Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Kelahiran Seorang Penerus


__ADS_3

Edbert bernafas lega saat wanita pengganggu itu akhirnya pergi, entah bagaimana ia menghadapi Laura yang pasti wanita itu berhasil membuatnya gila. Ancaman Laura membuatnya semakin kepikiran saat Laura mengetahui fakta tentang hubungannya dengan Felia.


"Bagaimana bisa dia mengetahui semuanya. Semua bukti itu tidak ada yang tau kecuali Bob, apa Bob sengaja melakukan ini untuk menghancurkan ku." gumam Edbert dalam hati dengan menatap lurus ke arah depan.


Laura tetap Laura yang tidak bisa gagal dalam rencananya, dia akan melakukan apapun demi mendapatkan semuanya dan menghancurkan keluarga Louis. Dia memang sudah di pecat oleh Edbert tapi suatu saat dia akan kembali lagi, kembali untuk menghancurkan keluarga mereka.


• Dua Bulan kemudian


Semenjak Laura di pecat hidupnya merasa tenang, hari ini adalah hari dimana ia akan menjadi seorang ayah. Anak yang dia nantikan akan datang ke dunia, walaupun anak itu dikira anak Louis tapi dia yakin kalau anak itu adalah anaknya.


Sekarang kedua laki-laki itu sudah berada di rumah sakit, tepatnya diruang persalinan. Kedua lelaki itu diminta dokter untuk menunggu di luar saat persalinan itu berlangsung.


Edbert dengan Louis duduk di bangku tunggu dengan berusaha memberikan kekuatan, dan doa untuk wanita yang sekarang sedang berjuang melahirkan seorang anak. Keduanya sama-sama menunggu sampai telinga mereka mendengar suara tangisan bayi, mendengar itu Edbert dengan Louis serempak bangkit menghampiri ruang bersalin.


"Bagaimana dok, apa anak dan istri saya baik-baik aja?" tanya Louis yang melihat dokter itu membuka pintu ruangan persalinan, dokter itu yang awalnya memakai masker langsung membuka penutup wajah.


"Anak dan istri bapak baik-baik aja. Mereka berdua dalam keadaan sehat, silakan bapak bisa menemui istri dan anak bapak di dalam." ucap dokter, lalu dokter itu bergegas pergi setelah memberikan informasi tentang Felia.


Edbert masuk ke dalam, dia melihat Felia tersenyum kearahnya dan dia menatap anak kecil yang digendong oleh Louis. Anak laki-laki yang sudah datang ke dunia, dan anak itu adalah anaknya.


"Ganteng sekali anak kamu. Ayah senang kamu dan anak ini selamat. Selamat untuk kalian berdua yang sudah menjadi orang tua, ayah bangga sama kalian."


"Terima kasih ayah." ucap Felia, lalu dia kembali melihat putra kecilnya yang terus menangis di gendong Louis.


"Sini ayah gendong siapa tau dia diam." pinta Edbert, lalu Louis memberikan anaknya ke Edbert.


Di luar dugaan kalau anak itu seketika terdiam, sedangkan saat dia menggendong putranya, putranya langsung menangis tapi tidak dengan Edbert. Putranya itu langsung diam dengan posisi tubuhnya terasa nyaman.


Felia tersenyum saat anaknya mengetahui siapa ayah kandungnya, anak kecil itu tau kalau Louis bukanlah ayahnya melainkan Edbert. Sedangkan Louis yang melihat itu tidak memiliki kecurigaan sedikitpun, dia mengira kalau putranya memang nyaman di pelukan Edbert.

__ADS_1


"Dasar kamu ini sama ayah tidak mau di gendong sedangkan sama kakek mu langsung diam." kata Louis dengan menyentuh pipi bayi laki-laki itu, Felia tersenyum melihat interaksi keduanya.


Dia sangat bahagia melahirkan seorang anak laki-laki, tapi ia juga memikirkan bagaimana nanti kalau Louis tau kalau anak itu bukan anaknya. Setelah lama menatap anaknya, Louis beralih menatap Felia.


"Sayang, kamu mau makan apa. Aku mau keluar beli makanan siapa tau kamu ingin sesuatu." ucap Louis dengan mengelus puncak kepala Felia.


"Nggak usah sayang, kamu beli aja nanti juga suster akan antar makanan untuk aku."


"Baiklah, kalau gitu aku keluar dulu." Louis menatap Edbert yang masih sibuk dengan putra kecilnya, "Yah! Ayah mau nitip sesuatu?" tanya Louis membuat Edbert menatap Louis.


"Tidak usah, nanti ayah bisa beli sendiri." urai Edbert yang awalnya menatap Louis, lalu dia kembali melihat bayi kecilnya.


Louis pergi meninggalkan Felia dan Edbert, kepergian Louis mampu membuatnya menghampiri Felia yang sibuk melihat kearah.


