Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Insiden Tak Terduga


__ADS_3

“Sudah. Gak ada yang ketinggalan kan Alana, Zain?” tanya Dave ketika dirinya mau bertolak ke Jakarta.


“Gak ada. Memangnya aku membawa apa ke sini. Aku kan cuma bawa diri doang,” ujar Alana. Sebenarnya ia masih kesal, karena sang suami tiba-tiba memutuskan untuk pulang. Padahal Alana masih ingin bermain di sekitar arena hotel itu. Tapi, apa boleh buat keputusan Dave itu bersifat mutlak tak bisa di ganggu gugat.


Dave terkekeh menyadari istrinya itu masih kesal padanya. “Nanti kapan-kapan kita kesini lagi ya. Apalagi kalau hotelnya sudah jadi,” katanya menenangkan.


Zain tersenyum simpul, melihat interaksi keduanya. Dalam hati ia menginginkan kebahagiaan itu tidak akan berakhir. Ketiganya lantas langsung keluar dari restoran hotel bintang lima itu, melewati sebuah lorong yang menghubungkan ke loby utama.


“Kamu mau beli oleh-oleh?” tanyanya pada Alana.


“Memangnya masih punya waktu? Untuk mampir?” seru Alana.


“Ya enggaklah! Nanti beli di Bandara aja,” ujar Dave.


Alana mendengus memutar bola matanya, untuk apa bertanya jika pada ujungnya tetap saja tidak bisa beli. Zain tersenyum masam mendengar pembicaraan Dave dan Alana.

__ADS_1


“Kalau tidak bisa. Kenapa masih menawarkan, kau membuatku kesal saja,” celetuk Alana jujur.


Dave terkekeh. “Iya juga ya. Memangnya kau ingin membeli apa? Nanti aku suruh orang aja ya buat beli. Aku gak tahu ini, perasaanku tidak enak,” seru Dave mendadak perasaannya cemas.


“Tidak perlu Dave. Sebenarnya, aku hanya masih ingin menginap di hotel ini saja. Tapi, karena kamu minta pulang ya sudah tidak apa-apa. Lain waktu saja.”


“Ya benar lain waktu,” tandas Dave kemudian.


Ketiganya sampai di depan hotel untuk menunggu mobil yang akan menjemput mereka.


“Dave itu bukankan perempuan yang tadi–”


“Biarkan saja, Alana.” Dave memotong ucapan istrinya dengan cepat. Dan memilih membuang muka untuk tak menatap perempuan itu.


Terlihat Welly tersenyum miris. Pria tampan itu pasti pria baik-baik, yang terlihat malas untuk melihat seorang perempuan seperti dirinya. Jarang, bahkan hampir tak ada pria seperti itu. Ia langsung merasa iri pada perempuan di sebelah Dave, yang tak lain istrinya. Entah apa yang perempuan itu miliki hingga membuat seorang Dave sama sekali tak bisa berpaling. Dalam hati ia mengagumi keberuntungan istri dari Dave itu. Memilih tak mengambil pusing, Welly langsung meninggalkan area hotel itu.

__ADS_1


Alana larut dalam pemikirannya sendiri. Sementara, Dave justru tengah mengobrol dengan seseorang dibalik telpon. Entah dengan siapa dia menelpon, Alana tak pernah ingin tahu urusan lelaki itu. Zain masih setia berdiri di sisi keduanya.


Tanpa sadar di atas gedung perkantoran yang bersebrangan dengan hotel yang di diami mereka, sedang berdiri seorang sniper dengan senjata laras panjang, yang tengah fokus untuk membidik buruannya.


Jari telunjuk ia taruh di pelatuk sambil mengarahkan dan memantau ke arah dada Dave.


Dave masih sibuk dengan obrolan di ponselnya.


Alana mengeratkan jaketnya saat rasa dingin menyusup, karena keadaan memang sudah petang. Ia menatap ke arah suaminya. Ia terkejut melihat titik merah di dada lelaki itu, seperti sebuah sinar yang berasal dari atas. Alana mengikuti arah sinar tersebut, dan alangkah terkejutnya, ia melihat seorang berpakaian hitam-hitam tepat di atas gedung yang berada di depan hotel, tengah mengarahkan sebuah senjata laras panjang, yang mematikan.


Alana terkejut luar biasa. Suaminya menjadi incaran seseorang penembak jitu. Dia berniat mendorong suaminya.


“Dave awas!!!”


Alana menegang. Peluru itu melesat jauh, dan ternyata tepat mengenai bahunya. Kedua orang itu terjatuh dengan darah membanjiri lantai.

__ADS_1


“Alana!!”


__ADS_2