
Seperti biasa pagi-pagi Dave sudah berada di meja makan. Namun, sudah lima belas menit berlalu, ia menunggu Alana. Tak juga kunjung datang. Kemungkinan gadis itu akan kembali melewati sarapannya.
“Salma, kau sudah mencoba panggilkan Alana?” tanya Dave.
“Belum Tuan. Kalau begitu biar saya–”
“Tidak perlu, biar aku saja!” pungkasnya. Dave beranjak dari kursinya, menuju kamar Alana.
Sementara itu, Alana yang berada di kamar baru membuka kedua matanya. Itupun rasanya masih enggan untuk melek. Rasanya ia juga capek, kemungkinan karena seharian ia bepergian. Hari ini ia memutuskan untuk di rumah saja. Berguling-guling di kasur ia pikir bukan sesuatu yang buruk.
Tok! Tok!
Ketukan pintu dari luar terdengar. Ia pikir paling itu Salma yang memanggilnya untuk sarapan. Jadi, Alana hanya bergeming tidak pula menyahut. Paling pelayannya itu sebentar lagi akan pergi.
Tok! Tok!
__ADS_1
Pintu kamarnya kembali terketuk. Alana berdecak, tumben banget Salma begitu kerasa kepala.
“Iya sebentar!” teriaknya.
Tanpa mengambil kimono tidurnya, dan hanya menggunakan gaun tidur tipis tanpa lengan, Alana pun beranjak dari kasurnya. Masih dengan penampilan khas bangun tidur. Karena ia pikir itu Salma, ia hanya akan bilang jika ia belum lapar, tidak mau sarapan.
Ceklek!
“Salma aku kan sudah bilang kalau–” kata-katanya berhenti begitu mendapati yang mengetuk pintu kamarnya bukan pelayannya, melainkan suaminya–Dave. Tubuh Alana terpaku di tempat, menatap penampilan Dave yang pagi itu terlihat menawan, sejenak ia terpesona hingga tak menyadari penampilan dirinya pagi itu seperti apa.
“Dave?” panggil Alana.
Namun, Dave hanya diam tak menyahut. Langkah kakinya mendekati Alana, perempuan itu bergerak mundur. Kebetulan pintu kamarnya ia buka dengan longgar.
Semerbak aroma bunga Lily seketika menguar kuat di Indra penciuman Dave. Hal itu membuat pikiran Dave berkelana, tak dapat berpikir dengan jernih.
__ADS_1
Alana mengerutkan keningnya, tak mengerti kenapa lelaki itu semakin mendekati dirinya. Keterkejutannya kian bertambah, saat tiba-tiba Dave menyambar bibirnya dengan cepat. Kedua mata Alana terbelalak, seiring dengan penguatan lembut, yang Dave ciptakan. Seketika tubuh Alana merasa lemas. Pagi itu kesadarannya belum sepenuhnya pulih, ia baru membuka matanya, bahkan belum mencuci muka atau sikat gigi.
Salah satu tangan kekar Dave memegang pinggang ramping Alana. Sementara, satunya memegang tengkuk Alana. Dave berusaha kuat untuk menerobos masuk lidahnya. Menyusuri kuat-kuat isi dalam mulut Alana.
Alana merasakan decapan, lili tan, dan lu ma tan Dave kiat terasa kuat dan lebih dalam. Entah karena kesadarannya yang belum pulih, atau memang ia begitu menyukai permainan bibir Dave.
Alana yang kemarin malam telah memutuskan untuk kembali membuat benteng pertahanan, menghindari lelaki itu. Kini justru terlihat menikmati ciuman Dave pagi-pagi. Rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang saling berlompatan di dalam seluruh sarafnya. Ia bahkan sampai mengeratkan tangannya pada jas lelaki itu. Ah! Bolehkah ia katakan. Jika ia sangat menyukai ciuman Dave? Tak apa jika semua akan mengatakan dirinya murahan, jika mengingat dirinya hanya seorang istri bayaran. Ia di bayar hanya untuk menjadi istri pura-pura, namun bagaimana kalau perlahan ia mulai menikmati perannya itu.
Dave meremas kuat pinggang Alana di balik gaun tidur yang di kenakannya. Ciuman Dave semakin dalam, hingga bunyi decapan lidah keduanya terdengar begitu kuat.
“Tuan, di bawah ada Tuan Zain. Saya di minta untuk...” Kedua mata Salma langsung terbelalak begitu melihat apa yang tengah kedua majikannya lakukan. Ia langsung berbalik badan. “Maaf Tuan,” cicitnya buru-buru kembali turun ke bawah.
Kedatangan Salma tadi telah menghentikan aktivitas panas keduanya pagi itu. Baik Dave dan Alana keduanya spontan langsung melepaskan ciumannya. Keduanya masih saling bertatap, bahkan tangan kekar Dave masih merengkuh pinggang ramping Alana.
“Dave?” panggil Alana pelan.
__ADS_1