
Di meja kantor terdapat seorang wanita yang sibuk melamun, pikirannya terus mengarahkan ke Louis. Dia sempat keruangan Louis untuk memberikan laporan, dan juga menemui suaminya tapi yang ia dapatkan malah Louis tidak berada di ruangan.
Dia sudah menanyakan keberadaan Louis melalui Novan tapi pria itu mengatakan Louis ada urusan pekerjaan, pekerjaan apa sampai tidak memberitahunya terlebih dahulu. Felia mencoba melupakan semuanya saat dia mendengar suara handphone berdering.
Di sana ia mendapatkan pesan dari Edbert, pesan yang menurutnya sangat tidak pantas dia lakukan tapi ia sangat menyukainya. Edbert memintanya untuk ikut ke acara penting, acara yang hanya dihadirkan oleh orang-orang penting. Dan lelaki ini memintanya untuk datang bersama.
Tiba di rumah Felia sama sekali tidak melihat keberadaan Louis, dia hanya melihat Edbert sibuk di dapur.
"Ayah!" panggil Felia membuat Edbert yang sibuk membuat kopi membalikan tubuh.
"Kamu sudah pulang. Mau ayah buatkan minuman untuk kamu?" Felia mengangguk, ia duduk di kursi yang terhalang oleh meja marmer.
Felia sibuk memperhatikan Edbert yang membuat dua minuman, selesai Edbert membuatkan minuman lelaki itu memberikan minuman yang dia suka.
"Minumlah jangan di lihat saja." kata Edbert kepada Felia, ia mengambil minuman itu dan meminumnya.
Felia meletakan kembali gelas itu lalu dia menatap Edbert, "Ayah kenapa meminta aku datang ke acara itu? Bukannya acara itu untuk orang-orang penting, kenapa ayah malah mengajak aku ke sana."
Tanpa menjawab perkataan Felia dia malah mengambil tangan Felia, ia genggam tangan itu supaya dia bisa merasakan kehangatan dari tubuh Felia.
"Saya sudah bilang sama kamu kalau hanya ada kita berdua jangan panggil saya ayah. Kamu ini udah saya anggap bukan sebagai menantu melainkan kekasih saya, Felia. Jadi saya harap kamu jangan memanggil saya seperti itu lagi." Edbert terdiam sejenak dengan menatap wajah Felia, wanita ini sungguh sempurna malah mengalahkan wanita di luar sana.
Felia memang menantunya, tapi semenjak kejadian satu malam itu ia tidak pernah menganggap wanita ini sebagai menantu melainkan seorang wanita. Wanita yang sempat hadir di kehidupannya setelah bertahun-tahun merasakan kekosongan, wanita inilah yang bisa membuatnya jatuh cinta malah melupakan status dari Felia.
"Saya mengajak kamu ke acara itu untuk menemani saya di sana, saya tidak mau bertemu wanita genit dan seksi yang selalu nempel di samping saya. Aku harap kamu mau temani saya dan menjadi pasangan pesta saya." ucapnya tanpa memalingkan wajahnya, dia melihat Felia hanya mengangguk sebagai jawabannya.
__ADS_1
Edbert yang sudah menunggu Felia di ruang tamu dengan fokus menatap layar handphone, ia belum menyadari kalau Felia sudah berada di dekatnya.
"Om." panggil Felia membuat Edbert menghentikan menatap layar handphone, ia malah terfokus dengan penampilan Felia.
Gaun yang dia berikan ke Felia untuk di pakai malam ini begitu cocok di gunakan Felia, dengan tubuh ramping tinggi badan yang sesuai membuat gaun itu terlihat cantik.
"Gimana penampilan aku malam ini?" tanya Felia dengan menunjukan gaun yang dia pakai.
Edbert secara langsung berdiri dengan melipat kedua tangannya, tidak hanya itu saja Edbert terus menatap penampilan Felia.
"Apapun yang kamu pakai akan tetap cantik dimata saya Felia." ia meletakan tangan kanannya di pinggang lalu tangan itu di terima oleh Felia, keduanya pergi dari sana dengan tangan masih menempel.
Pemilik mobil itu tiba di tempat acara, keduanya turun dari mobil dengan tangan masih sama. Edbert dengan Felia melangkah ke salah satu penjaga dengan memberikan kartu undangan, keduanya masuk ke dalam setelah memberikan kartu undangan.
Felia seperti sudah biasa datang ke acara seperti ini, karena Edbert selalu mengajaknya ke tempat ini dari pada Louis. Sejak kejadian di kantor ia belum bertemu dengan suaminya, saat dia mencari keberadaan suaminya dia tidak bertemu dengannya.
"Apa yang kamu pikirkan Felia? Kenapa pikiran kamu seperti memikirkan sesuatu." kata Edbert yang melihat Felia terdiam, Felia dengan cepat menggeleng.
Felia menikmati acaranya begitupun dengan Edbert, keduanya saling menikmati saat seorang wanita datang mendekati Felia.
"Bagus juga gaya pakaiannya. Tapi lebih bagus aku dari pada dia." batinnya dengan memperhatikan penampilan Felia, Felia yang merasa di perhatikan menatap wanita yang berdiri di sampingnya.
