
“Oh lama juga. Ada berapa banyak lelaki yang merasakan tubuhmu?”
Deg!
Kalimat itu mampu membuat Silvi terhenyak. Tidak menyangka jika ia pun akan mendapatkan hinaan dari lelaki itu. Lelaki yang selama ini selalu diam, jarang menyapa dirinya, kini justru bertanya perihal pertanyaan yang mampu menggores hatinya. Padanya selama ini Silvi menjatuhkan hatinya.
Mobil berhenti tepat di depan kontrakan Silvi. Gadis itu menoleh ke arah Zain dengan tatapan tak percaya, bertepatan dengan Zain yang menoleh ke arahnya. Zain berpikir Silvi akan marah dan menampar, atau memaki dirinya. Namun, dia justru terperangah dengan reaksi gadis itu selanjutnya. Gadis itu justru tertawa, seolah perkataan Zain bukan apa-apa untuknya.
Namun, kalimat selanjutnya membuat Zain tak bisa berkata-kata.
“Kenapa kau bertanya seperti itu, Tuan Zain Prasaja?” tanyanya sambil mencondongkan tubuhnya hingga jaraknya dengan lelaki itu terasa sangat dekat, bahkan Zain bisa mengendus aroma parfum gadis itu. “Apa kau ingin menjadi lelaki berikutnya yang menikmati tubuhku?” sambungnya dengan senyum menggoda. Bibirnya bergerak secara sen su al, jemari lentiknya bergerak mengusap dada bidang lelaki itu. Hal itu membuat Zain terkejut, seketika rasa gugup menyergap.
Zain menangkap pergelangan tangan Silvi, sejenak tatapan keduanya saling terkunci. Zain bisa merasakan suatu kebohongan di kedua mata gadis itu, membuat hatinya terusik. Adakah yang salah dengan perkataannya?
“Kamu—” Zain menyentak tangan gadis itu. “Menjauhlah!” sambungnya seraya membuang mukanya.
__ADS_1
Silvi terkekeh pelan, sejenak ia sadar jika lelaki di sisinya mungkin merasa jijik padanya. Baiklah! Akan ia tunjukkan seberapa menjijikan dirinya.
Tanpa di sangka, Silvi menggeser tubuhnya hingga duduk di pangkuan Zain, membuat lelaki itu terkejut. Dress Silvi yang hanya sebatas lutut tersingkap membuat paha mulusnya terekspos.
“Apa yang kau lakukan, Silvi?” sergahnya nafasnya memburu.
Silvi tersenyum sen su al, tangannya bergerak dengan leluasa mengusap pipi, turun ke rahang, lalu turun ke dada lelaki itu. “Sepertinya untuk membuat dirimu membeli tubuhku terlalu berharga uangmu, Tuan! Bagaimana jika ku berikan secara gratis saja?”
Zain semakin terkejut mendengarnya. “Silvi?!”
“Anggap saja sebagai imbalan karena kau sudah mengantarkan aku pulang. Bagaimana tuan? Penawaranku menarik bukan?” Silvi semakin gencar menggoda Zain. Namun, lelaki itu hanya terdiam membisu, entah apa yang tengah ia pikirkan tentangnya. Silvi tak peduli, biarkan saja ia semakin terlihat buruk di matanya.
Silvi memberikan satu kecupan singkat di bibir lelaki itu, membuat kedua mata Zain membulat.
“Hentikan Silvi!” pintanya.
__ADS_1
Zain tak pernah menyangka jika ia bisa merasakan segugup ini ketika berdekatan dengan gadis itu. Hingga saat gadis itu memilih menjauhkan tubuhnya, ada rasa kehilangan yang ia rasakan dalam hatinya.
“Penawaran hanya sekali Tuan Zain. Dan anda terlalu lama memberi jawaban. Aku pikir tidak akan ada untuk lain kali. Semoga harimu bisa di kelilingi orang-orang yang suci. Lupakan kejadian tadi. Dan anggaplah tidak pernah terjadi apapun pada kita.” Silvi merapikan barang-barangnya.
“Terima kasih, sudah memberikan tumpangan gratis,” sambungnya sebelum kemudian ia membuka pintu mobil, meninggalkan Zain yang masih duduk termangu.
Tanpa sadar tatapannya mengarah pada kaca spion mobilnya. Di mana ia bisa melihat tubuh Silvi perlahan menjauh darinya, ia menatap lekat gadis itu. Hingga rasa bersalah tiba-tiba menjalar pada rongga hatinya. Niatnya adalah membuat gadis itu sadar bahwa ia tidak memiliki rasa padanya. Namun, siapa sangka ia justru melukai harga diri seorang perempuan.
“Dam'n it! Sial!” Zain mengacak-acak rambutnya, sebelum kemudian ia memilih beranjak menghampiri gadis itu.
💞
💞
💞
__ADS_1
💞
Hallo, masih pada semangat gak? lanjut apa sampai sini saja🤔