
Dave baru selesai rapat. Ia kembali ke ruangannya dengan Zain yang berjalan di belakangnya. Namun, langkah kakinya yang hendak masuk ke dalam ruangannya terhenti, ketika mendengar panggilan Nana.
“Ada apa, Nana?” tanya Dave pada sekretarisnya itu.
“Di dalam ada Nona Alana, Tuan.”
“Oh dia sudah datang.”
Nana mengangguk, menghampiri atasannya itu dengan membawa kotak p3k, mengulurkannya pada Dave.
Dave mengerutkan keningnya, menatapnya dengan bingung.
“Ini Tuan!”
“Apa?”
“Kotak obat,” jawab Nana.
“Saya tahu. Tapi, buat apa? Memangnya saya sakit,” desisnya. Membuat Zain yang berdiri di belakangnya ingin tertawa kecil.
“Bukan anda. Tapi, Nona Alana,” terang Nana.
“Alana? Dia kenapa?”
“Saya tadi melihat kening Nona Alana memar. Sempat menawarkan untuk memberikan pengobatan, Nona tidak mau. Mungkin dia menunggu anda. Soalnya tadi dia udah ngeluh pusing.”
Dave langsung menerima kotak obat itu. Dan sebelum membuka pintu kamarnya, ia menatap ke arah Zain dan Nana, lalu meminta keduanya untuk memesankan dua porsi makan siang.
Masuk ke dalam, Dave melihat Alana tengah berbaring di sofa panjang miliknya, sambil memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Pelan, lelaki itu menghampiri istrinya. “Kenapa Alana?” tanyanya. Ia sengaja bertanya karena ia tahu sebenarnya Alana tidak tidur, ia hanya tengah memejamkan matanya, kemungkinan karena rasa pusing yang ia rasa.
“Dave?” desisnya terkejut. Mendapati suaminya sudah berdiri di sampingnya. Padahal ia sama sekali tidak mendengar pintu berdecit. Alana langsung beranjak dari tempatnya, mengubah posisinya menjadi duduk.
“Bagian mana yang sakit?” tanya Dave mendudukkan dirinya di samping Alana.
“Apa? Aku tidak apa-apa. Siapa juga yang sakit,” dusta Alana memalingkan wajahnya.
“Hadap sini!” Dave menarik kuat tangan Alana. Maksud hati agar ia bisa melihat wajah Alana. Namun, hal itu justru membuat Alana jatuh membentur dadanya. Hingga membuat perempuan itu meringis karena keningnya membentur otot Dave yang keras. “Aduhh,” ringisnya, membuat Dave tersentak.
“Maaf, aku terlalu kuat menarikmu,” sesal Dave menggerakkan tangannya untuk menyibak rambut Alana, menyelipkan rambutnya ke belakang daun telinga. Alana terdiam menikmati rasa hangat tangan Dave yang kini tengah bergerak menyibak rambutnya, meski saat ini jantungnya serasa mau meledak.
Kening Dave mengerut mendapati kening istrinya yang memar. “Astaga, bagaimana bisa seperti ini! Apa yang terjadi Alana. Lebih baik aku antar kamu ke rumah sakit.”
Alana menggeleng menyentak tangannya yang dalam genggaman sang suami. “Dave ini hanya luka kecil. Aku tidak apa-apa. Untuk apa ke rumah sakit. Kau berlebihan sekali.”
“Bagaimana kau katakan berlebihan Alana. Kesehatan itu tetap nomor satu. Tidak masalah harus berapa banyak mengeluarkan uang, asal kita tetap sehat,” ujar Dave.
Dave menelan ludahnya, saat melihat leher jenjang Alana saat rambutnya di Cepol seperti itu. Apalagi dengan anak rambut yang bergelantungan, hal itu membuat Alana semakin terlihat menggoda. Hingga ia tidak sadar saat Alana mengambil alih kotak obat yang ia bawa. Namun, karena memarnya di kening, Alana sedikit kesusahan menjangkaunya. Ia memilih mengambil kaca bedak miliknya.
“Biar aku saja.” Dave mengambil alih kapas di tangan Alana. Pelan ia mencoba menempelkan kapas itu di kening Alana. “Ini seperti terbentur stir kemudi. Bagaimana bisa?”
“Anu Dave itu aku em–”
“Apa? Kau tidak habis kecelakaan kan?” cecarnya beruntun.
Namun, Alana mengangguk. “Aku menabrak mobil seseorang Dave. Ku pikir kerusakannya cukup parah.”
“Bagaimana dengan orangnya?”
__ADS_1
“Dia marah. Aku hanya meninggalkan kartu namaku saja. Aku pikir ia akan hubungi aku nanti saat mobilnya sudah selesai diperbaiki.”
“Kenapa tidak kau beri kartu namaku saja,” decak Dave. Sedikit ia merasa kesal lantaran istrinya memberi kartu namanya pada pria asing.
“Kenapa Dave? Aku yang berbuat salah, bagaimana bisa aku harus menyeretmu.”
Dave menempelkan plester di kening istrinya, untuk bagian pengobatan yang terakhir. “Maksudku! Bagaimana jika nanti pria itu terus menganggu mu.”
“Selagi masih urusan dengan mobilnya aku tidak masalah, Dave. Bukankah kita harus belajar bertanggung jawab untuk kesalahan yang kita buat.”
Dave mengangguk. “Sebenarnya aku hanya berfikir bagaimanapun sekarang, kau masih tanggung jawabku,” ucapnya seraya mengusap pucuk rambut Alana. Tatapannya masih terpatri pada leher jenjang Alana. Hingga usapannya beralih ke rambut belakang. Tak Alana sangka, Dave melepaskan ikatan rambut Alana. “Lebih baik rambutnya di urai saja.”
“Kenapa Dave?” tanya Alana terkejut.
Bukannya menjawab, Dave justru memajukan wajahnya, ketika matanya justru terpatri pada bibir ranum Alana.
.
.
.
.
.
.
Ada yang mau visual Alana dan Dave ya. Ini versi aku. Tapi kalau kalian kurang suka. Kalian boleh berimajinasi pake visual menurut kalian sendiri, entah mau artis mana aja Korea, Indonesia dan lainnya. Aku gak larang... Kalian bebas berhalu.
__ADS_1