Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Resmi Menjadi Janda


__ADS_3

"Good morning cantik." ucap Edbert yang melihat Felia sudah membuka mata, dari tadi ia sudah menunggu Felia di kamar sampai wanita itu membuka mata.


Felia memutuskan bangun dan bersandar di punggung ranjang, ia melihat lelaki itu tersenyum dengan membawa sarapan berupa bubur dan jus.


"Ini makanan kamu di makan dulu keburu dingin." kata Edbert dengan memberikan mangkuk bubur ke Felia.


Felia menerima semangkok bubur itu lalu melahap dengan perlahan, Edbert terus memandangi Felia saat wanita ini hanya fokus sarapan. Felia yang sadar akan dirinya sedang ditatap, Felia segera menghentikan aktivitasnya lalu dia melihat Edbert sibuk menatapnya.


"Ayah! Ayah kenapa memandangku seperti itu, apa di wajahku ada yang aneh sampai ayah terus menatapku." ucap Felia membuat Edbert sadar lalu memberikan senyuman.


"Tidak Felia. Saya tidak habis pikir aja kenapa kecantikan kamu semakin hari terus bertambah, saya juga heran kenapa tuhan menciptakan wanita cantik seperti kamu." ucap Edbert dengan memberikan gombalan, Felia yang mendengar itu sangat merinding.


Masih sangat pagi ayah mertuanya sudah memberikan sebuah gombalan, tapi ia suka dengan sikap ayah mertuanya walau sangat ngeselin tetap saja dia sangat menyukainya.


"Sudahlah ayah jangan gombal lagi ini masih pagi yang ada aku diabetes mendengarnya."


"Nggak apa-apa yang penting saya akan mengobati penyakit diabetes kamu."


"Ayah." teriak Felia membuat Edbert terkekeh.


Selesai sarapan Felia memutuskan turun ke bawah menemui putranya, sekarang usia Alfred sudah memasuki umur empat bulan di mana bayi seperti Alfred sedang masa aktif. Baginya perkembangan Alfred sangatlah penting apalagi tentang gizi, walau dia sangat lelah mengurus bayi.


Tapi baginya ini adalah momen yang harus dia ketahui pertumbuhan Alfred, hari ini Felia akan mengajak Alfred jalan-jalan dengan Edbert. Karena ia meminta cuti beberapa hari untuk meluangkan waktu untuk keluarga kecilnya.


"Ayah. Apa ayah yakin tidak kerja hari ini?" tanya Felia yang sibuk menggendong Alfred.


"Tidak Felia, saya sudah janji sama kamu mau temani kamu. Jadi hari ini saya akan membawa kamu jalan-jalan sama putraku ini." jawab Edbert, lalu mereka berdua membawa semua perlengkapan Alfred ke dalam mobil.


Sedangkan mereka berdua masuk ke dalam mobil dengan pengasuh Alfred yang ikut dengannya, mereka bertiga main ke salah satu taman bermain yang berada di mall. Alfred yang baru saja bangun melihat suasana mall, apalagi saat bayi kecil ini melihat banyak permainan yang dia lihat.


Bayi itu sangat antusias saat tangan mungilnya menunjuk ke salah satu permainan anak-anak, Felia dengan Edbert masuk ke dalam sedangkan baby sister Alfred ikut dari kejauhan.

__ADS_1


Baginya Alfred sangat aktif sampai dirinya saja kewalahan merawat bayi kecil ini, Edbert tersenyum melihat bagaimana dirinya menjadi seorang ayah yang baik dan melindungi keluarga kecilnya ini. Selesai bermain Edbert membawa Felia makan siang, dia akan membawa Felia ke salah satu tempat makan yang tidak jauh dari wahana permainan anak-anak.


Felia tersenyum saat melihat Alfred sudah pulas tidur, ia sibuk menikmati sarapan bersama dengan baby sister Alfred.


"Sudah kamu makan aja jangan khawatirkan Alfred, Alfred aman denganku." ucap Edbert saat melihat Felia terus menatap Alfred.


Mereka bertiga menikmati sarapan saat ditengah-tengah mereka adalah Alfred, selesai makan Edbert memutuskan untuk pulang karena ia melihat Felia sudah sangat kelelahan.


Setelah menidurkan Alfred Felia memutuskan untuk ke kamar ayah mertuanya, dia melihat diruang pakaian ayah mertuanya sibuk memilih baju jadi ia memutuskan untuk menghampiri ayah mertuanya.


"Ayah mau kemana sudah rapih aja?" tanya Felia yang melihat ayah mertuanya sudah mengganti pakaian.


"Ayah mau ke kantor dulu. Barusan Bob memberitahu ada kendala di kantor, jadi ayah harus ke sana membantu Bob." kata Edbert melihat Felia dari cermin.


"Apa perlu aku ke sana juga untuk membantu ayah." Edbert membalikan tubuh menatap Felia yang masih sibuk melihatnya.


"Tidak perlu Felia kamu di rumah aja, masalah kantor biar ayah aja yang tangani."


***


Tiba di kantor Edbert segera keruangan, di sana dia melihat Bob sudah sangat sibuk saat Edbert meminta Bob keruangan. Bob memberikan banyak sekali berkas yang terus diberikan Bob, sampai setengah meja kerja di tumpukan berbagai banyak berkas.


