Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Pindah Rumah


__ADS_3

"Bapak yakin dengan keputusan bapak itu?" tanya Laura yang sedikit ragu dengan rencana yang dibuat bosnya.


Louis yang sibuk mengerjakan laporan kantor memilih melihat kearah Laura, "Iya, apa menurut kamu saya ini berbohong untuk hal itu. Saya tidak mungkin meninggalkan kamu, apalagi saya tidak bisa tahan kalau berjauhan sama kamu."


Laura tersenyum saat mendengar perkataan Louis, ia memeluk bosnya ini saat dia melihat kalau Louis membalas pelukannya. Dia sangat senang kalau terus bersama dengan Laura, ia akan membuat Laura berada di dekatnya walau nanti Laura akan bertemu dengan Felia.


Tiga hari tidak bertemu dengan Felia seakan dirinya merindukan wanita itu, tiba di rumah Louis mencari keberadaan Felia yang sibuk menonton televisi sambil memakan cemilan.


"Sayang." ucap Louis langsung menghampiri Felia tidak lupa memeluk tubuh istrinya.


"Kamu sudah pulang? Sudah tiga hari ini kamu sibuk, apa kamu tidak merindukan aku dan anak kita." kata Felia yang terus mengusap rambut Louis, saat ini Louis masih nyaman di pelukan Felia sampai dirinya lupa dengan tujuannya.


Setelah puas memeluk Felia ia kembali menatap Felia dengan duduk saling menatap, ia mengambil dua tangan Felia untuk ia genggam di tangannya.


"Sayang, ayah belum pulang?"


"Belum. Sepertinya ayah akan lembur jadi tidak pulang cepat, memangnya kenapa kamu menanyakan ayah."


"Tidak apa." sebelum Louis melanjutkan pembicaraannya ia mengeluarkan sesuatu, di sana ia melihat kalau suaminya ini mengeluarkan sebuah kunci.


Melihat kunci itu Felia menatap Louis untuk meminta penjelasan, "Sayang, kamu masih ingatkan aku pernah bilang kita akan punya rumah baru sebelum rumah itu selesai direnovasi." Felia mengangguk menanggapi perkataan Louis lalu pria ini melanjutkan pembicaraannya lagi.


"Rumah baru kita sudah selesai direnovasi, jadi hari ini kamu boleh melihat rumah itu dan ini kunci rumah kita." ucapnya saat ia melihat Louis memberikan sebuah kunci rumah.


"Kamu yakin sama ucapan kamu."


"Iya, aku yakin. Sekarang kita tidak usah tinggal di rumah ayah lagi, kita sudah punya rumah sendiri. Itu kemauan kamu 'kan hidup di rumah sendiri dan fokus mengurus rumah tangga. Di sanalah nanti anak kita tumbu dan menjadi keluarga yang bahagia." kata Louis membuat Felia memeluk suaminya, sungguh ini seperti mimpi sebentar lagi dia akan pindah di rumah baru.


Rasanya ini bukanlah kenyataan tapi dia yakin kalau hal itu akan terjadi, dan benar saja doanya selama ini terkabul. Ia akan memiliki keluarga baru di rumah barunya ini.


Felia melepaskan pelukannya dan memilih menatap suaminya, "Aku senang kita bisa memiliki rumah dan tidak perlu merepotkan ayah lagi, tapi apa ayah akan menyetujui keputusan kita untuk pindah di rumah baru kita."


"Kamu tenang aja aku akan bicara dengan ayah, aku yakin ayah tidak akan melarang kita untuk memulai kehidupan baru di rumah baru kita."


Felia sangat menyetujui keputusan Louis, ia sebagai istri hanya mengikuti kemauan suaminya. Dia sudah sangat membayangkan kalau nanti keluarganya akan lengkap bersama dengan anaknya.

__ADS_1


Malam harinya, ketika tiga orang itu melaksanakan makan malam Louis lebih dulu mengakhiri kegiatan sarapannya. Dia kembali menatap ayahnya saat ia melihat kalau ayahnya masih sibuk makan.


"Ayah! Ada hal yang ingin kita bicarakan." ucap Louis saat ia mendengar pembicaraan putranya ini mulai serius.


Edbert menyingkirkan sendok dan piring, dia lebih menikmati pembahasan yang dilontarkan Louis. "Apa yang ingin kalian bicarakan sepertinya pembicaraan kalian sangat serius."


"Ayah, aku dengan Felia akan pindah dari sini."


"Maksud kamu?" tanya Edbert yang memberikan kerutan di kening.


Sebelum Louis memulai pembicaraan ia lebih mengambil nafas panjang barulah ia kembali menatap ayahnya, "Aku akan pindah dari sini. Rumah yang awalnya akan kita tinggalkan sudah selesai direnovasi, sekarang aku akan membawa Felia tinggal di rumah baru kita."


"Apa ayah akan menyetujui keputusan aku dengan Felia." ucapnya tanpa mengalihkan pandangan, mata mereka masih saling menatap Edbert.


Edbert masih setia bungkam saat mengetahui kalau Louis akan pindah dengan Felia, dan ia tidak akan pernah melihat Felia lagi.


