Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Pertemuan Kedua (Mayra & Lion)


__ADS_3

"Kamu mau ngapain, Felia?" tanya Edbert yang melihat Felia berada di dapur.


"Saya mau buat sarapan." jawab Felia dengan menatap Edbert lalu ia mengeluarkan semua bahan makanan di kulkas.


"Sudah biar saya saja yang masak, kamu duduk manis aja. Saya tidak mau kamu kenapa-napa apalagi membuat anak saya ini kelelahan melihat ibunya masak." kata Edbert beralih mengelus perut Felia.


"Baiklah." Felia memilih mengikuti perintah dari Edbert, ia malah fokus dengan lelaki di depannya ini.


Laki-laki tampan, seorang duda yang sudah mencuri hatinya sejak lama dan sekarang ia hamil anak dari ayah mertuanya. Ini adalah hubungan yang tidak seharusnya dia lakukan, tapi ia tidak bisa melawan pesona dari ayah mertuanya sendiri.


Dia sangat beruntung mendapatkan lelaki ini, tetapi ia juga tidak bisa mengharapkan apapun dari hubungan terlarang ini. Dia masih mencintai suaminya dan sekarang ia tidak tau kabar dari Louis, apa dia akan tau hubungannya dengan ayahnya sendiri atau malah sebaliknya Louis akan menceraikannya.


Felia masih belum sadar sebenarnya Edbert sudah berada di meja dengan piring yang tersusun rapih, "Felia." ucapan Edbert mampu membuat Felia sadar.


Dia melihat lelaki itu sudah berada di hadapannya dengan menyiapkan sarapan, "Apa yang sedang kamu lamun 'kan sampai tidak sadar bahwa saya sudah berada di depanmu."


"Bukan apa-apa yah." Keduanya sama-sama menikmati sarapan bersama, tidak ada yang mengeluarkan suara hanya terdengar suara sendok masing-masing.


Edbert menghentikan makanan lalu memilih menatap Felia, "Sayang, kamu kan lagi hamil gimana kamu di rumah aja tidak usah bekerja."


Mendengar itu Felia dengan cepat berhenti lalu matanya langsung menatap Edbert, "Maksud ayah aku tidak boleh bekerja lagi?"


"Bukan itu maksud ayah. Ayah gak mau kamu kenapa-napa Felia, saya tidak ingin kamu kelelahan apalagi kamu masih rentan. Kamu ingatkan apa kata dokter? Kamu tidak boleh kelelahan dan kamu harus jaga diri baik-baik saya gak mau anak saya kenapa-napa." ucap Edbert dengan lembut, kelembutan yang diberikan Edbert mampu membuat Felia terbuai.


Ini bukan pertama kalinya ia melihat kelembutan dari ayah mertuanya, tapi entah kenapa ia sangat menyukai sikap ayah mertuanya.


"Tapi ayah kalau aku tidak bekerja aku bosan di rumah. Aku tidak mau berdiam di rumah tanpa melakukan sesuatu."


"Ya udah kamu boleh bekerja asalkan saya yang mengantar kamu bekerja. Saya tidak mau kamu terjadi sesuatu di jalan, apalagi membuat anak saya kenapa-napa." Felia dengan cepat mengangguk dengan perkataan Edbert, ia memilih mengikuti semua permintaan Edbert sampai dirinya tiba di kantor.


Selama mereka berjalan melewati berbagai ruangan Edbert selalu menjaga dirinya, sampai dia sudah tiba di ruangan.

__ADS_1


"Kalau kamu butuh bantuan saya akan datang ke tempat kamu, ingat pesan saya jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja saya tidak mau melihat kamu kelelahan." kata Edbert dengan memperingati Felia.


"Iya, ayah." sebelum Edbert memutuskan untuk pergi Edbert memberikan sebuah ciuman tepat di kening Felia, selesai ciuman itu terlepas barulah ia meninggalkan Felia sendiri di ruangannya.


"Kamu sudah mendapatkan informasi tentang wanita itu?" tanya Edbert saat dia melihat Bob sudah berada di ruangannya.


Bob mengangguk dan memberikan bukti yang diminta Edbert, dugaannya benar kalau selama ini Mayra yang sudah melakukan rencana jahat ini dan dia sengaja melakukan ini untuk mengantarkan rumah tangganya. Yang lebih parahnya wanita itu bersekongkol dengan pacarnya, sampai istrinya percaya kalau dirinya dan Mayra memiliki hubungan gelap.


Edbert meremas bukti itu sampai bukti yang sempat diberikan Bob rusak, "Kamu sudah salah bermain denganku Mayra. Wanita seperti kamu bukan lawanku, jadi saya akan membiarkan kamu melakukan apapun sampai saya bisa mendapatkan momen untuk menghancurkan kamu."


Melihat kemarahan yang terpendam dari balik ketenangan Edbert membuat Bob diam, dia tidak berani melawan ataupun bicara di saat posisinya sudah emosi.


Lalu Edbert kembali menatap Bob, "Kamu atur pertemuan saya dengan dia. Saya mau bicara dengannya, saya mau tau apakah dia masih mengingat saya atau tidak."


"Baik bos." Bob melangkah pergi dari sana, kepergian Bob membuat Edbert marah besar malah kertas yang dia remas ia buang ke tempat sampah.


