
Felia meminta Louis memutar mobil menuju kantor, keduanya sampai di sebuah perusahaan yang terbilang mewah tetapi masih kalah dengan perusahaan milik Edbert. Peraturan dan Visi Misi perusahaan saja lebih menyukai perusahaan Edbert dibandingkan perusahaan Louis.
Keduanya turun dari mobil saat seorang laki-laki datang, lelaki itu menerima kunci mobil yang diberikan Louis.
"Kamu mau makan lagi?" tanya Louis saat mereka berdua sudah berada di dalam perusahaan.
"Tidak usah, aku udah kenyang." mereka berpisah saat sekretaris Louis datang, seperti biasa Louis selalu memberikan hal-hal romantis sampai seseorang iri dengan keromantisannya.
Cici belum lama datang tidak sengaja melihat keromantisan Felia dengan Louis, ia selalu berusaha memisahkan mereka berdua tapi hasilnya selalu gagal. Lebih parahnya Louis tidak pernah tertarik dengannya, walau dia berusaha menggoda Louis tetapi lelaki itu selalu menolak.
"Beruntung sekali Felia dapatin Louis, aku melihat hubungan mereka langsung iri apalagi mendapatkan pacar seperti Louis. Mungkin aku menjadi wanita paling beruntung di dunia ini."
Cici menatap dua wanita yang baru saja membicarakan hubungan Felia dengan Louis, "Kenapa harus Felia. Apa keistimewaan Felia sampai dia beruntung mendapatkan Louis."
[Rencana kamu gagal. Kamu mau berikan rencana apalagi, semua rencana yang kamu berikan sudah aku lakukan. Tidak ada satupun rencana yang kamu beri berhasil kepada Louis.]
Pesan yang dikirimkan Cici berhasil di terima seseorang, orang itu membalas pesan Cici saat langkah kakinya berhenti.
[Sehabis pulang kantor kamu temui saya di cafe sebrang jalan, saya akan memberikan rencana yang lebih sempurna dari rencana sebelumnya.]
Bibir Cici terangkat saat orang itu membalas pesan, ia bergegas menyimpan handphonenya kembali dan melakukan pekerjaan seperti biasa.
Felia melihat Cici sudah merapikan barang di meja kerja, wanita itu dengan cepat pergi selesai mengerjakan laporan kantor. Ia tidak pernah berpikir untuk mencurigai Cici, karena dia pikir wanita itu adalah sahabatnya bukan musuhnya.
Cici tiba di cafe sebrang jalan, ia memberikan uang kepada supir taksi. Dia turun dari taksi untuk menemui seseorang, masuk ke dalam cafe dengan mata mencari sesuatu. Saat matanya sudah menemukan seseorang yang dicari, ia melangkah menemui wanita itu.
Dia adalah rekan kerja untuk menghancurkan hubungan Felia, tepatnya sama-sama memiliki tujuan kepada Felia. Cici duduk dengan tas ia letakan di samping, wanita itu menatap Cici yang baru saja sampai.
"Sorry gua telat. Udah lama nunggunya?"
"Nggak begitu lama. Silakan pesan minuman dulu nanti saya bahas rencana selanjutnya." ucap wanita itu, Cici mengikuti kemauan wanita ini, ia memanggil pelayan wanita untuk memesan minuman.
"Apa rencana selanjutnya sampai kamu memintaku datang kemari." wanita itu meninggalkan minuman yang dari tadi hanya dimainkan, wanita itu menatap Cici dengan mode serius.
Wanita itu menjelaskan semua rencana dari awal sampai akhir, Cici mengangguk dengan ucapan wanita ini. Ia menatap wanita ini saat rencana yang diberikannya selesai.
__ADS_1
"Kamu yakin rencana ini akan berhasil?" tanya Cici menatap wanita di depannya.
"Kau meremehkan saya?" kali ini wanita itulah yang bertanya, Cici dengan cepat menggeleng saat wanita ini memberikan tatapan mengerikan.
"Saya bukan bermaksud meremehkan kamu, tapi saya gak yakin rencana ini berhasil. Soalnya rencana sebelumnya gagal dan kamu bisa yakin dengan rencana ini." wanita itu sama sekali belum menjawab ucapannya, karena mereka melihat pelayan wanita membawakan pesanan Cici.
"Sudah kamu ikuti aja rencanaku, aku yakin rencana ini pasti berhasil kalau sampai gagal lagi aku akan membuat rencana selanjutnya."
"Baik, saya akan melakukan ucapan kamu." Cici memilih menghabiskan minuman yang sempat ia pesan, sedangkan wanita di depannya terus menatap Cici.
***
Cici tiba di kantor lebih dulu dibandingkan karyawan lain, ia pergi ke salah satu ruangan CEO. Ruangan yang hanya boleh di tempatkan oleh Louis, ia memberikan kopi di samping kopi terdapat satu surat yang dia buat sendiri. Kedua benda itu ia tinggalkan di atas meja Louis, ia memilih pergi setelah tugasnya selesai.
kepergian Cici dari ruangan Louis membuat satu wanita melihat kedatangan Cici, wanita itu mengerutkan kening melihat Cici keluar dari ruangan Louis.
"Buat apa wanita itu ada di sini! Kenapa sikapnya mencurigakan sekali, apa dia sedang melakukan sesuatu di ruangan bos?" ia tetap memperhatikan Cici meninggalkan area ruangan Louis, barulah ia meminta seseorang untuk mengecek CCTV.
