu. Keduanya lantas turun. Dave mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya turun dari mobil. Setelah meletakkan tangan mungil itu di lengannya. Alana tersenyum malu, mereka lantas masuk ke dalam. Sesekali menoleh, menyadari banyaknya wartawan di sana. Pantas saja Dave memilih mengajak dirinya dibanding Jessica, pasti semua hanya untuk melindungi nama baiknya. Bukankah ia dibayar hanya untuk itu, tetapi kenapa hatinya terasa sakit. Dengan senyum palsunya ia terus mengikuti langkah kaki suaminya, melewati karpet merah, yang menghubungkan ke sebuah ruangan besar. Di sana sudah terdapat banyak orang menduduki kursi masing. Mereka diminta duduk di bagian depan dengan kursi yang sudah dipersiapkan.


Hampir satu jam acara berlangsung meriah, berbagai tarian klasik, tradisional, musik mengisi acara dan artis lainnya termasuk Jessica. Namun, mengapa hati Alana tetap risau, seakan-akan ia berada di dalam kesunyian. Tibalah acara pembacaan penobatan pengusaha muda dan sukses.


Jessica di atas panggung sana membacakan isi dari balik amplop dalam tangannya. Yang ternyata di dalam sana tertera nama Dave Dirgantara yang di nyatakan sebagai Pengusaha muda dan sukses, kemudian lelaki itu diminta untuk mengambil penghargaannya. Sebelum beranjak ia menoleh ke arah Alana. Tanpa di sangka lelaki itu langsung memeluk Alana, lalu berbisik. “Terima kasih.”


Tubuh Alana menegang, seiring dengan pelukan Dave terlepas. Lelaki itu meminta ijin untuk naik ke atas lebih dulu. Berbagai sorot media para wartawan mulai menyorot tubuh Dave di atas sana, mana kala tepuk tangan meriah. Alana tersenyum haru, mana kala lelaki itu menunjukkan pialanya penghargaannya pada dirinya.


Namun, suara ibu mertuanya membuatnya senyum di bibirnya surut. “Lihatlah di atas sana, suamimu tengah berdiri di sisi Jessica, bukankah mereka terlihat begitu cocok. Kau bahkan terlihat tidak ada artinya apa-apa untuk Dave. Dia tidak memanggilmu untuk naik ke atas kan,” cibir Gizka.

__ADS_1


Alana terdiam, menatap ke arah depan. Di mana Dave tampak sibuk berfoto, lalu menjabat tangan para pembisnis yang lain. Ia menyapu ruangan itu, di mana acara memang sudah berakhir, kursi-kursi terlihat hanya menyisakan beberapa orang di sana. Bahkan kedua mertuanya pun sudah berlalu ikut naik ke atas. Sejenak Alana menjadi merasa sendiri. Dave sama sekali tak menoleh ke arah dirinya.


Alana tersenyum getir, memang apa yang inginkan. Menghela nafasnya, Alana memilih beranjak keluar meninggalkan gedung itu.


__ADS_2