
Louis tiba di depan kamar tamu, dimana dia dengan hati-hati membuka pintu kamar itu dan melihat di sana Laura sudah terlelap. Louis melangkah dengan pelan sampai Laura tak mendengar suara langkah kaki Louis.
"Sayang." bisik Louis tepat di telinga Laura saat kekasihnya masih memejamkan mata, tangan Louis terus mengelus pundak Laura yang saat ini posisi wanita ini membelakanginya.
"Sayang, aku tau kamu belum tidur. Sekarang buka mata kamu apa kamu tidak merindukan aku?" Laura tetap diam tak berani menggerakkan tubuhnya sampai Louis yang membalikan tubuhnya.
Louis tersenyum melihat wajah Laura yang terus menutup mata, dengan cepat Louis mencium bibir Laura membuat wanita itu membuka mata. Louis merasakan kalau Laura membalas ciumannya, dan benar saja kalau wanita itu sedang menikmatinya saat ia melihat wajah Laura yang sangat menikmati kegiatannya.
Louis dengan Laura sama-sama saling menatap saat Louis sudah melepaskan ciuman itu, "Mau lanjut atau aku temani kamu tidur?"
Louis tersenyum melihat Laura sudah tidak tahan, malah dia melihat Laura sudah melingkarkan kedua tangannya di leher Louis.
"Apa kamu tega kalau kegiatan barusan dihentikan begitu saja. Apa kamu tidak tau kalau aku sangat menginginkan sentuhan kamu."
"Baiklah sayang aku akan mengikuti kemauan tuan putriku ini." Louis segera melahap bibir itu kembali sampai Laura sangat menikmatinya, Louis terus mencium bibir itu sampai dirinya beralih ke tempat sensitif Laura.
Seluruh wajah Laura terus ia nikmati sampai dirinya benar-benar menginginkan seluruh tubuh Laura, Louis menghentikan kegiatan panas itu saat dia melihat seluruh tubuh Laura sudah tidak mengenakan sehelai pakaian karena ulahnya sendiri.
Melihat tubuh polos Laura sangat membuatnya tergiur, sampai tubuhnya sudah tidak tahan melihat pemandangan indah di depan matanya. Louis segera melepaskan semua pakaiannya sampai pakaian itu benar-benar terlepas, barulah ia melanjutkan menyerang tubuh Laura.
Felia membuka mata saat dia mendengar suara putranya menangis, saat ia membuka mata dia tidak melihat keberadaan Louis. Felia tanpa memikirkan hal itu langsung menghampiri putranya dan menggendong Alfred.
"Cup! Cup! Anak bunda jangan nangis lagi ya, kamu pasti haus ya." ucap Felia terus menenangkan Alfred.
Felia memberikan asi untuk Alfred, barulah putranya itu berhenti menangis. Melihat Alfred sudah kembali tidur, Felia segera melepaskan asi itu dan membalikan Alfred ke ranjang bayi.
Felia melihat ke arah jam dinding yang berada di kamar, jam itu menunjukan pukul satu malam yang berarti ia terbangun di saat Alfred lapar dan dia memutuskan untuk ke lantai bawah.
Felia terus melangkah sampai langkah itu menuju dapur, tapi saat dia ingin ke dapur ia mendengar suara berisik dari kamar tamu. Di mana kamar itu ditempatkan oleh Laura, tanpa pikir panjang Felia segera menghampiri kamar itu.
__ADS_1
Felia mengerutkan kening saat dia mendengar suara kenikmatan di dalam kamar, suara yang tidak tau suara apa yang pasti dia mendengar kalau suara tersebut menandakan orang lagi mendesah. Felia semakin aneh kenapa kamar Laura terus berbunyi suara *******, awalnya Felia membiarkan suara itu.
Dia pikir kalau suara itu berasal dari suara film tapi lama kelamaan suara itu semakin kencang, membuat telinganya terus terdengar suara kenikmatan itu.
"Kenapa di kamar Laura ada suara seperti itu. Apa yang dilakukan Laura di dalam kamar, kenapa seperti ada suara seseorang yang sangat dia kenali." gumamnya dalam hati, Felia terus mendengar suara tersebut di depan pintu kamar sampai dirinya memutuskan untuk pergi.
***
Pagi harinya Felia sudah disibukan dengan Alfred, dia meminta asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumah dan dia mengurus semua keperluan Alfred. Laura yang merasa tubuhnya ada seseorang yang menyentuhnya segera membuka mata.
Di sana dia melihat tangan Louis melingkar di pinggangnya dengan saling berhadapan, bukan lagi memeluk dari belakang melainkan saling menyatu. Laura tersenyum melihat lelaki di depannya ini sudah memberikan apapun yang dia mau, sampai dirinya mengingat bagaimana dirinya sangat menikmati sentuhan Louis.
Louis yang merasa ada yang menyentuh wajahnya segera membuka mata, dia tersenyum melihat Laura berada di depan matanya. Lalu ia segera mencium Laura kembali.
"Selamat pagi sayang. Gimana tidur kamu nyenyak?" kata Louis yang sudah kembali menatap Laura.
