Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Pertunangan Akan Segera Dilakukan


__ADS_3

"Kamu bukan simpanan saya, Felia." kata Edbert yang tidak menyukai ucapan Felia, dia tidak pernah menganggap Felia adalah simpanannya.


Felia menatap begitupun dengan Edbert, "Kalau saya bukan simpanan om terus apa? Kita udah pernah melakukan itu om, bukan hanya sekali melainkan berkali-kali. Aku takut mereka menganggap aku wanita tidak tau malu, yang hanya memanfaatkan kekayaan Louis demi mendapatkan om. Karena om lebih kaya dibandingkan Louis."


Edbert tidak bisa menjawab ia masih setia mendengarkan semua perkataan Felia, "Mereka hanya tau aku dengan Louis pacaran dan status kita? Tidak ada status diantara kita om, om hanyalah ayah dari Louis sedangkan saya pacar dari anak om."


"Saya menganggap om seperti ayah sendiri bukan berarti saya memiliki perasaan kepada om. Saya harap om mengerti maksud perkataan saya." setelah mengungkapkan semua isi hatinya, Felia memilih pergi dan kembali ke kantor.


Yang awalnya ia ingin mencari makan siang, menjadi tidak terpikirkan lagi untuk membeli makan siang. Edbert masih tetap diam, ia tidak tau harus melakukan apa. Dia hanya bisa terdiam dengan semua ungkapan Felia, dan itu semua begitu menyakiti dirinya sendiri. Seharusnya dia menyadari kalau diantara mereka tidak ada hubungan, dan dialah yang merasakan kalau Felia hanyalah untuknya.


Tiba di apartemen Louis bergegas membersihkan seluruh tubuh, tidak hanya itu baju yang dia gunakan sengaja ia lempar di tong sampah. Pakaian yang sudah ternodai membuat dirinya enggan memakainya lagi, setelah semua tubuhnya terasa segar Louis melangkah mengambil handphone.


Ia terus mencari nomor kekasihnya, setelah mendapatkan nomor Felia ia langsung menghubungi wanita itu.


"Louis." gumam Felia menatap handphone yang terdapat nama panggilan dari Louis, ia dengan cepat mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, sayang."


"Ya, kamu udah pulang?" tanya Felia membuat Louis tersenyum, seminggu tidak bertemu dengan Felia membuat dirinya merindukan wanita ini.


"Aku sudah sampai di apartemen, besok aku akan kembali ke kantor. Sekalian besok aku ingin bicara sama kamu."


Felia mengerutkan kening mendengar perkataan Louis, "Mau bicara apa? Kalau pembicaraan kamu penting katakan aja."


"Aku gak bisa mengatakannya di telepon, besok jam makan siang aku akan bicara sama kamu. Jadi, kamu tunggu saja nanti aku akan mengatakannya."

__ADS_1


"Baiklah, kamu istirahat aja aku masih ada pekerjaan di kantor." Felia mengakhiri panggilan telepon, Felia meletakan handphonenya kembali dan kembali fokus bekerja.


Keesokannya Felia dikejutkan oleh ucapan Louis, tepat jam makan siang Louis mengajaknya makan siang di tempat yang berbeda. Pria itu mengatakan untuk bertunangan dengannya, dan lebih mengejutkannya kalau Louis akan mengumumkan pertunangannya.


"Sayang, kamu yakin dengan pertunangan kita?" Louis menghentikan bermain handphone memilih menatap Felia.


"Kamu ini kenapa? Bukannya dari dulu kamu sudah berjuang mendapatkan restu ayah, dan kenapa kamu malah bersikap tidak menginginkan pertunangan ini." kata Louis masih menatap Felia serius, ia juga mencoba mencari sesuatu didalam mata Felia.


Ditatap seperti itu membuat Felia mengalihkan pandangannya, ia menghela nafas sebelum Felia bicara kembali.


"Bukan gitu, rencana yang kamu buat ini semua secara mendadak. Aku masih kaget dengan perkataan kamu yang tiba-tiba mengatakan ingin bertunangan. Apa kamu yakin kalau ayah kamu akan merestui kita lagi? Atau kamu gak mau dipikirkan kembali masalah pertunangan kita." pandangan mereka masih saling menatap tidak dengan Louis, ia memilih menggenggam tangan Felia yang lagi nganggur.


"Kamu gak usah khawatir masalah ayah akan aku selesaikan, kamu tinggal menunggu saja dan semua acara pertunangan kita akan selesai."


