
Felia berlari menjauh dari tempat itu, ia tidak ingin bertemu atau mengingat kejadian semalam. Baginya malam itu adalah malam terkutuk, karena dengan suka rela ia memberikan tubuhnya untuk orang lain dan lebih parahnya ia melakukan itu sama calon mertuanya sendiri bukan sama kekasihnya.
"Bodoh! Kau benar-benar bodoh, Felia! Kenapa kau melakukan perbuatan menjijikkan itu, kenapa kau menikmati sentuhan yang diberikan Edbert." batin Felia terus memaki dirinya sendiri, ia sudah mencoba melupakan kejadian semalam tapi baginya kegiatan malam itu adalah kegiatan belum pernah ia rasakan.
Felia terus menerus menggeleng mencoba tidak mengingat apapun, hanya itu yang bisa ia lakukan. Dan semoga saja Edbert tidak mengingatnya kembali.
Edbert menyibukkan diri untuk melupakan kejadian semalam yang menimpa dirinya, semakin ia menyibukkan diri semakin ingatan itu muncul. Dimana ia mendengar suara indah Felia mampu membuat dirinya tidak fokus, bagaimana bisa dia melakukan hal bodoh itu sampai ia tidak bisa membedakan mana calon menantunya mana wanita bayaran.
Kedua tangan Edbert menyentuh kening, wajahnya menatap meja kerja yang awalnya ia ingin menyelesaikan pekerjaan kantor tetapi mengingat kegiatan semalam dengan Felia.
"Kenapa rasanya berbeda dari wanita yang pernah aku temui, kenapa harus Felia yang menjadi partner ranjang. Seharusnya bukan dia melainkan wanita lain." Edbert terus bicara melawan hati yang terus-menerus membicarakan Felia, seumur hidup dia belum pernah merasakan hal seperti ini.
Dua puluh tiga tahun ia ditinggal sang istri baru kali ini merasakan hal itu lagi, itu semua terjadi ketika bersama Felia. Wanita itulah yang bisa membuat panas di tubuhnya mulai bangkit.
"Sayang, hari ini kamu tidak ke kantor?" tanya seseorang yang sibuk menatap sang kekasih, Louis yang mengetahui Felia tidak ke kantor langsung menghubungi Felia.
"Aku lagi gak enak badan. Maaf ya sayang hari ini tidak bisa ketemu sama kamu." Felia menatap wajah Louis lewat handphone dengan penampilan yang sudah berubah.
"Nggak apa-apa. Kamu jaga kesehatan, sepulang kerja aku akan ke rumah kamu. Mau aku bawain makanan buat kamu?" Louis masih menatap Felia dengan menawarkan sesuatu untuk kekasihnya.
"Gak usah, lagian cuman sakit biasa gak usah di permasalahkan." ucap Felia, saat menatap wajah Louis rasa bersalah datang.
Karena ia sudah mengkhianati hubungannya dengan Louis, lima tahun pacaran ia hancurkan begitu saja. Lebih parahnya ia selingkuh dengan ayah Louis.
"Sayang! Felia!" panggilan Louis membuat Felia tersadar dari lamunan.
"Kamu ini kenapa melamun aku lagi bicara sama kamu. Kamu yakin tidak apa-apa? Aku takut kamu kenapa-napa." Felia tersenyum melihat Louis mengkhawatirkannya, ia memberikan gelengan bertanda dirinya baik-baik aja.
"Aku baik-baik aja. Kamu lanjut kerja aja aku tutup telepon mau istirahat."
"Baiklah, kamu istirahat aja kalau butuh apa-apa bilang sama aku." ucap Louis membuat Felia mengangguk.
Dari awal sampai panggilan Louis selesai satu wanita terus menguping pembicaraan mereka, Cici dari awal sudah berada di luar ruang rapat. Selesai Rapat Cici tidak kembali melainkan menunggu, ia juga meletakan alat pendengar untuk mengetahui pembicaraan antara Louis dan Felia.
__ADS_1
"Bagus, ini awal yang bagus untukku. Akhirnya Felia sakit dan aku bisa mendapatkan Louis dengan caraku sendiri! Aku akan pastikan kamu akan menjadi milikku, Louis." batin Cici, selesai mendengar pembicaraan Cici kembali keruangan.
***
Cici melihat OB wanita membawa minuman yang dia yakini minuman itu akan diberikan untuk Louis, dan benar saja wanita itu ingin mengantarkan minimun untuk Louis.
"Mba, yakin mau membawa minuman ini untuk pak Louis." ucap wanita yang memakai seragam OB.
"Ya mba. Kamu kerjakan pekerjaan yang lain, saya yang akan membawa minuman ini."
"Tapi mba kalau saya di pecat gimana." Cici menatap wanita ini saat wanita ini khawatir akan pekerjaannya.
