Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Di Mana Cucu Menantu Ku?


__ADS_3

Dave memandang pemandangan luar dari dalam kantornya. Kedua tangannya ia masukkan ke saku celananya. Pandangannya mengarah pada sofa panjang di sana. Ia ingat beberapa kali Alana kerap ketiduran saat berada di kantornya, perempuan itu begitu menyukai pemandangan kantor saat sore hari seperti ini. Alana sangat menyukai senja.


“Kapan kita bisa bertemu lagi, Alana.” Dave terus bergumam bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Mengapa Alana begitu susah untuk ia temukan. Padahal ia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya, namun mengapa masih tidak dapat terdeteksi.


Bahkan sejak malam itu, Dave lebih memilih tidur di kamar yang semula ditempati Alana. Hanya saat berada di sana ia bisa memejamkan matanya, ia merasa ada harum Alana di sana.


”Ternyata patah hati sesakit ini.”


Tok! Tok!


“Masuk!”


Ceklek!


Zain datang membawa berkas di tangannya. Dave berbalik dan menerimanya.


“Tuan!"


“Hemm!”


“Tentang pembangunan proyek di Surabaya itu...”


“Kenapa?” Dave mengalihkan pandangannya dari berkas di tangannya.


“Ternyata selesai lebih cepat dari perkiraan kita.”


Dave mengangguk. “Bukankah itu kabar yang bagus, mengapa kau terlihat risau.”

__ADS_1


“Tuan Risky ingin segera meresmikan hotel dan mall itu.”


“Lalu? Masalahnya apa?”


“Dia ingin anda menghadirinya dengan membawa Nona Alana. Mengingat proyek itu anda dapatkan bersama dengan Nona Alana. Ibu citra memintanya begitu Tuan.”


Dave memaku tubuhnya, meletakkan berkas di tangannya. Mengusap wajahnya dengan gerakan kasar. “Bagaimana aku membawanya? Keberadaannya saja tidak aku ketahui. Entah kemana dia pergi Zain. Ya Tuhan!”


Zain juga merasa prihatin. Ia yang biasanya bisa melakukan apa saja untuk mengatasi permasalahan sang atasan, kini justru merasa tidak bisa melakukan apa-apa.


‘Di mana sebenarnya anda, Nona. Bahkan sahabat-sahabat anda saja sampai tidak tahu keberadaannya.’ gumam Zain.


💞💞


Turun dari mobil, Dave melangkah masuk ke dalam rumahnya sambil mengendurkan dasi di lehernya.


“Alana cooming soon. Grandma datang!!” teriak seorang perempuan baya dengan rambut berwarna putih. Ambar turun dari mobil dengan membawa beberapa tentengan. Wajahnya berbinar tak sabar untuk menemui cucu menantunya.


“Grandma,” desis Dave terkejut akan kedatangan Ambar secara tiba-tiba. Pasalnya bulan lalu ia ingat jika perempuan itu akan pulang pada bulan depan.


Dengan meneguk ludahnya susah, Dave melangkah menyambut kedatangan Ambar dengan hangat. “Grandma kok datang tiba-tiba?”


Ambar berdecak kesal akan pertanyaan cucunya seolah tak senang akan kehadirannya. “Tentu saja, karena Minggu depan kan Edo mau menikah jadi Grandma milih langsung pulang ke Indonesia. Lagian Grandma udah kangen banget sama Alana.”


Dave mengusap wajahnya, mana kala Ambar langsung saja berlalu masuk, melongok seperti mencari seseorang. Bersiaplah ia akan menerima Omelan perempuan baya itu.


“Di mana cucu menantuku, Dave? Panggil dia. Katakan padanya Grandma membawakan banyak oleh-oleh untuknya. Alana pasti senang. Grandma jadi tidak sabar untuk membuat kue bersamanya.”

__ADS_1


Dave memaku tubuhnya di tempat. Kedatangan perempuan baya itu yang tiba-tiba lalu menanyakan istrinya, semakin membuatnya pusing.


“Dia...”


“Panggil dia buruan. Katakan padanya Grandma sangat merindukannya!” Ambar mendesak Dave. “Dia pasti senang karena Grandma udah sehat. Aku gak sabar untuk membawanya belanja keliling pusat perbelanjaan Jakarta,” sambungnya.


Dave menyentak nafasnya. “Sebenarnya Alana...”


“Apalagi Dave! Buruan panggil?” tukas Ambar.


“Dia tidak ada Oma,” cicit Dave.


“Oh dia sedang keluar? Baiklah tidak apa-apa, Grandma akan menunggunya di sini.” Ambar mendudukan dirinya di sofa.


“Maksudku Alana pergi dari rumah, Grandma.”


“Apa??!!” pekiknya terkejut.


Dave meringis mendengar teriak Ambar yang melengking. “Iya. Alana pergi meninggalkanku.”


“Apa yang kau lakukan padanya, Dave? Kau pasti berbuat macam-macam padanya,” tuding Ambar.


Dave mengangguk. “Iya. Memang aku yang salah. Aku juga...”


“Grandma mau pulang. Dengarkan aku baik-baik. Tidak akan ku maafkan dirimu, selama kau belum bisa membawa Alana kembali ke rumah ini.”


Dave terkejut mendengar ucapan Ambar. Namun, belum sempat ia bersuara. Perempuan itu sudah berlalu meninggalkan Dave.

__ADS_1


__ADS_2