"Sayang, selamat ya anak kita udah lahir. Kamu mau beri nama dia siapa?" tanya Edbert yang selesai mengecup kening Felia.


"Nama yang indah sama seperti kamu cantik." Felia yang mendapatkan pujian itu tersenyum malu, Edbert merasa kalau dirinya bahagia melihat Felia dan anaknya lahir.


***


Edbert yang sudah lama bermain dengan anaknya, segera meletakan kembali bayi mungil itu ke ranjang bayi. Dia segera menghampiri Felia yang sudah terlelap.


"Saya pergi sebentar nanti saya akan kembali." ucap Edbert menatap Felia yang masih terlelap, lalu dia mencium kening Felia sebelum ia pergi.


Langkah Edbert semakin menjauh dari kamar pasien dan seketika langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita dari kejauhan. Wanita itu seperti ingin melakukan sesuatu tapi ia tidak tau siapa wanita itu sebenarnya.


Saking penasaran Edbert mengikuti wanita itu, Akhirnya dia melihat wanita itu membuka penutup wajah, alangkah terkejutnya melihat wanita itu adalah Laura.


Entah bagaimana wanita itu bisa ada di sini, yang pasti wanita itu pasti sedang melakukan rencana jahat. Edbert terus bersembunyi dengan melihat ke arah mereka, sampai dirinya menyuruh seseorang untuk mengetahui pembicaraan mereka.

__ADS_1


Edbert melihat seorang lelaki membawa minuman ia segera memberikan tugas kepada lelaki itu, dari kejauhan dia melihat lelaki itu menghampiri mereka semua dan meletakan minuman mereka.


"Ini minumannya silakan dinikmati." ucap lelaki itu dengan meletakan tiga botol minuman.


Salah satu di antara mereka bangkit menghampiri lelaki yang mengantarkan minuman, "Kau ini lelet sekali membawa kami minuman, apa kau mau saya laporkan sama bos kamu untuk memecat mu?" kata lelaki itu dengan memberikan sebuah ancaman untuk laki-laki yang membawakan minuman.


Pengantar minuman itu langsung ketakutan melihat lelaki itu memberikan dia ancaman, "Ma-maafkan saya tuan! Saya mohon jangan katakan sama bos saya, saya tidak mau di pecat."


"Makanya kalau kerja yang benar." kata lelaki itu, saat lelaki itu ingin menghajar lelaki itu seorang wanita segera menahan tangan temannya. "Sudahlah, buat apa kau marah dengan dia. Hanya terlambat saja kau semarah ini, bagaimana nanti kalau ada musuh yang ada kau akan kesusahan menghajar musuh."


Tatapan mata Laura kembali melihat ke arah lelaki yang membawakan minuman, "Kamu silakan pergi dari sini sebelum kamu akan di hajar oleh dia."


Lelaki itu pergi setelah meletakan sesuatu di meja mereka, mereka semua tidak tau kalau lelaki barusan sudah diperintahkan seseorang untuk mengetahui rencana Laura. Sedangkan di balik tugas itu Edbert sudah memasang pendengar suara, suara yang akan mereka bicarakan akan masuk ke telinganya.


"Kau ini masalah sepele saja dibesarkan, gimana nanti kalau aku memerintahkan kamu untuk memimpin anggota kita yang ada kau akan menghancurkan semuanya." ucap Laura yang sudah membawa satu botol minuman, ia mengambil gelas kosong untuk menuangkan minuman tersebut.


Lelaki itu tidak berani melawan Laura, karena Laura yang paling berkuasa di antara mereka semua. Laura memerintahkan anggotanya untuk menuangkan minuman ke gelas masing-masing.


"Gimana dengan rencanamu itu? Apa rencanamu berjalan sempurna." ujar salah satu lelaki yang sibuk merokok.


Laura yang mendengar itu segera menghabiskan minuman, barulah dia kembali menatap lelaki yang memulai pembicaraan.


"Ya begitulah. Aku sudah memikirkan semuanya matang-matang, jadi kau tidak usah khawatir. Nanti setelah semuanya beres aku akan mentraktir mu makan enak." lelaki itu tersenyum sinis mendengar ucapan Laura.


Ia tidak tau apakah perkataan Laura benar atau tidak, yang pasti dia akan terus menagih hutang yang keluar dari mulut Laura. Lelaki itu mematikan sebatang rokok, dan dia melangkah menghampiri Laura.


"Saya tau kamu ingin menghancurkan keluarga mereka tapi apa kau yakin dengan semua rencanamu itu?" tanya lelaki itu saat dia sudah berada di samping Laura, Laura yang melirik tangan lelaki itu berada di pundaknya segera menyingkirkan tangan tersebut.


"Jauh-jauh tanganmu dari ku, aku tidak menyukai sikapmu itu terhadapku." ucap Laura dengan tegas, lelaki itu segera melepaskan tangannya kembali.

__ADS_1


__ADS_2