
"Kamu gak apa-apa sayang?" tanya Edbert melihat Felia seperti orang yang lagi ketakutan.
Felia tidak berani bicara, yang dia lakukan hanyalah memeluk tubuh Edbert saat suaminya ini berhasil menemukannya. Edbert yang melihat sikap Felia mencari tempat yang aman untuk menghentikan mobilnya, lalu dia menatap Felia saat meminta Felia untuk melepaskan pelukannya.
"Sayang, coba kamu bicara pelan-pelan sebenarnya siapa yang melakukan ini sama kamu. Kenapa aku melihat kamu dalam keadaan seperti ini." ucap Edbert yang melihat Felia berpenampilan berantakan, walau pakaiannya masih sempurna tapi rambut sudah tidak ada bentuknya.
"Aku... Aku dapat nomor tidak dikenal, awalnya aku mengira orang itu adalah orang iseng jadi aku tidak menghiraukannya. Tapi saat dia membawa nama kamu aku penasaran siapa orang tersebut, saat aku datang ke alamat yang dia kirim melalui pesan. Aku merasa ada seseorang yang memukulku dengan balok, terus aku pingsan."
Edbert masih mendengar cerita yang keluar dari bibir Felia lalu istrinya melanjutkan ceritanya kembali, "Saat aku sadar aku mendengar suara perempuan yang menurutku tidak asing, pas aku minta wanita itu membuka penutup mata aku melihat Theia yang berada di sana."
"Aku merasa ketakutan saat melihat Theia membawa senjata tajam dan aku melihat di belakang Theia ada laki-laki yang bertubuh besar. Dia memintaku untuk menjauhi kamu dan aku tidak setuju, aku takut wanita itu akan melakukan hal ini lagi."
Sudah dia duga kalau pelakunya Theia, ia sudah menebak kalau wanita itu akan melakukan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Ini tidak bisa dibiarkan gitu aja, yang ada Felia akan dalam bahaya di tempat ini.
"Sudah kamu tenang dulu jangan berpikir macam-macam lagi, kamu gak usah takut aku akan selalu berada di samping kamu. Masalah ini biar aku urus kamu istirahat aja di hotel, nanti aku akan kabarin kamu setelah urusanku selesai." urai Edbert membuat Felia menatap suaminya.
Edbert tersenyum saat melihat Felia menyentuh tangannya, "Kamu akan melakukan apa terhadap Theia, kamu tidak akan menyakiti dia kan?"
"Nggak sayang. Sekarang aku bawa kamu ke hotel dan aku akan menemui dia, masalah ini biar aku selesaikan dengan dia kamu istirahat aja. Setelah masalahku selesai kita lanjut lagi jalan-jalannya." kata Edbert menyakinkan Felia kalau apa yang ditakutkan istrinya tidak akan terjadi lagi.
"Baiklah." Edbert mengusap kepala Felia, lalu dia melanjutkan perjalanannya kembali.
Edbert yang sudah memastikan Felia masuk ke hotel, dia segera pergi dari sana ia akan menemui Theia saat dia mengirimkan sebuah pesan untuk wanita itu. Theia yang mendapatkan pesan dari Edbert merasa senang, dia bergegas menemui pria itu.
Walau dia kesal dengan Felia, tetapi ia sangat beruntung Edbert mengirimkan dia pesan. Edbert menunggu kedatangan Theia di salah satu diskotik berada di negara Swiss, tempat yang sangat terkenal dan termegah.
Theia tersenyum saat melihat sosok Edbert berada di sana, ia dengan cepat menghampiri Edbert saat lelaki itu sibuk menghisap rokok. Melihat kedatangan Theia Edbert mematikan rokok dan memilih fokus dengan tujuannya.
__ADS_1
"Buat apa kamu mengirim pesan kepada Felia, kenapa kamu malah memukul Felia sampai pingsan. Sebenarnya apa mau kamu Theia kenapa kamu malah melakukan hal sekejam itu." kata Edbert membuat Theia menuangkan segelas wine.
Wine itu ia minum sampai habis barulah Theia kembali menatap Edbert, "Karena aku tidak suka kamu dimiliki siapapun Edbert, hanya aku yang bisa mendapatkan kamu bukan wanita lain."
"Apa kamu sudah gila melakukan hal itu Theia? Apa kamu tidak bisa menggunakan akal kamu sampai nekat seperti itu."
"Kamu benar aku memang gila! Gila karena cinta aku ke kamu Edbert, kalau bukan karena wanita itu aku tidak mungkin melakukan hal sejahat ini."
Edbert menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu dia kembali melihat Theia, "Kamu ini kenapa selalu membuatku susah. Aku sudah katakan sama kamu lupakan perasaan kamu itu, jangan sampai perasaan kamu merusak kehidupan kamu."
***
Theia tidak terima Edbert berkata seperti itu, yang dia mau lelaki itu menerima cintanya bukan malah melupakannya. Theia mencoba mencari rencana selanjutnya untuk menggoda Edbert, yang dia tau lelaki akan tergoda dengan bentuk tubuh wanita.
