
Alana tertegun lalu membuang muka, karena ia tidak ingin debat masalah itu sekarang. Kepalanya sungguh terasa pusing. Sebuah tangan yang besar meraba bagian pahanya. Lalu turun untuk menyingkap rok yang ia pakai.
“Dave, tolonglah,” rengek Alana.
Dave tidak menjawab, sibuk mengigit telinga istrinya dan membuat wanita dalam dekapannya men desah. Alana menunggu namun tetap berantisipasi tinggi. Entah apa yang akan Dave lakukan padanya. Sentuhan yang halus mera mbat pelan dari balik rok yang ia pakai.
“Sayang, pahamu juga panas,” bisik Dave dengan suara parau. Tangannya terus mera mbat ke atas membuat bulu kuduknya merinding. “Ku rasa kamu memang hangat sejak dulu.”
“Dave tolonglah?” rintih Alana, saat tangan Dave justru menyentuhnya lebih intens.
“Ssstt... Tidurlah sayang.”
“Bagaimana aku bisa tidur... Aahh. Jika kamu terus mengangg–aah!” Alana terengah. Merasakan tangan Dave bergerak pelan di atas cela na da lam yang ia pakai.
Mendadak tubuhnya di gulingkan, dan ciuman yang dalam langsung Dave berikan untuknya. Mereka saling mencium, menghisap, membelit, mengulumm lidah entah untuk berapa lama. Sampai akhirnya saling melepaskan diri. Dave menyatukan kening keduanya, masih dengan nafas yang memburu, ia tersenyum lalu berkata.
“Tidurlah. Aku juga merasa ngantuk.” Dan perlahan Dave memejamkan kedua matanya.
Alana menatap bayang wajah lelaki di depannya kini dengan sayu. Mengulurkan tangan untuk membelai wajah tampan tak tercela. Tanpa sadar ia tersenyum dengan air mata menetes.
“Aku bukan tidak percaya padamu, Dave. Tapi, aku masih dilema dengan diriku sendiri. Kau tahu berada di dekatmu, sejak dulu ada saja orang yang mengusikku. Sedikit aku masih merasa takut. Kedua orang tuamu, juga begitu membenciku kan.”
__ADS_1
Menggeliat pelan untuk melepaskan diri. Alana merasakan kantuknya menyerangnya teramat sangat, dan ia tidur dalam pelukan sang suami.
Beberapa saat Dave membuka kedua matanya, ia tertegun sejenak. Menyapu anak rambut Alana dari wajahnya dengan gerakan ringan. Seakan takut membangunkannya.
“Aku akan menunggumu, Alana,” bisiknya mengecup pelan kening istrinya. “Aku pergi sebentar ya,” sambungnya.
Setelah memastikan Alana benar-benar tertidur, Dave bangkit dari ranjang. Membenahi pakaian wanita yang baru saja ia cumbuii, dan menyelubunginya dengan selimut. Tangannya merogoh sakunya mengambil anak kunci saat melangkah menuju pintu.
Begitu dibuka ternyata suster yang bertugas di sana sudah berdiri di depannya.
“Tuan?”
“Istri saya sedang sakit. Tolong jaga, jika demamnya tidak kunjung turun. Segera hubungi saya.”
Dave berlalu meninggalkan ruangan kesehatan.
💞💞💞
Di tengah panasnya terik matahari yang terasa begitu menyengat. Saat ini Dave dan Zain tengah mengecek jalannya kontruksi pembangunan Hotel Alana Island. Iya hotel itu sengaja ia bangun untuk istrinya nanti.
Setelah selesai, Dave keluar dari pembangunan gedung yang belum sempurna itu, meninggalkan Zain yang masih sibuk di dalam.
__ADS_1
Sampai di luar pandangannya teralihkan pada seorang anak laki-laki berdiri, sambil menatap ke arah pembangunan hotel miliknya.
Dave tertegun untuk beberapa saat keningnya mengerut, bola matanya bergerak mengawasi keadaan sekitar. Bagaimana anak itu bisa berada di tempat seperti itu, tanpa adanya pengawasan.
“Tuan?” panggil Zain membuat Dave tersentak.
“Apakah masih ada beberapa warga yang tinggal di sini, Zain?” tanya Dave tanpa mengalihkan tatapannya pada anak kecil itu.
“Tidak Tuan. Semua warga sudah mendapatkan tempat yang layak.”
Jawaban Zain membuatnya bingung, jika semua sudah teratasi mengapa ada anak kecil di sana.
Entah apa yang Dave rasa. Seolah ada sesuatu yang mendorongnya untuk mendekati anak itu.
Langkahnya semakin mendekat, dan semakin jelas Dave dapat melihat wajah anak itu. Ia tertegun sejenak melihat wajahnya. Hatinya mengatakan tidak asing. Entah mengapa ada sesuatu yang mendorongnya ingin lebih tahu tentangnya.
“Hai?” sapa Dave canggung. Namun, anak itu tetap acuh menatap kagum pada gedung tinggi di depannya.
Dave mengusap tengkuknya, di posisi ini ia sendiri tidak tahu bagaimana bisa bersikap manis pada anak kecil. Bertahun-tahun hidup, ia jarang dekat dengan anak kecil, bahkan dengan Nesya — putrinya Edo dan Tisa, sekalipun jarang bertemu.
“Hai, apa yang sedang kau lihat anak tampan? Kau terlihat serius sekali?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Dave.
__ADS_1
Anak itu menoleh ke arah Dave hanya sesaat, dan itu cukup membuat Dave terkejut ketika menatap sepasang manik mata hitam miliknya. “Alana....” gumamnya sangat lirih.