
Lelaki itu dibuat terkejut saat melihat porsi makan Felia terlalu banyak, biasanya wanita ini tidak pernah makan sebanyak ini dan sekarang malah menghabiskan semua makanan.
"Apa seenak itu masakan yang ayah buat?" tanya Edbert masih memperhatikan Felia makan, tanpa menatap Edbert Felia memberikan sebuah anggukan dan dia masih menikmati makanannya.
"Felia. Apa kamu yakin kamu baik-baik aja?" pertanyaan itu sontak membuat Felia berhenti mengunyah, ia malah menatap ayah mertuanya.
"Aku sudah bilang sama ayah aku baik-baik aja, kenapa sekarang ayah cerewet sekali biasanya ayah tidak pernah cerewet." Edbert melongo mendengar ucapan Felia.
Apa dia tidak salah dengar kalau dirinya dibilang cerewet? Apa wanita ini tidak pernah introspeksi diri kalau sebenarnya yang cerewet dia bukan dirinya.
"Sudahlah percuma ayah bicara sama kamu, kamu habiskan sarapan kamu ayah akan tunggu kamu di luar." ucap Edbert saat dirinya baru saja menyelesaikan sarapan, entah dirinya yang sudah gila atau wanita ini.
Belum saja Edbert pergi Felia tidak mengizinkannya pergi, malah Felia memintanya untuk duduk kembali.
"Saya akan menunggu kamu di mobil kenapa kamu malah menahan saya pergi." kata Edbert menatap wanitanya.
"Pokoknya aku tidak mau tau ayah tetap di sini sampai aku selesai makan, selesai aku makan baru ayah bisa pergi sama aku." Edbert memilih mengalah dengan ucapan Felia, ia berusaha sabar menunggu Felia selesai sarapan.
Edbert melirik Felia saat dia melihat Felia sibuk bersandar di pundaknya, Edbert berusaha melepaskan tangan Felia dari tangannya dan menjauhkan kepala Felia dengan tubuhnya.
"Ayah." ucapan Felia seketika membuatnya tersentak saat suara itu bernada tinggi.
"Apa? Saya kenapa? Ada yang salah dengan saya, saya hanya membangunkan kamu saja kenapa kamu menatap saya begitu." kata Edbert melihat Felia menatapnya dengan tajam.
"Seharusnya ayah bilang dulu sama aku bukan main singkirkan kepalaku gitu aja. Memangnya aku mainan di singkirkan gitu aja." protes Felia dengan raut wajah kesal.
Edbert menghela nafas melihat perubahan sikap Felia, "Baiklah ayah salah, ayah tidak akan mengulanginya lagi. Sekarang turun kita sudah sampai di kantor."
Perdebatan barusan membuatnya pusing, hanya masalah sepele saja membuatnya gila bagaimana ia bisa menghadapinya terus menerus.
Edbert menatap Felia saat wanita itu sudah tiba di ruangannya, ruangan yang memang dia sediakan untuk menantu kesayangannya. Edbert kembali memikirkan pekerjaan dan memeriksa semua dokumen yang dikirim sekretarisnya.
Baru saja ia menikmati ketenangan di dalam ruangan sudah terdengar suara keributan dari luar, Edbert dengan cepat menghubungi seseorang lewat telepon yang berada di meja kerja.
Edbert menekan angka yang terhubung dengan meja kerja Bob, mendengar suara telepon Bob dengan cepat mengangkat.
"Selamat pagi, pak. Bapak butuh bantuan saya?" tanya Bob yang mengetahui bahwa yang menelponnya adalah Edbert.
"Coba kamu periksa kenapa di luar terdengar keributan."
"Baik, bos." Bob meletakan kembali telepon tersebut dan dia memilih mengecek keadaan kantor.
__ADS_1
Tiba di sana dia melihat semua karyawan di usir dan memilih berdiri di pintu ruangan Felia, melihat itu Bob segera menghampiri mereka semua.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berada di luar?" tanya Bob saat dirinya tiba di ruangan Felia.
Semua karyawan sontak menatap Bob, lelaki itu menatap mereka semua tanpa berani mengatakan yang sebenarnya.
"Jawab pertanyaan saya, kenapa kalian berada di ruangan Felia, kenapa kalian tidak masuk untuk menemui Bu Felia." ucap Bob menatap mereka semua.
Salah satu di antara mereka tidak berani mengatakannya dan mereka tetap memilih diam, "Saya tidak tau pak. Saat saya datang keruangan Bu Felia saya malah di usir, dan seluruh karyawan di sini tidak boleh masuk keruangan Bu Felia." ucap salah satu karyawan yang memiliki keberanian untuk berbicara langsung dengan Bob.
Bob mengerutkan kening saat mendengar ucapan dari salah satu karyawan, "Apa kalian berbuat kesalahan sampai Bu Felia tidak mengizinkan kalian masuk?"
"Saya kurang tau pak. Jadi gimana pak, kalau saya tidak masuk saya tidak bisa meminta tanda tangan dan karyawan di sini tidak bisa mengantarkan dokumen."
"Baiklah kalian boleh kembali, nanti saya akan bilang sama pak Edbert untuk bicara dengan Bu Felia." mereka semua setuju dengan keputusan Bob, semua karyawan itu pada pergi keruangan masing-masing barulah Edbert pergi dari sana.
***
tok! tok!
Suara ketukan dari luar membuat Edbert menghentikan pekerjaan dan memilih menatap suara tersebut, mendapat perintah dari Edbert Bob langsung membuka pintu tersebut dan di sana ia melihat Edbert masih sibuk dengan laptop.
"Sudah bos. Ternyata yang membuat keributan Bu Felia."