Ia akan mencoba trik itu ke Edbert, siapa tau Edbert akan berubah pikiran dan memilihnya dari pada istrinya itu. Theia membuka jaket bulu yang menutupi bagian atas tubuhnya, lalu dia menghampiri Edbert untuk duduk di sebelah Edbert.
Edbert mendorong tubuh Theia saat tangan wanita ini hampir menyentuhnya, dia melihat Theia terjatuh akibat dorongannya. Melihat itu Edbert melangkah menghampiri Theia yang berusaha untuk bangun.
"Saya katakan sekali lagi sama kamu Theia, kalau kamu masih berani mengganggu kehidupanku atau mengganggu istriku lagi. Aku tidak akan segan-segan membuatmu menyesal dan aku tidak pernah merasakan kasihan terhadap wanita rendahan seperti kamu." ucap Edbert membuat wanita itu menahan marah.
Mana mungkin dia tidak marah karena Edbert memperlakukannya seperti barusan, Theia yang berhasil bangun melihat Edbert membawa beberapa laki-laki yang sangat kekar. Tiga lelaki itu melihat penampilan Theia yang sangat seksi, membuat ketika lelaki itu nampak tergoda dengan penampilan Theia.
Theia menutupi kedua dadanya menggunakan tangan dengan tatapannya terus tertuju pada Edbert, "Kamu kenapa membawa ketiga pria ini Edbert, sebenarnya apa yang akan kamu lakukan sama aku."
Edbert tersenyum mendengar perkataan Theia, lalu dia sangat menarik dan menantikan momen dimana Theia menderita. Ia memilih melangkah menghampiri Theia yang sedang ketakutan, lalu dia berbisik tepat ditelinga Theia.
"Aku mau kamu merasakan apa yang dirasakan Felia, kamu mau taukan kenapa Felia lebih sempurna dari kamu. Dan saya lebih menyukai istri saya dari pada kamu."
__ADS_1
"Sekarang kamu nikmati permainanku Theia, kamu yang mulai lebih dulu jadi aku akan mempersilahkan ketiga lelaki itu untuk menikmati tubuh kamu. Karena sayang kalau aku saja yang menikmatinya, jadi bersenang-senanglah menikmati kehancuran kamu Theia."
Setelah selesai bicara dengan Theia ia memutuskan untuk pergi dan menyerahkan wanita itu kepada ketiga lelaki yang dia sewa, ia sudah tidak peduli lagi dengan Theia yang terpenting Felia sudah aman. Theia terus berteriak melihat kepergian Edbert saat lelaki asing ini terus mendekat.
Edbert bergegas kembali ke hotel untuk menemui Felia, saat ia sudah sampai di hotel dia melihat Felia sibuk menonton televisi dengan berbagai banyak cemilan.
"Sayang, kamu kenapa belum tidur. Bukannya aku menyuruhmu istirahat." kata Edbert yang sudah duduk di samping Felia.
"Aku belum ngantuk." Felia menghentikan memakan cemilan lalu dia mematikan televisi karena dia ingin fokus dengan Edbert.
"Apa yang kamu lakukan dengan Theia." lontar Felia dengan tepat sasaran, ia tidak tau kenapa Felia mengetahui kalau dirinya melakukan sesuatu kepada Theia.
"Aku tidak melakukan apapun aku hanya bicara sebentar lalu aku pergi udah itu doang."
"Kamu yakin hanya itu saja?" Edbert merasa kalau Felia seperti mengetahui segalanya, tapi ia berusaha untuk tidak ketahuan oleh Felia.
"Ya sayang aku yakin. Kamu gak percaya sama suami kamu ini?"
Felia kembali memalingkan wajahnya dan memilih bersandar di punggung sofa, "Bukannya aku gak percaya sama kamu, aku tau sifat kamu kaya gimana. Mana mungkin kamu cuman bicara sebentar lalu pergi pasti kamu melakukan sesuatu sampai sikap kamu tenang begitu." Felia terus saja menatapnya, sebenarnya ia takut dengan tatapan Felia tapi mau gimana lagi Felia lebih tau segalanya.
"Baiklah aku mengaku, aku sedikit melakukan sesuatu kepada Theia. Tapi aku tidak mungkin melukai Theia, kamu percaya sama aku, aku mana mungkin melakukan itu sama dia."
"Kamu yakin dengan ucapan kamu barusan?" tanya Felia kembali, karena ia tidak sepenuhnya yakin dengan suaminya.
"Ya sayang aku yakin. Sudahlah jangan dibahas lagi, dari pada kamu mikirin Theia lebih baik kita lakukan itu lagi. Aku tidak sabar memberikan benih di rahim kamu, siapa tau benih itu akan cepat muncul kalau aku rajin melakukan itu sama kamu." urai Edbert membuat Felia jengah.
Pria ini taunya hanyalah itu saja, mau gimana lagi dia sebagai istri harus mengabulkan permintaan suaminya. Akhirnya ia menyetujui keinginan Edbert dan mereka lakukan hal itu kembali untuk melakukan setiap hari supaya benih itu segera muncul.
__ADS_1