
Melihat Felia yang sudah pergi ia bergegas mengeluarkan handphone, ia mencari nomor telepon yang akan ia hubungi dan saat telepon itu di tempelkan ke telinga untuk mendengar panggilan. Dia sedikit menjauh saat panggilan itu tersambung.
"Gimana rumah barunya, kalian sudah berada di sana." ucap seseorang yang sibuk mengerjakan laporan, orang itu terus menatap ke layar komputer dengan telinga masih mendengar suara dari telepon.
"Sudah. Aku dengan Felia sudah pindah, sekarang aku sudah tidak tinggal dengan ayahku. Sepertinya hari ini aku tidak bisa ke kantor, rasanya saya ingin menemui kamu dan memeluk kamu lalu kita lakukan itu lagi." kata Louis yang terus membayangkan bagaimana dia dengan Laura beradu kasih.
Laura yang mendengar itu tersenyum, ia segera menyingkirkan pekerjannya dan memilih fokus dengan suara Louis.
"Aku juga merindukan kamu. Kamu yang sabar ya nanti juga kita akan ketemu lagi, sekarang kamu berduaan dengan istrimu dulu nanti setelah kamu puas baru kembali denganku." ucap Laura yang terus tersenyum, rasanya ia sangat merindukan bosnya seakan ia tidak bisa berjauhan dengan Louis.
Sedangkan dari kejauhan Felia tidak sengaja melihat suaminya, selesai mandi Felia memutuskan untuk menghampiri Louis tapi saat berada di tempat yang sama ia melihat Louis sibuk menelpon. Ia mengetahui Louis menelpon sekretarisnya, tapi dia curiga kenapa suaminya menghubungi Novan sampai menjauh.
"Sayang." panggil Felia, Louis yang mendengar suara Felia segera menutup panggilan tersebut.
Louis tersenyum saat ia membalikan badan melihat Felia sudah ada di sana, Louis dengan cepat menyimpan kembali handphone di saku celana lalu Felia melangkah kearah Louis.
"Kamu sudah selesai mandi?" tanya Louis menatap Felia berhenti melangkah karena langkahnya sudah sampai di depannya.
"Ya. Barusan yang kamu telepon Novan 'kan?"
"I-iya sayang siapa lagi kalau bukan Novan. Kenapa kamu curiga yang aku telepon wanita lain?" tutur Louis langsung memberikan sebuah pertanyaan, Felia tersenyum lalu memberikan sebuah gelengan.
Louis tersenyum dengan tangan berada di puncak kepala Felia, "Sudah jangan curiga gitu, aku 'kan sudah bilang kalau yang aku telepon Novan bukan orang lain. Kalau gitu aku mandi dulu kamu tunggu di ruang makan nanti aku akan menyiapkan sarapan untuk kamu."
__ADS_1
Felia mengangguk saat Louis sudah pergi menjauh, keduanya sekarang sangat sibuk menikmati makan malam bersama. Sudah lama mereka tidak makan malam bersama, biasanya ia selalu makan malam dengan ayah mertuanya.
Edbert memandangi dirinya sendiri, tinggal di rumah yang super besar sendiri tidak ada lagi Felia dan Louis. Sekarang mereka berdua sudah memiliki tempat tinggal sendiri, dan dia hanya tinggal sendiri tanpa menantunya itu.
"Saya akan kesepian tanpa kamu Felia, saya tidak tau apakah kamu bahagia di sana atau tidak. Tapi yang pasti saya akan terus memantau keadaan kamu, dan saya akan terus mengawasi Louis." ucapnya di dalam hati, ia juga terus memandangi kursi yang biasanya di tempatkan Felia.
Hari ini Louis akan beraktivitas seperti biasa, ia memandangi Felia yang masih menikmati makanan. "Sayang, nanti ada empat orang yang akan datang ke rumah baru kita. Dua orang wanita bekerja sebagai art, dan dua lelaki ada yang bekerja sebagai satpam ada juga supir untuk mengantar kamu. Nanti kalau kamu butuh apa-apa tinggal bilang supir aja, aku tidak bisa mengantar kamu setiap saat."
"Nggak apa-apa 'kan kalau aku mencari pekerja untuk menjaga kamu?" tanya Louis menatap Felia yang sudah menyelesaikan sarapan.