Belum sempat Felia mengatakan sesuatu Edbert sudah datang, "Edbert. Kamu apa kabar? Sudah lama saya tidak mendengar kabar kamu, makin ganteng aja kamu."
"Kamu tidak coba makanan di sini?" wanita itu merasa senang saat Edbert menanyakan dirinya, tapi dia salah paham sama perhatian Edbert.
"Makanan di sini enak aku suka." ucapnya membuat Edbert menatap wanita asing ini.
"Saya tidak tanya sama kamu." ujar Edbert dengan memberikan ekspresi tidak suka kehadiran wanita ini.
__ADS_1
"Barusan kamu tanya. Yasudah saya jawab."
"Bukan kamu tapi pacar saya." mendengar itu membuatnya marah dan malu, dia pikir Edbert memberikan perhatian untuknya melainkan untuk wanita ini.
"Kamu pandai sekali mencari wanita untuk di jadikan simpanan. Saya rasa wanita di samping kamu sangat cocok untuk di jadikan sugar baby atau simpanan om-om kesepian. Bukannya begitu, Thalia?" wanita asing yang tidak dikenal Felia tiba-tiba saja datang dengan mengatakan kalau dirinya wanita simpanan, apa kedua wanita ini tidak tau kalau dia adalah seorang menantu.
"Benar. Kamu ini pandai sekali bicara, saya rasa begitu lihatlah wanita ini sangat cocok di jadikan wanita penghibur." merasa dirinya di hina di acara penting ini ia dengan cepat membalas tapi seseorang menahannya.
"Dia bukan simpanan saya melainkan pacar saya yang akan menjadi nyonya dari pemilik perusahaan terkenal. Kalian jangan pernah menganggap pacar saya wanita simpanan, seharusnya kalian sadar kalian itu siapa sebenarnya! Atau kalian mau saya beri tahu semua orang siapa kalian sebenarnya?" ucapnya dengan memberikan ancaman kepada kedua wanita itu, wanita yang sudah berani menghina Felia.
Mendapatkan ancaman yang dilontarkan Edbert membuat Thalia ingin membalas perlakuan Edbert, tetapi sahabatnya sudah menahan dirinya dan membawanya pergi.
Felia yang melihat kedua wanita itu pergi langsung menatap Edbert, "Om. Om kenal mereka berdua? Kenapa om bilang kalau aku akan menjadi nyonya?"
Edbert lalu menatap Felia saat wanita ini memberikan sebuah pertanyaan, "Saya tidak mengenalnya. Kamu memang nyonya di keluarga saya tapi bukan pasangan hidup saya melainkan menantu saya, suatu saat kamu akan menjadi nyonya sesungguhnya setelah kamu berpisah dengan putra saya."
"Om. Jangan asal bicara, saya tidak mungkin berpisah dengan Louis. Hubungan kita hanya sekedar hubungan terlarang bukan hubungan resmi om." pekik Felia menatap lelaki di depannya ini, bukannya marah Edbert malah membawa Felia pergi dari pesta.
Dia menarik tangan Felia ke lantai atas, dimana lantai tersebut terlihat seperti balkon tetapi terlihat sepi hanya terasa angin malam. Felia masih menatap punggung Edbert saat lelaki itu baru membalikan badan untuk menatapnya.
"Kamu kenapa bilang kalau saya tidak bisa mendapatkan kamu. Dan kamu malah mempertahankan pernikahan dari pada mempertahankan hubungan kita Felia."
"Om. Dari awal hubungan kita sudah tidak benar dan sekarang status aku sudah menjadi menantu bukan kekasih om. Aku harap om mengerti dengan ucapan aku." kali ini Felia berkata dengan lembut tetapi Edbert tidak terima dengan perkataan Felia.
Yang awalnya jarak mereka terbilang jauh dan sekarang Edbert memilih berjarak sedekat mungkin, "Saya tidak peduli dengan pernikahan kalian, yang saya pedulikan perasaan saya ke kamu. Saya akan berusaha mendapatkan kamu seutuhnya bukan dengan cara seperti kucing dan tikus, yang bersembunyi dari semua orang."
Lagi dan lagi Edbert selalu mengatakan hal yang sama, gimana ia bisa menghindar dari pria ini kalau lelaki ini saja hanya pedulikan perasaannya bukan pernikahannya. Felia berusaha menatap kearah lain tetapi Edbert selalu membuatnya untuk menatap lelaki ini.
"Saya akan mempertahankan kamu dan membuat kamu menjadi milik saya, apapun itu caranya dan bagaimanapun caranya kamu akan menjadi milik saya." tutur Edbert dengan tangan di letakan di dagu Felia, dia langsung mencium bibir Felia.
__ADS_1
Bibir yang sudah lama ia rasakan, baru beberapa hari saja dia tidak mencium Felia dia sudah merindukan bibir ini. Melihat Felia membalas ciumannya dia dengan cepat menggerakkan bibirnya sampai suara indah itu terdengar di telinga masing-masing.