Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Taktik Mendapatkan Louis


__ADS_3

Semua persiapan sudah lima puluh persen, persiapan yang dilakukan Novan begitu cepat membuat Felia tidak bisa melakukan keinginannya. Lelaki itu memintanya untuk diam tanpa membantu acara pertunangan, Louis meminta Novan menyiapkan semua acara pertunangan.


Sekali lagi Felia hanya bisa terdiam di dalam kamar dengan memandang semua perlengkapan yang dikirim Novan, lelaki itu diminta Louis untuk mengirim pakaian untuk acara pertunangannya. Semua barang sama sekali belum ia coba, barang itu masih tergeletak di atas tempat tidur.


"Huft, semua benda ini mau aku apakan. Kenapa dia harus menyiapkan semuanya tanpa melibatkan aku." ucap Felia mencoba melangkah mendekati barang yang berada di atas ranjang.


Ia duduk di samping ranjang mengambil satu persatu barang, ia mulai membuka satu persatu barang ini. Mulai dari dress, sepatu dan semua alat makeup sudah disiapkan, tinggal pakai tanpa sibuk seperti Novan.


Tidak dengan Edbert, ia menyibukkan diri untuk mengurus kantor. Memikirkan pertunangan Louis membuat dirinya tidak tenang, ia mencoba menyikapi seperti biasa tidak dengan perasaannya. Dan bodohnya ia malah mencintai kekasih anaknya.


Tangan lelaki itu berhenti mengetik dengan pandangan kearah layar komputer, "Sadar Edbert, kamu harus melupakan perasaan itu. Perasaan ini hanyalah perasaan sementara, bukan berarti kamu sungguh mencintai Felia."


Dari awal ia terus memandang lelaki ini, lelaki yang sudah menjadi bosnya. Edbert tersadar saat seseorang mengejutkannya.


"Kenapa Bob bisa ada di sini? Perasaan aku tidak mendengar dia masuk." batin Edbert menatap Bob dengan perasaan terkejut.


"Maaf pak saya mengagetkan bapak. Saya hanya memberikan informasi mengenai tugas bapak saja," kata Bob masih menatap Edbert, lelaki itu mulai bersikap profesional sebagai atasan.


"Katakan apa yang kamu dapatkan dari informasi wanita itu?" kata Edbert membuat Bob memberikan semua informasi yang dia cari, Edbert tetap menatap Bob dengan serius tanpa ada sedikitpun perkataan Bob terlewatkan.


"Hanya itu informasi yang kamu dapatkan?"


"Ya bos. Semenjak pengumuman pertunangan Louis dengan Felia, wanita itu tidak pernah ikut campur masalah hubungan mereka. Dia malah bersikap biasa saja tanpa melakukan apapun." perkataan Bob membuat dirinya bertanya-tanya, dia meminta Bob untuk mencari tau tentang Cici tetapi wanita itu bersikap santai.


"Apa dia sedang melakukan rencana dibalik diamnya?" batin Edbert melamun menatap meja kantor, ia kembali menatap Bob setelah sekian detik terdiam.

__ADS_1


"Kamu awasi wanita itu, saya tidak mau pertunangan anak saya batal gara-gara dia."


"Baik, bos." Bob pergi meninggalkan ruangan Edbert, walaupun dia tidak merelakan pertunangan Louis dengan Felia ia tidak mungkin menghancurkan acara pertunangan ini.


"Saya harap kamu bahagia Felia. Tapi kalau kamu dan Louis tidak bahagia saya akan menarik kamu ke dalam pelukan saya." Edbert menatap sebuah foto yang terdapat di layar handphone, entah dari mana foto itu yang pasti ia mengambilnya tanpa sepengetahuan Felia.


Dari luar Cici terlihat tidak melakukan apa-apa, tapi tidak dengan rencananya. Dia mencoba melakukan rencananya sendiri tanpa menggoda Louis, wanita itu melakukan rencananya tanpa sepengetahuan orang lain begitupun dengan Louis.


Lelaki itu hanya bersikap biasa saja, dia mulai mengikuti rencana yang diucapkan seseorang yang sudah membantunya. Rencananya kali ini dia sungguh yakin kalau Louis akan masuk ke dalam perangkapnya.