Felia yang selesai sarapan menatap Louis, "Nggak apa-apa, aku paham kamu sibuk jadi aku akan mengerti keadaan kamu."
Louis tersenyum, ia mengambil tas kerja dengan Felia juga ikut beranjak dari kursi. "Biar aku antar sampai luar."
Louis mengangguk dengan memberikan sebuah senyuman, ia juga menggenggam tangan Felia dengan satunya menggandeng tas kerja. Felia tersenyum dengan melambaikan tangan saat mobil suaminya itu sudah keluar dari gerbang.
Mobil hitam yang biasa dibawa Louis tiba di perusahaan, pemilik mobil itu turun dari mobil saat karyawan laki-laki datang menghampiri Louis. Louis memberikan kunci mobil untuk di parkirkan di basement, selesai memberikan kunci mobil ia melangkah ke dalam perusahaan.
Novan yang melihat bosnya sampai di kantor langsung menghampiri Louis, dari kejauhan Laura sudah melihat kedatangan Louis begitupun dengan Louis tetapi mereka seperti orang asing yang tidak saling menyapa.
Selesai memandang Louis dari jauh Laura kembali ke tempat kerja, saking sibuknya Laura bekerja sampai ia mendengar suara telepon dari meja kerjanya. Ia melihat angka telepon itu terhubung keruangan Louis, ia segera mengangkat telepon itu dan terhubung keruangan Louis.
"Buatkan saya kopi hitam seperti biasa dan antarkan kopi itu keruangan saya." ucap Louis dengan nada perintah, Laura yang mengerti langsung melakukan tugasnya.
__ADS_1
Laura meninggalkan pekerjaannya dan memilih membuatkan kopi, ia melangkah menuju pantry untuk membuat kopi untuk bosnya. Selesai kopi itu dibuat oleh Laura, ia bergegas membawa kopi itu keruangan Louis.
Tok! Tok!
"Masuk." ucap Louis yang mengetahui pintu ruangannya terdengar ada yang mengetuk.
Mata Louis tertuju pada seseorang yang membawakannya kopi, wanita itu tersenyum saat ia masuk keruangan dengan melangkah sambil membawa segelas kopi.
"Ini pak kopi pesanannya." kata Laura dengan meletakan kopi itu di meja kerja Louis.
"Baik pak kalau gitu saya kembali keruangan saya." ucap Laura saat dia selesai mengantarkan kopi, tetapi saat Laura ingin pergi sebuah tangan menahannya.
"Kamu yakin mau pergi begitu saja, apa kamu tidak merindukan saya selama kita tidak bertemu." ujar Louis membuat Laura membalikan tubuh lalu nampan ia letakan di meja kerja.
Laura tersenyum saat ia melihat Louis langsung memeluknya, Laura membalas pelukan itu dengan memberikan sebuah usapan di kepala Louis.
"Saya tidak mungkin tidak merindukan bapak, tapi ini masih jam kerja pak. Takutnya nanti ada yang lihat bisa gawat urusannya." urai Laura, Louis yang mendengar itu langsung melepaskan pelukannya.
"Kalau kamu merindukan saya kenapa kamu pergi gitu aja, aku tidak peduli kalau nanti ada yang lihat. Sekarang yang aku pedulikan kamu, aku kangen banget sama kamu aku tidak bisa seharian tidak ketemu kamu Laura." ujar Louis yang sedikit manja dengan Laura, ia terus menatap wajah cantik Laura sampai dirinya tidak memalingkan wajahnya dari wanita ini.
"Saya tau bapak kangen sama saya begitupun dengan saya, tapi sekarang masih jam kerja dan pekerjaan saya masih banyak pak. Takutnya kalau saya terlalu lama di sini semua karyawan akan curiga tentang kita."
Louis menghela nafas saat mendengar ucapan Laura, lalu ia membiarkan Laura pergi tapi saat wanita itu benar-benar pergi ia sempat mencium bibir Laura. Bibir yang sudah membuatnya candu, setelah selesai menciumi bibir Laura ia kembali menatap Laura.
__ADS_1
"Baiklah hari ini saya akan biarkan kamu bekerja, tapi setelah selesai bekerja kamu langsung temui saya di ruangan."
"Ya udah sekarang bapak bisa melepaskan tangan bapak, saya mau kembali ke tempat kerja saya." akhirnya tangan itu terlepas dan ia membawa nampan untuk ia simpan di pantry.