
Louis menatap dari kaca mobil melihat bangunan besar yang alamatnya sudah dikirim seseorang, bangunan luas yang terlihat megah dan mewah. Dibuat dengan design yang sangat alih, villa terbesar dan megah yang sudah dibangun sudah begitu lama oleh pemilik villa.
Louis memilih turun dari mobil dengan memandang villa di depannya, pemilik villa ini sudah datang dengan mengirimkan dirinya datang. Ia tidak tau apa yang direncanakan Mayra, tetapi ia curiga kalau wanita itu akan melakukan rencana jahatnya.
Langkah kaki Louis terhenti melihat sosok wanita yang bersantai menikmati sajian minuman, wanita itu hanya memakai pakaian santai yang begitu seksi dengan mata memejam.
Louis menghampiri wanita itu yang sibuk memejamkan mata, "Buat apa kamu memintaku datang ke villa? Bukannya urusan kita sudah selesai jadi kamu tidak perlu mengganggu kehidupanku."
Mayra membuka mata, pandangan pertama yang dia lihat adalah Louis. Lelaki itu datang saat dia membutuhkannya, Mayra bukannya menjawab ucapan Louis ia malah menuangkan minuman yang sudah tersedia di depan mata.
"Minum dulu." Mayra memberikan gelas yang sudah ia tuangkan minuman, "Kamu baru datang seharusnya kamu menikmatinya bukan memberikan pertanyaan yang aneh."
"Cepat katakan apa yang kamu inginkan jangan membuatku marah." kata Louis dengan menatap Mayra tanpa meminum minuman yang dituangkan Mayra.
Mayra melipat kedua tangannya dengan tatapan masih menatap Louis, dia terus memandang lelaki di depannya ini sampai dirinya mengeluarkan berkas.
Louis yang melihat itu langsung menatap Mayra, "Apalagi yang akan kamu buat Mayra. Apa kamu tidak bosan mengganggu hidupku?"
"Baca saja dulu kamu akan tau nanti setelah kamu membacanya." urai Mayra, ia melihat Louis mengambil berkas laporan itu dan mulai membaca setiap lembar kertas putih.
Alangkah terkejutnya dengan isi yang di tulis di kertas putih itu, tanpa membaca selembar kertas lagi yang berisi tandatangan Louis sudah melempar laporan itu. Laporan yang sudah di rencanakan oleh Mayra, semua isi yang dibuat Mayra membuatnya marah apalagi wanita ini memintanya untuk menceraikan Felia.
"Apa kamu udah gila melakukan hal senekat ini? Aku dari awal sudah katakan sama kamu saya tidak akan berpisah dengan Felia, dan saya tidak akan meninggalkan Felia apalagi itu semua menyangkut keuntungan kamu."
Mayra mencondongkan tubuhnya dengan jari telunjuk mengarahkan ke laporan yang ia buat, "Kamu yakin tidak mau mengikuti perintah dariku? Apa kamu mau istrimu itu tau tentang kelakuan kamu dibelakangnya?Atau..."
__ADS_1
Perkataan Mayra terhenti saat wanita ini mengeluarkan amplop coklat yang di dalamnya terdapat foto kebersamaannya dengan Louis, Louis yang melihat foto itu langsung merampas foto itu tapi gerakannya kalah cepat dari Mayra.
"Kamu tinggal pilih mau mengikuti semua perkataanku atau memilih foto ini aku kirim ke Felia." ucap Mayra dengan memberikan ancaman, ia juga menunjukan foto itu supaya Louis bisa memilih keputusannya.
Dia sebagai seorang pria tidak bisa memilih keputusan yang tepat secara cepat, saat ini pikirannya terlalu mumet sampai dirinya tidak bisa berpikir jernih. Akhirnya Louis memilih mengikuti semua permintaan Mayra supaya Felia selamat, melihat Louis menandatangani laporan itu membuatnya tersenyum senang karena Louis lebih memilihnya dari pada keluarganya.
Mayra dengan cepat mengambil laporan itu, laporan yang sudah ditandatangani oleh Louis. Mayra menutup berkas laporan itu dan kembali menuangkan minumannya kembali.
"Mari bersulang." ucap Mayra dengan mengarahkan gelasnya kearah Louis, Louis mengikuti kemauan Mayra sampai dirinya dan wanita ini minum bersama.