"Sangat nyenyak." keduanya saling menatap sampai mereka berdua mendengar suara Felia dari luar kamar.
Laura yang mendengar itu segera bangkit, "Iya Bu. Nanti saya menyusul Bu, ibu duluan aja." teriak Laura dengan menjawab perkataan Felia.
"Sayang istri kamu sudah memanggilku, lebih baik aku bersiap jangan sampai istri kamu tau kamu ada di kamar ini." kata Laura yang sangat panik sampai Felia tau kalau suaminya ada di kamarnya.
Louis beranjak dari ranjang lalu dia menyentuh tangan Laura, "Kamu tenang aja Felia tidak akan tau aku ada di sini. Sekarang kamu siap-siap mandi dan samperin Felia di ruang makan, nanti aku akan menyusul kamu setelah aku selesai mandi."
"Terus kamu keluar lewat mana?" tanya Laura yang melihat wajah Louis dengan khawatir, dia sangat khawatir kalau nanti Louis keluar dari kamar tamu apa nanti Felia akan marah dan tau hubungannya dengan Louis.
Louis tersenyum melihat kekhawatiran Laura, "Di kamar kamu ada pintu yang nembus ke kamar aku dengan Felia. Jadi kamu tak perlu khawatir tentang itu, sekarang kamu siap-siap aja jangan panik yang ada Felia akan tau hubungan kita."
Laura mengangguk dan mengikuti perkataan Louis, akhirnya Laura melihat Louis sudah berada di sana dengan melihat kearah mereka berdua.
__ADS_1
"Maaf Bu saya bangunnya kesiangan." ucap Laura yang sudah menarik kursi di depan Louis.
"Nggak apa-apa Laura, saya tau kamu lelah gara-gara pesta semalam. Malah saya senang semalam kamu datang dan membantu saya, jadi saya ada teman ngobrol kalau kamu ada di sini."
Laura tersenyum mendengar perkataan Felia, dia tak habis pikir kenapa Felia sangat mempercayai suaminya yang membawa selingkuhan ke dalam rumah. Apa selama ini Felia tak pernah curiga tentang dirinya, atau selama ini Felia tak pernah menyelidiki apapun tentang hubungannya.
Biarkan sajalah yang penting hubungan ini masih berlanjut, dia berharap kalau Felia tidak pernah tau tentang hubungan ini. Malah dia ingin kalau ia bisa mengambil hati Felia, dan membuat Felia percaya kalau dia wanita baik-baik. Dengan itu ia bisa dengan mudah mengambil apapun dari Felia begitupun dengan Louis.
Dia ingin pria itu menjadi miliknya dan semua yang dimiliki Felia jatuh ke tangannya, dia menginginkan itu semua sampai dirinya berhasil menghancurkan Felia.
Selesai mereka sarapan Louis segera ke kantor, sedangkan Laura sudah lebih dulu pulang naik taksi saat Felia menawarkan tumpangan, tapi dia menolak karena Felia meminta Louis mengantarkan dirinya. Takutnya kalau dia satu mobil dengan Louis yang ada lelaki itu akan lama tiba di kantor.
Jadi Laura memutuskan untuk pulang naik taksi, sekarang ia sudah berada di kantor mengurus semua pekerjaan yang akan diperlukan Louis. Karena hari ini dia sudah menjadi sekretaris pribadi Louis, saat sekretaris sebelumnya dipindahkan ke tempat lain.
"Selamat pagi, pak! Saya sudah mengecek jadwal bapak hari ini, pagi ini bapak ada meeting dengan perusahaan Darmaga. Sedangkan siang nanti bapak harus bertemu pak William untuk melakukan kerja sama sekaligus makan siang bersama." lontar Laura saat dia melihat Louis sudah duduk di kursi pemilik perusahaan.
"Kamu atur aja semua jadwal saya."
"Baik pak." saat Laura ingin pergi dari ruangan Louis, Louis sudah menahan wanita itu membuat Laura menatap Louis.
"Kenapa pak?" tanya Laura yang melihat Louis terus menyentuh tangannya.
"Sebelum meeting apa saya boleh meminta sesuatu dari kamu?"
"Apa, pak? Nanti saya akan berikan kalau bapak menginginkan sesuatu." tanpa menunggu waktu lama Louis menarik tangan Laura, sampai wanita ini menahan tubuhnya.
Laura melihat Louis sudah memberikan sebuah ciuman di bibirnya, saat ini dia melihat Louis sangat menikmati ciuman sampai dirinya benar-benar terbuai akan sentuhan Louis.
Louis tersenyum saat ciuman itu terlepas, ia melihat wajah Laura saat wajah itu membuatnya candu. "Makasih untuk ciumannya, energi saya sudah terisi kembali saat kamu sudah memberikan apapun yang saya mau Laura."
__ADS_1
"Baiklah, kalau gitu apa bapak bisa melepaskan saya karena sebentar lagi meeting akan segera di mulai."
Louis mengangguk, sebelum keduanya keluar dari ruangan tersebut Laura merapikan penampilannya kembali barulah keduanya sama-sama keluar dari sana.