"Kalau begini aku harus lembur." batin Edbert melihat banyak tumpukan berkas di meja kantor.


Tanpa pikir panjang Edbert segera menyelesaikan pekerjaan, tapi sebelum itu ia mengirim sebuah pesan kalau malam ini dia akan lembur di kantor jadi Felia tidak usah menunggunya pulang.


sudah hampir tiga jam Edbert masih di ruangan, berkas yang hampir selesai ia kerjakan tinggal setengahnya jadi ia memutuskan untuk menyelesaikan secepatnya. Tetapi saat ia sibuk mengerjakan laporan ia mendengar suara ketukan pintu, tanpa menunggu lama pintu itu terbuka saat ia mengizinkan orang tersebut masuk.


Nia tersenyum melihat Edbert masih sangat sibuk, ia melangkah membawa satu cangkir kopi untuk Edbert.


"Terima kasih." ucap Edbert tanpa melihat siapa yang membawakannya kopi.

__ADS_1


"Sama-sama pak." mendengar suara itu Edbert segera menghentikan pekerjaan dan dia melihat Nia menatapnya sambil tersenyum.


"Kamu kenapa ada di sini Nia. Bukannya saya sudah bilang sama kamu jangan melakukan tugas yang bukan menjadi tugas kamu, kenapa kamu melakukannya lagi." ucap Edbert yang mengetahui kalau Nia melakukan hal yang sama.


"Maaf pak. Tapi ini semua saya yang mau bukan memanfaatkan pekerjaan orang lain, saya lihat dari tadi bapak masih sibuk makanya saya membawakan bapak kopi."


"Kamu yakin ini atas kemauan kamu bukan ada maksud lain?" tanya Edbert yang sangat curiga kalau wanita ini akan melakukan hal yang sama seperti dulu.


Nia tersenyum saat Edbert mencurigainya, "Tidak pak. Saya lakuin ini memang keinginan saya bukan melakukan tujuan yang lain, maaf gara-gara saya bapak jadi curiga sama saya."


"Saya sudah menyerah dengan perasaan saya ke bapak, awalnya saya benci bapak di dekati dengan wanita bernama Felia itu. Tapi lama kelamaan saya sadar kalau saya harus sadar diri, karena sekuat apapun cinta saya ke bapak akan kalah dengan seseorang yang ada di hati bapak."


"Saya janji tidak akan melakukan hal itu lagi pak, lagian saya sudah menemukan pria yang baik pengganti bapak. Bapak benar kalau saya harus melupakan bapak dan saya berhak di cintai pria yang mencintai saya dengan tulus. Awalnya saya mengira itu tidak terjadi, tapi saya sudah menemukan seseorang yang membuat saya jatuh hati."


"... maaf selama ini saya sudah membuat bapak tidak nyaman dengan keberadaan saya, apalagi saya sudah menyatakan cinta secara langsung dengan bapak." ungkap Nia dengan tulus.


Edbert tidak sepenuhnya menyalahkan Nia, karena perasaan itu datang dengan sendirinya jadi ia akan mengingat Nia kalau wanita ini pantas di cintai oleh lelaki yang pantas untuk Nia bukan dirinya. Karena sejauh apapun wanita cantik di luar sana ia akan tetap memilih Felia sebagai pasangannya.


"Nggak apa-apa Nia, saya tidak menyalahkan kamu sepenuhnya. Karena bagi saya wajar kalau kamu mencintai seorang lelaki, tapi saya senang kamu sudah mengatakan sejujurnya tentang perasaan kamu. Saya yakin laki-laki itu akan menjaga kamu dan mencintai kamu dengan tulus, seperti kamu pernah mencintai saya." kata Edbert membuat Nia tersenyum dan mengangguk.


Setelah bicara Nia memutuskan untuk keluar dari sana, selesai mengurus berkas Edbert memutuskan untuk pulang dan melihat Felia di rumah. Sampai di rumah Felia sudah menunggunya di ruang tamu dengan posisi tidur sambil duduk, wanita ini sangat keras kepala.


Dia sudah meminta Felia tidak usah menunggunya tapi wanita ini tetap menunggunya, akhirnya ia melangkah kearah Felia untuk membangunkan menantunya.


"Felia! Felia bangun jangan tidur di sofa, nanti badan kamu pada sakit semua." ucap Edbert dengan memberikan sebuah sentuhan lembut ke tubuh Felia, Felia yang merasakan ada seseorang yang menyentuhnya langsung terbangun.


"Ayah sudah pulang." ujar Felia yang baru saja sadar dan melihat Edbert duduk di sampingnya.


"Kamu kenapa tidur di sofa Felia, ayah sudah katakan sama kamu jangan menunggu saya pulang. Kenapa kamu malah keras kepala sekali."


"Maaf ayah. Tapi aku tidak bisa tidur kalau tidak melihat ayah." urai Felia saat melihat Edbert tersenyum.

__ADS_1


Felia segera menyiapkan makan malam untuk ayah mertuanya, walau Edbert pulang telat tapi ia selalu menyiapkan sarapan untuk ayah mertuanya.


__ADS_2