Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Village (Malam Penuh Gairah)


__ADS_3

Cici mulai memancing Louis saat ia menemukan lelaki itu berdiri di balkon, dengan piyama seksi yang sengaja pakai untuk memudahkan Louis menyentuh tubuhnya.


Wanita itu melangkah dengan hati-hati sampai gerakan kakinya saja tidak terdengar, ia dengan cepat memeluk tubuh Louis dari belakang membuat lelaki itu mengalihkan pandangannya ke sebuah tangan yang melingkar ditubuhnya.


"Ada apa? Kau masih marah sama perbuatanku barusan?" pertanyaan yang diberikan Louis sontak membuat Cici melepaskan pelukannya.


Ia melangkah dan berdiri di samping Louis, "Gimana tidak marah, perbuatan kamu membuatku kesal. Bisa-bisanya kamu menghentikan kegiatan panas kita saat tubuhku hampir mencapai puncak."


Louis tertawa pelan mendengar ocehan Cici, ia membuang batang rokok dan dia memilih menatap Cici.


Tangan Louis berada di atas kepala Cici membuatnya tersenyum dengan sentuhan itu, "Saya minta maaf sudah membuatmu marah."


"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu tidak marah denganku?" Cici terdiam saat jarak mereka sedekat ini, melihat posisi Louis mampu membuat jantungnya tidak aman.


"A-aku... Aku ingin melanjutkan kegiatan barusan." jawaban Cici tidak begitu membuatnya kaget, lelaki itu malah tersenyum lalu mengubah posisinya kembali.


Mata mereka sama-sama saling bertemu dengan saling berhadapan, Louis masih menatap wajah Cici sampai pinggang wanita itu ketarik olehnya. Cici melihat tubuhnya sudah berdempet dengan tubuh Louis, Louis yang melihat wajah Cici menatap kearah lain ia menggunakan tangan itu menyentuh dagu Cici.


Tidak butuh izin dari wanita ini, ia mengambil ahli bibi Cici. Bibir yang mampu membuatnya tergoda, kegiatan yang dilakukan Louis membuat Cici mengikuti permainan Louis. Ciuman ini begitu menggairahkan saat nafas mereka saling bertemu, suara indah keluar begitu saja saat Louis menatap mata Cici.


Wanita ini menikmati kegiatan panas ini sampai mata Cici merem menikmati kegiatan yang ia lakukan, dia tidak mungkin mencium bibir Cici ia malah mencari sesuatu yang amat dia sukai. Piyama yang dikenakan Cici mampu membuat Louis mudah mencari kenyamanan di tubuh Cici, ciuman mereka masih menyatu dengan tangannya terus dia gunakan untuk meraba dan menyentuh setiap inci kulit mulus Cici.


Louis sempat menghentikan ciuman panas itu, sekarang ciuman itu berpindah ke leher jenjang wanita ini. Mencumbui tubuh Cici seakan ia merasakan sesuatu yang semakin dinikmati semakin susah berhenti, begitupun dengannya semakin ia melakukan kegiatan panas ini semakin ingin melakukan lagi dan lagi.


"Eugh... Ahhh" begitu nikmat sentuhan Louis mampu membuatnya tidak bisa menahan suara kenikmatan itu, dia terus merasakan sentuhan yang diberikan Louis sampai kepalanya menatap langit malam dengan mata terpejam.


Dia melanjutkan menciumi bibir Cici, merasa cuaca di luar begitu dingin ia dengan cepat menggendong tubuh Cici. Ia melangkah secara hati-hati tanpa melepaskan ciumannya, tubuh Louis tiba di sebuah kamar di samping balkon. Tangan lelaki itu membuka gagang pintu, tanpa menutup pintu kamar Louis terus melangkah sampai tubuh mereka berada di ranjang.

__ADS_1


Louis menidurkan tubuh Cici di atas ranjang dengan kegiatan panas ini belum terlepas, ciumannya semakin dalam membuat Cici tidak tahan dengan kegiatan yang begitu-begitu saja.


Louis menghentikan ciumannya beralih menatap wajah Cici, ia menggunakan tangannya untuk menyentuh wajah Cici. Berapa lama tatapan itu diberikan Louis semakin Cici ingin segera melanjutkan kegiatan barusan.


"Kenapa, baby?" tanya Louis melihat wajah Cici ingin segera melanjutkan kegiatan barusan.


"Aku mohon jangan berhenti. Aku mau kamu lakukan kegiatan barusan lebih dalam lagi." pinta Cici sedikit memohon untuk hasratnya bisa dituntaskan dengan cepat.


"Apa kamu yakin dengan permintaan kamu itu?" tanya Louis membuat Cici mengangguk, senyuman yang diberikan Louis mampu membuat hati Cici meleleh.