Saat mendengar nama Felia Edbert langsung menatap Bob, "Felia? Maksud kamu Felia yang melakukan keributan di kantor?"
"Iya pak." mendapatkan jawaban dari Bob ia memilih meninggalkan pekerjaan, ia melangkah ke luar untuk menemui Felia.
Tiba di sana Edbert dibuat kaget saat melihat ruangan Felia berantakan, dia tidak tau apa yang terjadi sebenarnya sampai ruangan ini seperti kapal pecah.
"Apa yang kamu lakukan Felia sampai ruangan seperti ini." kata Edbert memilih mengambil barang yang berada di lantai.
Tidak ada jawaban dari Felia, ia malah melihat Felia sibuk dengan handphone.
"Felia saya lagi bicara sama kamu. Apa itu sikap kamu terhadap ayah kamu sendiri." ujar Edbert saat melihat sikap Felia berubah, Felia menatap Edbert dengan sinis dan barulah ia kembali memainkan handphone.
Melihat itu merasa bahwa dirinya tidak dihargai, dia dengan cepat mengambil handphone yang berada di tangan Felia membuat pemilik handphone kesal.
"Ayah."
"Apa? Kamu mau protes silakan, saya tidak peduli sama kamu. Kenapa sekarang sikap kamu mulai aneh, apa saya melakukan sesuatu sama kamu sampai kamu melampiaskan amarah kamu sama semua orang." kata Edbert ketika ia bisa duduk di depan wanita ini dibatasi dengan meja kerja.
__ADS_1
"Felia." mendengar nada tinggi yang diberikan Edbert membuat Felia menangis, Edbert lagi-lagi tidak bisa melihat menantunya sedih.
Edbert benar-benar dibuat frustasi dengan wanita ini, akhirnya ia mengalah dan memilih beranjak dari tempat duduk untuk menghampiri Felia.
"Sayang, saya minta maaf sudah membentak kamu. Saya tidak bermaksud menyakiti perasaan kamu, sekarang kamu bilang kenapa kamu seperti ini apa saya melakukan kesalahan sampai kamu jadi seperti ini." kata Edbert dengan lembut tanpa sadar Felia memeluk erat tubuhnya, dan dia senang akan perubahan Felia tapi ia juga bingung dengan sikap Felia.
"Saya tidak tau ayah. Semenjak kemarin mood ku tidak bagus, aku juga tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini perasaanku berubah-ubah." urai Felia tanpa menatap Edbert, ia masih nyaman dengan pelukan yang diberikan Edbert.
"Yasudah, kamu istirahat aja jangan bekerja dulu. Sepulang dari kantor kita ke rumah sakit, buat cek keadaan kamu." ucapnya dengan lembut membuat Felia mengangguk.
Selesai mengurus kantor ia berencana membawa Felia ke dokter, ia ingin mengetahui keadaan Felia dan dia juga ingin tau kenapa Felia moodnya suka berubah. Tiba di rumah sakit Edbert membawa masuk ke dalam dengan tangan menggenggam tangan Felia.
Sekarang mereka sudah berhadapan dengan dokter yang akan memeriksa Felia, saat itu juga ia dibuat kaget saat dokter mengatakan kalau Felia tidak kenapa-kenapa malah dia diminta ke dokter kandungan.
Edbert memutuskan untuk mengikuti arahan dokter tersebut, dan apa yang mereka dapatkan ternyata Felia sedang mengandung seorang anak. Mendengar penjelasan dari dokter Edbert langsung menatap Felia dan kembali menatap dokter tersebut.
"Dok. Apa dokter yakin dengan ucapan dokter barusan?" tanya Edbert sekali lagi untuk memastikan kalau pendengarannya masih berfungsi.
"Saya ini dokter saya tidak mungkin membohongi pasien saya. Apa bapak tidak tau kalau istri bapak ini sedang mengandung anak bapak." ucap dokter itu menatap Edbert.
"Jadi istri saya benar-benar hamil dok?" tanyanya sekali lagi, dan benar saja dokter itu mengangguk dengan pertanyaannya.
"Baik dok terima kasih banyak. Saya akan menjaga kandungan istri saya dengan baik."
"Sama-sama pak. Di jaga kandungannya pak, jangan sampai istri bapak kelelahan." ucap dokter itu, keduanya memilih pergi dari ruangan dokter.
"Ayah." panggil Felia saat dia tidak menyangka kalau dirinya hamil.
"Iya, sayang." ucapnya menatap Felia saat wanita ini menyentuh tangannya kearah perut.
"Aku beneran hamil? Ucapan dokter barusan tidak bohong kan?" tanya Felia yang masih belum percaya dengan apa yang dia dengar.
Edbert tersenyum saat mengetahui bahwa Felia hamil anaknya, dan dia membalikan tubuh Felia untuk menatapnya.
"Ucapan dokter benar Felia, kamu hamil anak saya. Sekarang di perut kamu ini ada anak kita, anak yang sudah saya buat untuk kamu." ucap Edbert mengarahkan tangannya ke perut Felia dengan mengusap perut itu dengan lembut.
Dengan perasaan senang Felia meletakan kedua tangannya ke leher Edbert, membuat Edbert tersenyum akan sikap Felia yang mulai agresif.
"Ayah aku senang aku hamil. Tapi apa ayah yakin kalau anak ini anak ayah bukan anak Louis." tutur Felia yang masih belum percaya kalau anak yang dia kandung anak Edbert.
"Saya yakin anak yang kamu kandung anak saya Felia. Jadi kamu jangan berpikir kalau anak itu adalah anak Louis." setelah mengetahui kabar baik itu Edbert membawa Felia pulang.
__ADS_1