"Permisi pak, ini laporan yang bapak pinta." kata Cici dengan memberikan laporan kantor kepada Louis, lelaki itu sama sekali tidak menatap ia hanya mengambil dokumen yang diberikan Cici.


"Apa bapak butuh sesuatu?" pertanyaan itu membuat Louis menatap, baru pertama kali ia melihat penampilan Cici sedikit berbeda.


"Kenapa, pak? Apa ada yang salah dengan saya?" tanya Cici membuat Louis menggeleng, ia baru menyadari kalau dia sudah terpesona dengan penampilan Cici.


"Bagus, Louis mulai tertarik denganku. Rencana yang dia berikan sangat membantu, dan Louis sudah mulai menatapku." kata Cici didalam hati, ia juga sibuk mengaduk kopi buatannya.


***


Cici membawa kopi buatannya, ia masuk ke dalam dengan membawa satu kopi tidak lupa kopi itu diletakan di meja. Louis tersenyum saat Cici memberikan dia kopi, lelaki itu meminum kopi buatan Cici.


"Kenapa rasanya persis buatan Felia. Apa dia sengaja mengikuti kebiasaan yang dilakukan Felia?" tatapan mata Louis mengarahkan ke Cici, wanita itu hanya diam dengan menatap.


Louis meletakan gelas itu kembali, "Kopi buatan kamu enak. Saya rasa saya mulai menyukai kopi yang kamu buat, apa kamu bisa setiap hari buatkan saya kopi?"

__ADS_1


"Bisa, pak." urai Cici dengan semangat, baru pertama kali ia mendapatkan pujian dari Louis.


Melihat Cici keluar dari ruangannya, Louis menyingkirkan bau tidak sedap dari kantung jas. Tubuhnya ia sandarkan ke kursi dengan melemparkan kain kecil yang ia simpan.


"Kalau bukan perintah yang diberikan Novan, saya tidak mungkin memasukan kain ini ke kantung jas." ucap Louis dengan sedikit kesal.


"Kenapa wanita itu tidak pernah kapok. Saya sudah menolaknya berkali-kali tapi wanita itu selalu melakukan segala cara untuk menghancurkan hubungan saya dengan Felia."


"Sebenarnya Felia tau sifat sahabatnya atau tidak! Kenapa wanita itu bersikap seperti tidak mengetahui kelakuan Cici." ucapnya kembali dengan menampung wajahnya dengan kedua tangan.


Bob diminta Edbert untuk mengikuti Cici, sekarang posisi wanita itu berada di sebuah kafe yang buka 24 jam. Lokasi yang diberikan Bob membuat Edbert menatap titik lokasi itu melalui handphone, ia malah duduk di dalam mobil menunggu informasi yang didapatkan Bob.


"Kau serius rencana yang aku berikan berhasil?" tanya seorang wanita yang tidak percaya dengan ucapan Cici.


Cici mengangguk, ia meninggalkan minuman yang sempat ia minum. "Enggak hanya itu saja, dia Bahkan memuji kopi yang aku buat. Apa menurut kamu Louis mulai tertarik denganku?"


"Menurutku tidak! Hanya satu rencana yang berhasil belum tentu rencana selanjutnya akan berhasil."


"Jadi, kita harus melakukan apa lagi sampai Louis takluk denganku." ucap Cici menatap lawan bicaranya, Bob terus memantau dua wanita ini dengan wajah ditutupi dengan buku menu.


"Coba kamu lakukan rencana ini..." Cici manggut-manggut dengan ucapan wanita ini, ia tersenyum saat rencana yang diberikan wanita ini cukup bagus.


"Baik, saya akan melakukan rencana yang kamu berikan. Saya rasa rencana kali ini akan berhasil."


"Pasti, malam ini rencana saya akan berhasil untuk kamu. Dan Louis akan menjadi milik kamu seutuhnya, sedangkan saya bisa mendapatkan apapun yang saya mau."

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang kamu mau? Dan kenapa kamu mau membantuku?" tanya Cici yang sedikit penasaran dengan tujuan wanita ini.


Wanita itu menatap Cici setelah menyantap minuman, "Nanti kamu tau apa yang saya lakukan, kamu fokus dengan tujuan kamu saja tidak usah memikirkan tujuanku membantu kamu."


__ADS_2