"Baiklah. Saya akan mengikuti kemauan kamu asalkan kamu harus kuat dengan permainanku." kata Louis masih menatap Cici, wanita itu tidak bisa menunggu lagi dia malah mendorong kepala Louis untuk mencium bibirnya kembali.


***


Malam itu adalah malam terindah yang selalu dimimpikan Cici, ia merasa kegiatan panas semalam seperti mimpi tapi dia merasakan itu benar-benar nyata. Cici terus memandang wajah Louis saat lelaki ini masih terlelap dengan memeluk tubuhnya.


Louis yang merasakan ada sentuhan dari seseorang memilih membuka mata, dia melihat Cici tersenyum kearahnya dengan pandangan itu masih kearahnya.


"Pagi, sayang." ucap Louis dengan memberikan kecupan di bibir Cici, wanita itu tersenyum melihat sikap romantis Louis.


"Kenapa kamu cepat sekali bangunnya, bukannya sekarang masih pagi." lelaki itu bangun dari tidur dengan tubuh bersandar di sandaran ranjang.


"Bukannya di kantor kamu masih punya kesibukan, seharusnya kamu sibuk mengurus kantor bukan berlama-lama di villa ini." ujar Cici membuat Louis menatap.


"Kamu rela pulang sekarang?" pertanyaan itu sontak membuat Cici kebingungan, melihat wajah Cici kebingungan mampu membuat Louis tersenyum dengan ekspresi menggemaskan Cici.


"Aku sudah minta Novan izin tidak masuk hari ini. Jadi kita bisa melakukan kegiatan itu lagi, sekalian liburan sama kamu." kata Louis membuat mata Cici berbinar mendengar ucapan Louis.

__ADS_1


"Kamu serius, sayang?" mendapatkan anggukan dari Louis Cici dengan cepat memeluk tubuh lelaki itu.


Pelukan yang diberikan Cici mampu membuatnya tersenyum, senyumannya kali ini sangat mengerikan sampai wanita ini saja tidak tau dengan senyuman yang diperlihatkan Louis.


Cici menatap Louis saat dia sudah melepaskan pelukannya, "Sayang, aku lapar."


"Baiklah, aku buatkan kamu sarapan. Kamu bersihkan tubuhmu dulu baru aku akan memanggil kamu untuk makan bersama." ia tersenyum dengan mengangguk, Louis turun dari ranjang menuju dapur.


Sedangkan dia pergi ke dapur menyiapkan sarapan, Louis sibuk mengambil beberapa bahan masakan dengan tangan digunakan untuk memasak makanan. Butuh waktu dua puluh menit makanan itu jadi, Louis menatap lantai dua. Dia buru-buru mengeluarkan sebuah botol kecil, ia membuka botol itu untuk dituangkan ke makanan Cici.


Selesai memberikan serbuk di makanan, Louis dengan cepat mengaduk makanan itu dan membiarkan Cici datang dan memakan masakannya yang sudah ia campurkan sesuatu. Louis memberikan senyuman melihat Cici datang, Cici yang melihat sarapannya selesai dibuat menatap Louis.


"Kamu yang buat ini semua?" tanya Cici yang tidak percaya ternyata Louis pandai memasak.


"Ya sayang ini masakan aku semua. Sekarang kamu cobain masakan buatan aku," ucap Louis meminta Cici mencoba masakan yang dia buat, melihatnya melahap makanan yang dibuat ada sedikit senang karena makanan itu berhasil masuk ke dalam mulutnya.


"Akan aku pastikan kamu akan menderita dengan makanan itu Ci. Dan kamu tidak akan berani mengganggu hubunganku dengan Felia." batin Louis menatap Cici melahap makanan yang dia buat.


"Obat itu akan terus bekerja sampai kamu merasakan apa yang kamu lakukan dulu Ci. Obat itu akan merangsang tubuhmu sampai tubuhmu tidak bisa dikendalikan." ucapnya di dalam hati dengan tangan memasukan makanan ke dalam mulut.


"Gimana kamu suka dengan masakan aku?" tanya Louis menanyakan pendapat dari wanita ini, wanita itu dengan cepat menghentikan sarapannya lalu menatap Louis.


"Ini masakan kamu enak banget. Baru pertama kali aku mencoba makanan seenak ini."


"Aku senang kamu suka masakan yang aku buat, sekarang kamu habiskan makanan kamu nanti aku ajak kamu jalan-jalan."


"Sungguh!" ucap Cici yang tidak percaya Louis bisa sebaik ini, dia dengan cepat melahap makanannya dengan Louis memperhatikan wanita ini.

__ADS_1


__ADS_2