***


"Hai, honey!" sapa seorang wanita cantik yang mengetahui kalau kekasihnya datang ke tempat tongkrongan.


"Nggak apa-apa. Aku datang kemari mau ketemu kamu, soalnya aku udah kangen sama kamu." Edrick yang mendengar itu tersenyum lalu ia mengajak Mayra menemui teman-temannya.


Lagi-lagi Mayra ketemu dengan Lion, lelaki itu malah tersenyum entah kenapa dia merasa takut kalau nanti Lion mengatakan yang sebenarnya kepada Edrick.


"Bro itu cewek lu?" tanya salah satu lelaki yang sibuk menuangkan minuman.


"Ya, kenalin dia Mayra cewek gua sekaligus calon istri gua." ucap Edrick kepada temannya itu, Mayra yang dikenalkan oleh Edrick cuman bisa tersenyum.


"Pintar banget lu cari cewek kaya Mayra. Udah cantik, seksi dapat dari mana cewek kaya dia?" timpal salah satu lelaki yang sedikit menimbulkan candaan, baginya memang candaan tidak dengan Mayra.


Mayra sangat takut kalau mereka tau tentang dirinya apalagi Edrick, dia selalu menatap Lion supaya lelaki itu tidak bicara apapun tentang dirinya.

__ADS_1


"Bro, lu jago juga dapat cewek kaya cewek lu. Apa lu yakin cewek lu itu masih polos, atau dia sudah kenal banyak cowok sampai ngajak tidur bersama." lontar Lion sengaja menatap Mayra, Edrick yang mendengar itu langsung menghampiri Lion dengan ekspresi marah.


"Maksud lu apa? Jangan pernah ngatain cewek gua kaya gitu, dia itu wanita baik-baik mana mungkin dia lakuin itu." kata Edrick yang tidak suka dengan perkataan Lion, untung aja salah satu temannya bisa memisahkan mereka kalau tidak mungkin sudah ada perkelahian di antara mereka berdua.


"Sudah bro jangan di dengerin ucapan Lion. Lu taukan dia itu suka bercanda jangan masukin ke hati ucapan Lion." ucap lelaki yang berusaha menenangkan Edrick.


Mayra duduk di samping Edrick saat posisi Mayra berhadapan dengan tempat duduk Lion, Lion terus menatap Mayra saat pakaian Mayra sedikit terbuka walaupun mengenakan jaket Edrick.


Semua laki-laki sibuk dengan pembicaraan masing-masing tidak dengan Lion, ia masih mendengar apa yang temannya bicarakan tapi ia tetap fokus dengan kecantikan Mayra. Mayra menatap Lion saat ia merasakan ada sentuhan dari seseorang, Mayra menatap ke bawah melihat apa yang dilakukan Lion.


Dan benar saja Lion sibuk menggodanya, di situasi seperti ini Lion sudah membuatnya panas dingin apalagi lelaki itu bersikap santai saat dirinya sudah mulai terbuai akan sentuhan lelaki itu.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Edrick melihat wajah Mayra berkeringat, Mayra dengan cepat menggeleng walau hidupnya sudah tidak bisa tenang.


"A-aku gak apa-apa. Oh ya sayang, aku izin ke toilet sebentar ya." ucap Mayra menatap kekasihnya.


"Ya, hati-hati." Mayra mengangguk, ia dengan cepat pergi dengan membawa tas berukuran kecil.


Lion yang melihat Mayra pergi izin pamit kepada teman-temannya, dia melangkah ke toilet tepat dimana Mayra berada. Lion masih menunggu Mayra dari luar toilet wanita sampai wanita itu keluar.


"Lion." ucap Mayra yang merasa kaget dengan keberadaan Lion di toilet wanita. "Buat apa kamu ke toilet wanita, bukannya toilet pria ada di sebelah sana."


"Menurut kamu saya datang kemari untuk apa?" tanyanya dengan menatap kecantikan Mayra.


"Ka-kamu mau apa, Lion? Jangan macam-macam atau saya teriak." ancam Mayra membuat Lion tertawa dengan ancaman itu, Lion tidak peduli dengan ancaman Mayra ia terus mendekati Mayra sampai tubuh wanita itu sudah terbentur dinding toilet.


"Coba aja kalau berani, kamu tidak akan berani teriak karena saya tau kalau kamu teriak pasti tidak ada orang yang menolong kamu di sini." kata Lion melihat Mayra sudah terlihat pucat.


Melihat wajah Mayra yang sudah pucat iapun tertawa, "Kenapa? Takut? Kamu takut kalau saya macam-macam sama kamu? Bukannya kamu sudah terbiasa melakukan ini sama lelaki di luar sana."


"Ma-maksud kamu apa?"

__ADS_1


"Maksud saya..." Lion memberanikan diri menyentuh dagu Mayra lalu ia kembali menyentuh wajah Mayra yang begitu cantik, "Kamu itu wanita murahan yang sudah tau taktik laki-laki di luar sana, apa saya ini bodoh yang tidak tau tentang kamu."


"Atau kamu ini pura-pura polos supaya kamu bisa melakukan rencana kamu biar Edrick tidak tau apa yang dilakukan kamu di luar sana." ucapnya kembali tanpa memalingkan wajahnya, ia masih menatap wajah Mayra begitupun dengan tubuh Mayra.


__ADS_2