Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Aku Bisa Sendiri


__ADS_3

Pukul satu dini hari. Motor sport milik Andi tiba di kediaman Dave. Alana langsung turun, Andi melepaskan helm miliknya.


“Makasih ya, An. Aku senang banget hari ini. Dapat traktiran makan, keliling Jakarta,” kata Alana.


Andi mengangguk. “Untuk sahabat terbaikku, apa yang enggak sih. Kamu minta keliling dunia, kalau aku mampu pasti aku jabanin. Sayangnya aku masih kere, Al.”


Alana tergelak, memukul pelan lengan lelaki itu. “Aku gak perlu keliling dunia An. Begini saja aku udah senang banget.”


Andi mengangguk, merasa ikut senang melihat sorot wajah perempuan itu terlihat berbinar, berbeda jauh saat tadi pertama ia berjumpa dengannya. Alana melepaskan jaket lelaki itu. “Ini jaketmu. Pakailah, nanti masuk angin kan kasihan belum ada yang ngerokin,” seru Alana.


“Gak usah kenceng-kenceng, Al. Tahu kok kalau aku emang jomblo,” sahut Andi seraya mengambil jaketnya, memakainya di atas motor.


Alana hanya tertawa mendengarnya ketika melihat wajah kesal sahabatnya itu. Dalam diam Andi melirik ke arah pintu, di mana terlihat Dave sedang melipat kedua tangannya di dada menatap keduanya dengan pandangan tak terbaca.


“Dah aku balik ya. Kamu masuk istirahat. Kalau butuh sesuatu telpon aku aja, siap 24 jam,” ucap Andi sebelum kemudian memakai kembali helmnya, lalu memacu motornya meninggalkan kediaman Dave. Alana menatap motor sahabatnya yang perlahan menjauh darinya.


Sepeninggal sahabatnya, Alana pun berbalik dan terkejut mendapati Dave berdiri di tengah-tengah pintu menatap dirinya. Sorot senyum di bibirnya langsung memudar.


“Dave,” desisnya. Alana melangkah pelan mendekati lelaki itu. “Kamu belum tidur?” sambungnya bertanya. Alana melirik arloji tangannya di mana waktu sudah menunjukkan pukul satu lebih.


Dave terdiam menatap Alana, memindainya dari atas sampai bawah. Di mana pakaian istrinya bagian bawah nampak kotor. Bahkan Alana juga hanya memakai sandal jepit biasa, dengan ujung jempolnya yang diperban.

__ADS_1


“Kakimu kenapa, Alana?” tanya Dave.


Alana mengikuti arah pandang Dave. Ia tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, Dave. Ini hanya luka kecil, karena aku kurang hati-hati saat berjalan. Kau tahulah kalau aku kan emang sedikit ceroboh,” kilah Alana melangkah pelan masuk.


“Biar aku membantumu,” tawar Dave.


Alana langsung menggeleng, beringsut menjauh. “Tidak perlu Dave. Aku bisa sendiri. Tidurlah hari sudah malam. Kenapa kau justru bergadang,” usirnya.


Dave menghela nafasnya. “Kenapa tadi pergi begitu saja dari gedung acara? Kau sebenarnya ke mana, Alana?” tanyanya.


Alana menghentikan langkah kakinya, menoleh ke arah suaminya sejenak. “Oh aku lupa memberi tahumu. Aku ada janji dengan Andi tadi, mau ngerayain ulang tahun dia. Tapi, karena aku melihat masih sibuk dan tidak mungkin diganggu. Jadi, aku pergi begitu saja.”


“Ya itu karena aku buru-buru,” kilah Alana tersenyum getir memalingkan wajahnya. “Ngomong-ngomong selamat atas keberhasilanmu. Karena buru-buru aku sampai lupa tidak mengucapkan apapun padamu,” sambungnya.


Namun, Dave hanya terdiam dengan langkah kaki yang terus mendekat ke arahnya. “Dave?” tegur Alana.


“Terima kasih, Alana.”


“Hari sudah malam, lebih baik kita istirahat.” Alana berbalik meninggalkan Dave dengan pelan.


Namun, detik berikutnya ia terpekik mana kala tiba-tiba Dave menggendong tubuhnya ala bridal style. “Dave, apa yang kau lakukan!”

__ADS_1


“Membantumu naik ke atas,” seru Dave.


“Aku bisa sendiri.”


“Diamlah Alana, kau terlalu lambat.”


Alana langsung terdiam, membiarkan Dave menggendongnya, menapaki anak tangga, kedua tangannya ia lingkarkan di leher lelaki itu. Diam-diam ia melirik ke arah Dave. Jantungnya berdegup kencang.


Tiba di depan pintu, Dave menurunkan Alana. “Masuklah, kau harus istirahat.”


“Iya Dave.” Alana langsung membuka pintunya berlalu masuk.


Tiba di kamarnya, Dave mengusap wajahnya dengan gerakan kasar. Ada sesuatu yang bergejolak dalam hatinya, melihat Alana turun dari motor bersama lelaki lain. Rasanya kesal, melihat Alana bisa tertawa dengan lepas bersama lelaki lain. Sedangkan dengan dirinya, ia hampir tidak pernah melihat wajah istrinya berbinar bahagia seperti itu. Dave menahan diri untuk tak bertanya yang tidak-tidak. Demi menjaga perasaan Alana, ia tidak ingin mengacaukan perasaan bahagia Alana.


Apa ini? Bahkan sejak tadi setelah acara penobatan itu. Dave kembali ke rumah tak mendapati Alana. Ia kembali keluar mencari Alana hingga pukul dua belas malam. Di tengah rasa gelisahnya pada pukul satu, ia mendengar deru motor yang ia yakini itu istrinya. Benar, itu memang Alana. Namun, ia turun dari motor lelaki lain, yang tak lain merupakan sahabat istrinya.


💞


💞


Hallo selamat hari Senin. Jangan lupa di like, komentar, dan vote ya.. thank you 😍😍

__ADS_1


__ADS_2