"Kamu tidak akan di pecat. Lebih baik kamu lakuin pekerjaan kamu yang lain, biarkan minuman ini saya berikan." akhirnya OB itu menyerah berdebat dengan Cici, OB itu pergi menyerahkan minuman kepada Cici.
Perjalanan mengantarkan minuman Cici tidak henti-hentinya tersenyum, karena rencana yang diberikan temannya berhasil. Akhirnya ia bisa bertemu dengan Louis, walau lelaki itu tidak menginginkan kehadirannya.
Tok! Tok!
Tanpa mengatakan apapun Cici memberikan minuman, ia menatap Louis saat lelaki itu sibuk mengerjakan dokumen perusahaan.
"Bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu, bayanganmu saja selalu melintas di pikiranku." gumam Cici di dalam hati, tanpa keluar dari ruangan Louis ia masih nyaman menatap wajah lelaki ini.
Louis yang menyadari ada yang aneh menatap OB yang mengantarkan minumannya, seketika ia dibuat terkejut karena bukan OB yang mengantarkan minuman melainkan Cici karyawannya sendiri.
"Kenapa kamu yang membawakan saya minuman, dimana OB yang saya suruh." ucap Louis menatap Cici tidak suka, karena kehadiran Cici membuat dirinya tidak nyaman.
"Dia lagi sibuk pak. Saya kasihan melihat dia melakukan pekerjaan banyak, jadi saya membantu OB untuk mengantarkan minuman untuk bapak." kata Cici, Louis sama sekali tidak merespon apapun lagi ia malah memberikan minuman itu untuk Cici.
Cici melihat Louis mengembalikan minuman yang ia bawa menatap Louis, "Bawa minuman ini ke dapur."
"Loh, kenapa pak? Bukannya minuman itu pesanan bapak."
"Ya, karena saya tidak suka minuman saya diantarkan orang lain kecuali orang yang saya perintahkan." pekik Louis dengan tegas, ia kembali menatap layar komputer.
__ADS_1
"Silakan kamu keluar dari ruangan saya, saya tidak suka kamu berada di sini." ucap Louis membuat amarah Cici semakin bertambah, wanita itu keluar dari tempat Louis.
"Berani-beraninya dia usir aku, lihat saja Louis kamu akan tunduk kepadaku." wanita itu pergi dari ruangan Louis, sedangkan di tempat lain Felia menyibukan diri dari pikiran aneh yang selalu melayang di pikirannya.
"Saya serahkan semua pekerjaan sama kamu, saya mau menjenguk pacar saya. Nanti kalau ada masalah sama kantor kamu kabarin saya." kata Louis membuat sekretarisnya mengangguk, selesai memerintahkan sekretarisnya ia bergegas pergi menemui Felia.
Louis tidak sengaja melihat Cici akting di depan matanya, sungguh wanita murahan bersikap seperti tidak memiliki harga diri. Wanita itu menatap Louis yang hanya menatapnya tanpa membantunya.
"Pak, kaki saya sakit sekali. Bapak gak mau bantuin saya berdiri." ujar Cici dengan menyentuh kaki, melihat akting Cici membuatnya muak.
"Kamu bantu dia berdiri, saya tidak mau mengurus wanita ini." perintah Louis kepada pria yang berada di belakangnya.
Lelaki itu membantu Cici berdiri tidak dengan Louis, ia malah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ish. Kenapa Louis mengabaikan aku lagi, harusnya rencana ini berhasil kenapa tidak berhasil untuk dia." ia menghentakkan kaki karena Louis terus mengabaikannya dan lebih parahnya lelaki itu tidak melihatnya.
Suara bel terus menerus mengusik waktu tidur, ia mencoba menutup kuping supaya suara bel tidak menggangu tidurnya. Semakin dia berusaha mengabaikan suara itu semakin terdengar nyaring, akhirnya ia memilih melihat siapa yang menganggu waktu tidurnya.
"Louis." gumam Felia menatap kekasihnya berdiri di depan rumah.
"Aku boleh masuk." Felia menutup pintu saat Louis masuk ke dalam, lelaki itu duduk dengan membawa bungkusan makanan.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Louis menatap Felia sibuk di dapur.
"Aku udah gak apa-apa." Felia membawa minuman dari dapur menuju ruang tamu, "Kenapa tidak kabarin aku kalau kamu mau datang?"
"Aku buru-buru sayang, aku khawatir sama kamu makanya langsung datang nemuin kamu." Felia manggut-manggut dengan ucapan Louis, ia mengambil bungkusan yang dibawa Louis.
"Kamu kenapa bisa tau kalau aku mau sate." ucap Felia menatap Louis sibuk melahap minuman yang disiapkan Felia.
Louis meletakan gelas itu kembali barulah ia menatap Felia, "Karena aku tau pasti jam segini kamu belum makan, makanya aku datang bawa makanan untuk kamu."
"Makasih ya sayang." Louis mengangguk sambil tersenyum, ia melihat Felia tersenyum saat membuka makanan yang dia beri.
__ADS_1