
Laura mencoba meregangkan kedua tangannya dengan pandangan kearah langit kantor, semua pekerjaan yang dia lakukan sudah selesai sempurna tinggal menunggu jam makan siang.
Laura segera merapikan meja kerja, setelah semuanya rapih barulah ia beranjak dari sana menuju keruangan Louis. Ia memiliki waktu beberapa menit sebelum jam istirahat tiba, mata Laura sempat melihat keadaan. Saat ia berhasil memastikan keadaan barulah dirinya masuk keruangan Louis.
Di sana ia melihat Louis sibuk mengerjakan pekerjaan sampai tidak menyadari keberadaannya, "Mau saya bantu, pak?"
Louis menghentikan jari jemarinya saat dia mendengar suara seseorang yang ia rindukan, Laura terus melangkah dengan memberikan sebuah senyuman untuk Louis.
"Apa pekerjaan bapak sudah selesai?" tanya Laura yang sudah berada di hadapan Louis, ia melihat lelaki itu menggeleng dengan sedikit memanyunkan bibir.
"Mau saya bantu?" lagi-lagi Louis menolak bantuan dari Laura, dia malah meminta Laura untuk mendekat dan ia mengikuti kemauan lelaki ini.
"Kamu gak usah bantu saya mengurus pekerjaan lebih baik kamu bantu yang lain aja selain pekerjaan." ucap Louis membuat Laura kebingungan, lelaki itu malah menatap Laura dengan memeluk pinggang Laura saat wanita ini duduk di pangkuannya.
"Saya harus melakukan apa supaya bisa meringankan pekerjaan bapak." Laura menaiki satu alisnya saat dia melihat jari telunjuk Louis mengarahkan ke sebuah pipi.
"Cium?" ucapnya dengan pelan dan dijawab oleh Louis dengan cara mengangguk.
Sebelum Laura mencium pipi bosnya, ia sempat menatap Louis lalu dia segera memajukan bibir itu tapi saat bibir itu ingin sampai di pipi kanan Louis. Louis sudah mengubahnya menjadi bibir, ciuman itu berhasil mendarat di bibirnya bukan di pipi kanannya.
Laura melotot saat ia membuka mata, dia malah mencium bibir Louis bukan pipi. Itu membuat Louis menikmati ciumannya sampai Laura membalas apa yang dilakukan Louis.
Ciuman itu semakin lama semakin dalam membuat Laura memutuskan untuk melingkarkan kedua tangannya di leher Louis, Louis yang mendapatkan perlakuan itu memutuskan untuk berpindah tempat.
Ia terus mencumbui tengkuk Laura sampai dirinya mendengar Laura mendesah, dia sangat senang mendengar suara indah Laura membuatnya semakin senang akan perbuatannya sendiri.
__ADS_1
Suara indah itu semakin merdu ditelinga masing-masing, Louis mencoba menghentikan ciumannya lalu tangannya itu digunakan untuk membuka pakaian Laura. Saat pakaian setengah terbuka, Louis kembali mencumbui tubuh Laura di bagian depan membuat Laura semakin ketagihan.
Lagi enaknya kegiatan panas ini dilakukan Laura mendengar suara deringan telepon, "Pak! Sepertinya ada yang menghubungi bapak."
"Sudah biarkan saja lagian juga siapa yang menghubungi saya di jam segini." jawab Louis saat ia masih menikmati sentuhan di tubuh Laura.
"Ta-tapi... ahhh..." suara indah itu semakin kencang saat Louis membuatnya ketagihan, lagi-lagi Laura mendengar suara panggilan dari telepon Louis.
"Pak! Coba bapak angkat siapa tau penting." akhirnya Louis memutuskan untuk memilih mengangkat telepon dan meninggalkan aktivitasnya.
***
Dia melihat nama Felia yang berada di handphone, sebelum ia mengangkat telepon ia sempat melihat kearah Laura. "Angkat aja pak. Saya yakin istri bapak membutuhkan bapak lagian juga saya masih di sini bersama bapak." ucapnya dengan nada manja.
"Aku kangen aja sama kamu, apa aku salah merindukan suamiku sendiri apalagi anak kita ingin bertemu dengan ayahnya." ucap Felia saat tangan satunya mengelus perut buncit.
"Apa aku boleh ke kantor kamu untuk menemui kamu." ucap Felia kembali saat Louis memilih menatap Laura, dia tersenyum saat Laura mulai menggodanya.
