Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Jantung Berdegup Kencang


__ADS_3

Enam bulan kemudian.


Waktu bergulir begitu cepat. Tanpa terasa sudah enam bulan berlalu Alana dan Dave menjalani biduk rumah tangga, menjadi sepasang suami istri pura-pura. Sampai detik ini peran kedua berjalan dengan begitu baik dan mulus.


Dave tetaplah laki-laki yang begitu royal. Hampir seminggu sekali lelaki itu memberikan banyak hadiah pada Alana, salah satunya perhiasan. Tak terhitung berapa banyak jumlah set perhiasan di dalam laci khusus Alana, yang Dave berikan.


Ting!


Bunyi penanda kue telah matang dari oven terdengar. Alana segera meletakkan ponselnya, dan berlalu mengangkat kue buatannya.


“Salma, ayo cobain deh kue nastar buatan aku enak gak?" ujar Alana meminta pendapat pelayan pribadinya itu.


Perempuan itu pun menuruti perintah istri majikannya itu. ”Enak Nona,” ucapnya setelah menggigit kue buatan Alana.


”Menurut mu apa Dave akan menyukainya?” tanya Alana meminta pendapat.


“Emm... Sebenarnya Tuan Dave tidak begitu makanan yang manis-manis, Nona.”


Jawaban Salma membuat Alana menghela nafas kecewa, padahal ia sudah susah payah sejak tadi berkutat di dapur, demi menghasilkan karya kue buatannya yang enak. Ia begitu semangat ketika Dave memberi pesan jika sore ini ia akan pulang ke Jakarta, setelah tiga hari yang lalu lelaki itu meninjau proyek kerja sama dengan Pak Risky di Surabaya– Jawa Timur. Alana ingin menyambut kedatangan lelaki itu dengan makanan buatannya.


“Tapi, Nona... Tidak ada salahnya anda memberikan kue buatan anda ini. Karena menurut mitos yang beredar, apapun yang di masak oleh yang yang cintai, pasti akan terasa enak. Melihat perhatian Tuan Dave pada anda, tentu saja dia pasti tidak akan tega membiarkan kue buatan anda itu tidak tersentuh,” sambung Salma. Karena ia tidak tega melihat wajah sedih istri majikannya.

__ADS_1


“Cinta?” ulang Alana.


Salma mengangguk. “Iya, melihat betapa semangatnya anda membuat kue ini. Membuat saya yakin kalau anda mencintai Tuan Dave, begitupun sebaliknya. Tuan Dave pasti akan sangat senang melihat anda menyajikan makanan khusus untuknya.”


Mendengarnya Alana menunduk, menekan dadanya kuat-kuat.


‘Dave?’


Perempuan itu mencoba memanggil nama suaminya dalam hati, dan hasilnya hatinya berbunga-bunga, jantungnya berdegup kencang. Benarkah ia jatuh cinta? Tapi... Kenapa secepat itu.


“Nona, anda melamun?” tanya Salma.


Alana tersentak menoleh ke arah pelayan pribadinya itu. “Ti–tidak.”


“Kenapa?” seru Alana.


“Wajah anda terlihat berantakan. Tidak mungkin anda menyambut kepulangan suami anda dengan keadaan yang berantakan kan?”


”Tapi...” Alana terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya. “Ah sudahlah, kau benar juga. Aku harus membersihkan diri. Lagian aku juga sudah merasa tidak nyaman,” sambungnya.


Salma mengangguk. ”Tapi tolong bereskan dapur ya. Sekalian, nastarnya masukan ke dalam toples,” pinta Alana.

__ADS_1


“Baik Nona.”


🦋🦋


Langit sudah berubah warna Oren, dari tempatnya berdiri Alana bisa melihat keindahan pantulan senja. Perempuan itu terlihat begitu cantik, dengan dress berwarna biru laut, rambut panjangnya ia biarkan tergerai. Sementara wajahnya, ia beri polesan bedak tipis.


Senyumnya mengembang. Namun, jantungnya berdegup kencang. Mana kala pandangannya terus mengarah pada pintu gerbang yang masih tertutup rapat. Berharap laki-laki yang sejak tadi ia tunggu kehadirannya, segera tiba di rumah.


‘Aku akan kembali ke Jakarta sore ini. Kau mau sesuatu, Alana?’ tawar Dave dalam pesan yang ia tulis tadi.


Alana sungguh menantikan kehadiran lelaki itu. Entah kenapa ia merasa begitu ingin jumpa.


Tiba-tiba ia tersenyum bahagia, saat melihat gerbang menjulang tinggi itu terbuka. Kemudian sebuah mobil Lamborghini masuk ke dalam.


“Dave?” Alana terpekik girang. Melupakan keindahan senja sejenak, perempuan itu langsung berlari masuk ke dalam, keluar dari kamarnya dengan terburu-buru. Tidak memperdulikan apapun, saat ini ia hanya ingin segera berjumpa dengan suaminya.


“Nona, hati-hati,” tegur Salma kala melihat istrinya majikannya itu berlari begitu cepat dari atas tangga.


“Dave sudah pulang,” sahut Alana sambil berlari.


Salma hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Alana membuka pintu rumahnya, bersamaan dengan itu Dave pun sudah tiba di depan pintu.


“Alana?” tegur Dave heran melihat nafas istrinya yang terengah-engah seperti habis lari maraton. Dan kini justru terdiam di ambang pintu. “Kamu habis olahraga?” tanyanya dengan kekehan kecil. Lelaki itu bahkan mengulurkan tangannya, untuk mengusap kening istrinya yang berkeringat. Hal itu membuat Alana tersentak, hingga beberapa detik kemudian, ia menghambur memeluk Dave dengan erat.


__ADS_2