***


"Aku dengan Felia akan segera bertunangan." ucapan yang diberikan Louis mampu membuat Edbert tersedak, ia berusaha menghentikan rasa sakit akibat air yang masuk mengenai hidung.


Kali ini tatapan Edbert mengarahkan kepada Louis, "Bertunangan? Kamu ini baru pulang melakukan perjalanan bisnis, kenapa kamu memutuskan untuk melakukan pertunangan dengan Felia. Apa pertunangan kalian tidak bisa dipikirkan kembali?"


Louis menghentikan sarapan dan menyimpan sendoknya kembali, "Aku tidak bisa memikirkannya lagi ayah. Hubungan aku dengan Felia sudah cukup lama, seharusnya hubungan ini akan diteruskan kejenjang pernikahan bukan malah memperlama hubungan ini."


Ucapan Louis memang benar, tapi masalahnya dirinya yang belum bisa melepaskan Felia, dan hatinya masih untuk wanita itu. Mendengar Louis akan bertunangan dengan Felia membuat hatinya sakit, bagaimana mereka berdua menikah dan hidupnya akan lebih hancur lagi.


"Baiklah, ayah akan merestui hubungan kalian. Dan kalian bisa menentukan tanggal, bulan dan hari yang pas untuk pertunangan kalian." kata Edbert membuat Louis menatap Edbert dengan tatapan lebar.

__ADS_1


"Ayah serius?" tanya Louis untuk memastikan kalau pendengarannya masih jelas, dan Edbert mengangguk untuk menyetujui ucapan Louis.


Pagi harinya di kantor semua karyawan sudah berkumpul, mereka sengaja di kumpulkan karena Louis akan mengumumkan pertunangannya dengan Felia. Banyak karyawan pada penasaran kenapa mereka dikumpulkan seperti ini, tidak hanya karyawan saja satu wanita ikut penasaran.


Wanita itu terus menunggu kedatangan Louis, sampai lelaki itu datang bersama dengan Novan.


"Selamat pagi semua. Terima kasih kalian sudah mau melakukan perintah yang saya berikan, saya meminta kalian berkumpul di sini untuk memberikan pengumuman penting untuk kalian."


"Felia." Felia yang namanya dipanggil menatap Louis, lelaki itu memintanya untuk menghampiri Louis.


Louis memberikan senyuman saat mata Louis menatap Felia, ia juga menyentuh tangan Felia dengan lembut. "Saya akan mengumumkan kepada kalian kalau saya dengan Felia akan bertunangan."


Semua karyawan tidak percaya dengan ucapan Louis, saat Louis menunjukan tangan yang dia genggam barulah mereka mengerti maksud ucapan Louis. Karyawan di sana memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua, Felia hanya memberikan senyuman walau hatinya, entahlah harus senang atau sedih.


Diseberang sana satu wanita tidak percaya dengan pengumuman pagi ini, ia malah menganggap berita ini hanyalah mimpi buruk tapi nyatanya bukan mimpi melainkan nyata. Wanita itu pergi dengan perasaan kesal, pria itu malah mengumumkan pertunangannya bukan memikirkan perasaannya.


"Kenapa di dunia ini harus Felia yang beruntung. Kenapa wanita itu yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, sedangkan dirinya hanya mendapatkan sampah dari orang-orang." batin Cici menatap dirinya kesal, ia terus menggigit jarinya dengan mulut untuk melampiaskan amarahnya.


Tidak hanya itu saja tangan sebelah kanan terdapat darah yang sudah mengalir, Cici sengaja melukai dirinya sendiri walaupun orang lain tidak akan memperdulikan sikap Cici.


"Felia, Felia, dan Felia. Kenapa harus wanita itu yang mendapatkan semuanya, kenapa dunia ini tidak adil untuknya. Seharusnya dia yang ada di posisi Felia bukan wanita itu." ujar Cici menatap kearah bingkai foto yang terdapat foto dirinya dan juga Felia.


Foto dimana mereka dipertemukan disaat masih kecil, dari kecil Felia selalu beruntung mendapatkan apa yang ia mau. Sampai sekarang wanita itulah yang mendapatkannya lagi, sekarang dialah yang paling menderita dan paling sial di dunia ini.


Cici mengambil bingkai foto itu dan membuangnya, "Lihat saja kamu Felia, apa yang kamu dapatkan sekarang akan aku rebut. Dan semua yang kamu miliki suatu saat akan menjadi milikku."

__ADS_1


__ADS_2