"Maaf sayang, kayanya kamu tidak usah ke kantor aku gak mau kamu kecapean. Kamu di rumah aja ya biar nanti pulang kerja aku akan bawakan kamu makanan." tutur Louis saat ia merasa Laura sudah menciumi tengkuknya, tak hanya itu saja Laura sudah berani melepaskan pakaian kantor yang ia kenakan.
"Ya sudah tapi kamu janji ya bawakan aku cemilan."
"Iya, sayang. Aku tutup telepon dulu ya masih banyak pekerjaan yang harus aku urus, kamu hati-hati di rumah jaga kesehatan kamu jangan sampai kelelahan."
Akhirnya panggilan itu berakhir dan Louis sudah tidak tahan dengan tingkah agresif Laura, "Barusan kalian lagi bicara apa sampai sikap kamu romantis gitu, apa kamu lebih peduli dengan istri kamu dari pada aku."
__ADS_1
Louis menyentuh pipi Laura saat wanita itu cemburu dengan Felia, "Mana mungkin saya tidak peduli sama kamu Laura, kamu ini wanita yang paling saya cintai tidak mungkin saya membiarkan kamu sendiri."
"Jangan cemberut gitu, aku tidak akan membiarkan kamu pergi. Saya akan memprioritaskan kamu dari pada istri saya sendiri, jangan menganggap kamu ini tidak dipedulikan olehku. Kamu ini wanita yang paling saya cintai tidak ada yang bisa mengalahkan kamu." Laura tersenyum senang mendapat ucapan dari bibir Louis, ia merasa hidupnya akan bahagia saat ia sudah berhasil mendapatkan Louis.
Laura melihat Louis yang masih sibuk memarkirkan mobil di depan rumahnya, ia sempat menahan Louis saat lelaki itu mau membuka pintu mobil.
"Kenapa? Kamu tidak rela aku pergi?" kata Louis saat ia mengetahui bahwa Laura masih menyentuh lengannya.
"Iya, soalnya aku masih kangen banget sama kamu aku gak mau berpisah sama kamu." ucap Laura yang enggan membiarkan Louis pergi, Louis yang mendengar itu langsung mengusap kepala Laura.
"Masih ada besok sayang, aku tidak mungkin nginap di rumah kamu nanti istri aku nyariin. Memangnya kamu mau kalau hubungan kita ketahuan oleh istriku." ujar Louis membuat Laura menggeleng.
"Ya udah sekarang kamu istirahat aku tunggu di mobil sampai kamu masuk ke dalam rumah." Laura mengangguk, ia melihat Laura sudah keluar dari mobil tapi matanya terus melihat kearah Laura yang sudah masuk ke dalam rumah.
Setelah memastikan Laura baik-baik aja barulah ia bergegas pergi, tiba di rumah Louis menyimpan mobilnya di bagasi dan ia keluar dari mobil untuk menemui Felia. Langkah kakinya terhenti saat dia melihat Felia menunggunya di sofa dengan posisi duduk sambil tiduran.
Louis menghampiri Felia yang masih tertidur, ia dengan pelan duduk di samping Felia dengan meletakan makanan itu di meja panjang. Felia yang merasa wajahnya ada yang menyentuh, dia segera membuka mata. Dan dia melihat Louis menatapnya sambil memberikan sebuah senyuman.
"Kamu sudah pulang? Maaf ya aku ketiduran seharusnya aku nungguin kamu bukan kamu menungguku bangun." kata Felia yang sudah memastikan matanya terbuka lebar.
"Nggak apa-apa sayang, seharusnya aku yang minta maaf sudah membangunkan kamu tidur. Aku sudah belikan kamu makanan tapi kalau kamu mau istirahat gak apa-apa nanti makanannya aku simpan di kulkas." ucap Louis dengan matanya menunjukan kearah makanan, Felia yang melihat itu langsung membuka plastik hitam.
Dan benar saja suaminya ini memberikan makanan kesukaannya, dan ia kembali menatap Louis. "Aku siapkan makan malam untuk kamu sebelum kamu istirahat."
"Tidak usah, kamu istirahat aja aku gampang nanti bisa masak sendiri." Louis membantu Felia ke kamar tidak lupa dengan plastik hitam yang ia bawa untuk di simpan ke dalam kulkas.
__ADS_1