Louis tiba di kantor bersama dengan Felia, keduanya masuk dan berpisah ke tempat kerja masing-masing. Louis melihat ada sebuah kertas dan kopi di atas meja, ia terus melangkah melihat siapa yang mengirimkan kopi.
Hai, sayang. Jangan lupa di minum kopi buatan aku, jangan dibuang ya. tidak lupa dengan emoticon senyum.
Felia terus menganggap Cici aneh, dari kemarin wanita ini terus tersenyum tanpa henti. Dari kemarin Felia hanya bersikap biasa saja terhadap perubahan sikap Cici, tapi lama kelamaan wanita ini semakin aneh.
Sebuah ketukan meja membuat lamunan Felia tersadar, ia melihat ketua datang meminta Cici datang keruangan Louis. Entahlah apa dia curiga atau tidak, tapi wanita itu sedang berusaha melakukan sesuatu.
Cici membawa dokumen yang diminta Louis, langkah kakinya terhenti saat berdiri di depan pintu ruangan Louis. Ia menghela nafas panjang sebelum memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
"Letakan saja dokumen itu." ucap Louis tanpa melihat keberadaan Cici, Cici mengikuti kemauan Louis dan seketika ia mengingat rencananya dengan wanita itu.
Cici memberanikan diri untuk mendekat kearah Louis, ia masih berdiri di hadapan Louis walau hanya terhalang meja. Wanita itu menatap dan duduk di kursi yang tersedia di depan mata.
"Perlu saya bantu?" tanya Cici masih menatap Louis.
"Tidak perlu, kamu bisa melakukan pekerjaan kamu sendiri." Cici diam saat jawaban Louis tidak membuatnya puas.
__ADS_1
Cici merasa diabaikan mulai menggunakan taktik untuk menggoda Louis, ia berdiri dari tempat duduk berjalan kearah Louis. Kakinya terus melangkah tepat di belakang Louis, ia membungkuk badan menyentuh tangan Louis yang sibuk menggunakan mouse komputer.
Louis yang merasa tangannya di sentuh dengan cepat menarik tangannya kembali, ia memutar kursi menatap Cici.
"Jangan ganggu saya. Kamu mau saya pecat dari perusahaan?" kata Louis dengan tegas tidak lupa dengan tatapan tajam yang mengarahkan Cici.
Cici yang mendapatkan ancaman dari Louis tersenyum sinis dan kembali menatap Louis, "Ancaman bapak tidak berlaku untuk saya. Selama ini saya selalu memperhatikan bapak dan bapak menganggap saya orang asing, apa bapak tidak pernah memikirkan perasaan saya?"
Louis tidak menjawab ucapan Cici, ia malah melipat kedua tangan dengan satu kaki diangkat. "Memikirkan perasaan kamu? Buat apa saya memikirkan perasaan kamu sedangkan saya harus memikirkan perasaan Felia. Kamu itu hanya karyawan saya bukan kekasih saya, wajar kalau saya mengabaikan kamu karena kamu bukan siapa-siapa saya. Jadi saya harap kamu tidak berharap apapun sama perasaan kamu sendiri."
Selesai menyelesaikan pekerjaan Felia melangkah menemui Louis, ia melangkah menuju ruangan Louis. Cici yang mendengar suara langkah kaki seseorang langsung memulai rencananya.
Pandangan pertama yang dilihat Felia saat pintu ruangan Louis terbuka, dia melihat Cici dengan Louis ciuman. Adegan itu sangat nyata saat ia melihatnya sendiri.
"Sayang." panggil Felia. Mendengar suara Felia Louis mendorong tubuh Cici untuk menjauh, ia berdiri menatap Felia berdiri di ruangannya dengan menatap kearahnya.
"Sayang, aku bisa jelasin. Aku tidak mungkin melakukan hal itu sama Cici, kamu harus percaya sama aku. Aku tidak mungkin mengkhianati hubungan kita." Louis terus berbicara untuk menjelaskan semuanya tetapi Felia malah mengabaikannya.
Felia memilih melangkah kearah Cici, ia terus melangkah sampai ia berada di hadapan Cici. Tanpa memiliki rasa kasihan terhadap Cici ia menyiramkan wajah Cici dengan air, air yang berada di meja Louis.
Cici menghapus air yang terkena wajah, ia menatap Felia dengan marah karena Felia berani menyiramnya dengan air, ditambah Louis hanya menonton kejadian ini.
"Saya pikir saya tidak tau niat busuk kamu untuk mendekati Louis. Dari awal saya sudah menebak kalau kamu pasti akan menghancurkan hubungan saya dengan Louis, walaupun kamu sahabat saya bukan berarti saya tidak berani sama kamu."
"Saya tidak akan pernah memberikan Louis sama kamu, dan saya akan melawan kamu karena kamu lebih pantas diperlakukan seperti ini." ucapnya kembali dengan menatap Cici.
Tanpa menjawab ucapan Felia ia memilih pergi, Louis tidak menyangka ternyata Felia berani melawan Cici dia pikir Felia seperti ada di adegan film yang kabur dengan keadaan salah paham.
"Sayang." panggilnya membuat Felia menatap Louis.
"Kamu gak apa-apa 'kan?" tanya Louis mengkhawatirkan keadaan Felia, wanita itu sama sekali tidak menjawab malah memilih pergi.
"Felia."
***
__ADS_1
...Jangan lupa Like, komen dan tambahkan novel ini ke rak buku kalian 🙂🙂🙂...
...Semoga kalian suka dengan cerita ketiga ku!!...