***
Di hari libur seperti ini Felia lebih menikmati menonton televisi bersama dengan Edbert, awalnya lelaki itu ingin mengajaknya jalan tapi ia menolak. Akhirnya mereka memutuskan di rumah dengan posisi tubuh Felia dipeluk oleh tangan kekar Edbert.
"Honey! Kamu tidak bosan di rumah hanya menonton televisi seperti ini?" kata Edbert menatap Felia lalu tangannya digunakan untuk memainkan rambut Felia.
"Kamu bosan di rumah?" tanya Felia masih menatap Edbert, ia melihat Edbert memberikan tanggapan dengan cara mengangguk.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Felia kembali dengan melihat Edbert seperti memikirkan sesuatu.
Setelah sekian detik ia berpikir Edbert kembali menatap Felia, "Gimana kalau kita ke Bali."
"Bali? Persiapan ke Bali cukup rumit dan butuh waktu lama untuk mengemasi barang-barang. Cuman satu hari tidak mungkin selesai dan tiba di sana."
Edbert menghela nafas panjang, "Kamu lupa kalau aku ini seorang pengusaha terkenal dan ternama. Hanya ke Bali saja tidak butuh waktu terlalu lama, sekarang kamu siap-siap dan hari ini kita berangkat."
Mendengar ucapan Edbert membuat mulutnya menganga, gimana bisa Edbert bisa mengucapkan hal itu dan dia bilang harus siap-siap apa waktunya cukup untuk mengemasi barang-barangnya.
__ADS_1
"Sudah jangan terlalu banyak mikir. kamu ganti baju masalah tiket pesawat dan pakaian kamu sudah aku siapkan di sana. Kamu tinggal siap-siap aja dan kita langsung berangkat." lontar Edbert membuat Felia tidak percaya dengan ucapan pria ini.
Felia keluar dari kamar begitupun dengan Edbert, ia melihat penampilan Felia yang begitu seksi di tambah dengan jaket yang menutupi atas tubuhnya. Sedangkan Edbert hanya memakai switer putih dengan celana panjang di padukan dengan jaket tebal berwarna hitam tidak lupa dengan kacamata hitamnya.
"Sudah siap?" tanya Edbert membuat Felia mengangguk, keduanya turun dari lantai atas dengan tangan saling menggenggam.
"Kamu yakin hanya pergi seperti ini tanpa membawa apapun." kata Felia dengan menatap Edbert yang sibuk menyetir.
Tanpa menatap Felia ia dengan cepat menjawab, "Aku sudah bilang sama kamu masalah pakaian sudah aku siapkan. Semua persiapan ke Bali sudah aku siapkan dan sekarang tinggal berangkat sama kamu."
"Gimana dengan Louis." perkataan Felia mampu membuat Edbert menghentikan mobil secara mendadak, ia memilih menatap Felia dengan tatapan tajam.
"Saya sudah bilang sama kamu jangan membicarakan pria lain saat bersamaku. Apa kamu kurang jelas dengan ucapanku sebelumnya?" kali ini ucapan Edbert sedikit marah apalagi pria ini tidak suka kalau dia membahas tentang Louis.
"Maaf. Aku janji setelah ini aku tidak akan membicarakan Louis." urai Felia melihat Edbert sudah sedikit mereda amarahnya.
"Baiklah, untuk kali ini saya akan memaafkan kamu. Tapi kalau saya mendengar kamu menyebut nama Louis saya tidak akan segan-segan menghukum kamu." Edbert kembali melanjutkan menyetir, kali ini ancaman Edbert tidak main-main dan membuatnya tidak bisa menolak.
Keduanya tiba di bandara, keduanya turun dari mobil saat seorang lelaki sudah menunggu kedatangannya. Lelaki itu mengambil kunci mobil yang baru saja diberikan Edbert.
"Saya mau kamu awasi Louis dan jangan membuat liburan saya dengan Felia terganggu." bisiknya tepat ditelinga lelaki itu, dia melihat pria itu mengangguk dengan perintah yang dia katakan.
Felia terus berada di samping Edbert begitupun dengan Edbert, ia tidak mau Felia pergi dari sisinya dia ingin wanita ini selalu berada di dekatnya. Mereka berdua sudah berada di pesawat tinggal menunggu pesawat ini terbang menuju Bali.
__ADS_1