"Kapan kalian pindah?" pertanyaan itu sontak membuat keduanya melihat Edbert, sudah beberapa menit Edbert terdiam barulah lelaki itu membuka suara.


"Besok, yah. Ayah boleh ikut dengan kita untuk melihat keadaan rumahnya." kata Louis.


***



Sungguh hebat putranya ini, rumah yang mereka impikan selesai dan interior rumah ini sangatlah bagus. Walau tidak terlalu mewah tapi rumah ini sudah terlihat nyaman, cocok sekali untuk mereka berdua.


"Gimana sayang kamu suka sama rumahnya?" tanya Louis yang melihat Felia masih menatap rumah barunya.


Felia memilih melihat kearah Louis saat ia selesai terhipnotis dengan rumah barunya, "Bagus banget aku suka sama rumahnya."


"Bagus kalau kamu suka, aku senang bisa pindah ke rumah ini sama kamu. Dan kita akan hidup bahagia di sini bersama dengan anak kita nanti, kalau anak kita sudah besar baru kita pindah yang lebih besar lagi." ucap Louis yang memeluk pinggang Felia.


Felia tidak percaya dengan ucapan Louis, rumah sebesar ini sudah cukup untuknya. Dan Louis akan membangun rumah lagi setelah anaknya besar apa itu tidak butuh waktu lama.


"Tidak usah sayang, rumah ini sudah cukup untuk kita. Lagian buat apa rumah besar kalau hanya keluarga kita aja yang tinggal." Louis tersenyum mendengar ucapan Felia, ia sangat beruntung mendapatkan istri seperti Felia.

__ADS_1


Selama menikah Felia tidak pernah menuntutnya dan ia tidak akan melepaskan wanita baik seperti Felia. "Yasudah kita masuk ke dalam yuk."


Keduanya masuk begitupun dengan Edbert, sungguh luar biasa saat melihat ke dalam rumahnya. Dalamnya sangat luar biasa dibandingkan di luar, Edbert sangat bangga melihat konsep rumahnya ini. Dia yakin putranya ini sudah dewasa, dan dia akan mempercayai Louis untuk menjaga Felia.


"Aku akan membawa kamu ke kamar kita." ucap Louis membuat Felia melirik Louis, keduanya melangkah ke lantai atas tepat di kamar mereka.



Melihat kamar mereka seakan Felia tidak bisa berkata-kata, kamarnya sangatlah indah apalagi saat ia masuk ke toilet begitu menakjubkan. Dia yang sibuk melihat kearah kamar tiba-tiba saja Louis memeluknya.


"Gimana sayang kamu suka sama kamarnya?" tanya Louis yang masih memeluk tubuh Felia yang sangat wangi.


"Suka banget, makasih ya sayang kamu sudah memberikan hadiah sebagus ini." kata Felia membuat Louis melepaskan pelukannya dan dia membalikan tubuh Felia untuk menghadap kearahnya.


"Tidak perlu makasih udah kewajiban aku untuk membahagiakan kamu. Maaf selama ini aku terlalu sibuk dan tidak menyempatkan waktu berduaan sama kamu." ucapnya dengan menunduk sampai Felia yang melihatnya langsung mengangkat dagu suaminya.


"Nggak apa-apa, aku paham kamu bekerja untuk keluarga kita jadi kamu tidak perlu minta maaf atau merasa bersalah seperti itu." lagi-lagi Felia melihat Louis memeluknya terus, pelukan hangat yang diberikan Louis mampu membuatnya nyaman.


Saking nyamannya pelukan itu sampai keduanya mendengar suara ketukan, Louis menggenggam tangan Felia untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.


"Ayah."


"Kalian berdua boleh turun sebentar ayah ingin bicara dengan kamu Louis. Setelah ini ayah tidak akan menggangu kalian lagi." ujar Edbert membuat Felia malu, dia hampir saja ketahuan kalau sebenarnya ia ingin berduaan dengan suaminya.


Edbert mengajak Louis ke salah satu ruangan, dua laki-laki itu sama-sama terdiam saat mereka tiba di ruangan tersebut.


"Ayah ingin bicara apa sampai Felia tidak boleh mengetahui pembicaraan kita."


"Ayah cuman mau bilang sama kamu, jaga Felia. Ayah tidak mau melihat menantu ayah sedih, maaf waktu itu ayah sempat menampar kamu. Ayah tidak bermaksud melakukan itu, ayah..."


"Nggak apa-apa yah, aku mengerti tindakan ayah kemarin supaya aku bisa lebih dewasa lagi. Aku paham ayah ngelakuin itu biar aku bisa menjadi suami yang baik, dan aku janji tidak akan mengecewakan ayah." Edbert langsung memeluk tubuh Louis, ia tidak tau harus melakukan apa selain memeluk putranya.


Barulah pelukan itu terlepas, "Baiklah ayah percaya sama kamu, sekarang kita samperin istri kamu dan ayah akan pamit sama Felia."


Kedua lelaki itu kembali keruang tamu, selesai berpamitan Edbert bergegas ke rumah dengan anak buahnya. Tinggal mereka berdua yang berada di rumah tersebut.

__ADS_1


"Istirahatlah aku mau hubungi Novan untuk menanyakan pekerjaan." ujar Louis membuat Felia mengangguk.


__ADS_2