
"Sungguh memalukan." ucap Edbert mendengar setiap perkataan yang mereka bicarakan.
Ia meninggalkan handphone yang selalu dia tatap, tatapan Edbert kali ini mengarahkan ke kaca mobil. Di sana dia melihat Cici dengan wanita asing keluar, barulah Bob datang masuk ke dalam mobil.
"Ikuti mobil itu, pak." perintah Bob membuat Edbert menatap dengan bingung.
"Kenapa kau memerintahkan supir saya. Apa kau ini bosnya?" ucap Edbert dengan raut kesal, baru kali ini Bob memerintahkan supir pribadinya.
"Maaf pak. Saya menemukan informasi lain mengenai wanita itu, wanita itu sedikit mencurigakan. Makanya saya meminta supir untuk mengikuti mobil wanita itu." urai Bob masih menatap mobil yang mereka ikuti.
"Kau sungguh mendapatkan informasi lain mengenai wanita itu?" ucap Edbert mengikuti arah pandangan Bob, lelaki ini mengangguk dengan memberikan data informasi mengenai wanita asing itu.
Edbert membaca setiap informasi yang didapatkan Bob, dengan posisi mobil masih mengikuti mobil yang ada di depan. Supir menghentikan mobil dari jauh, saat mobil yang mereka ikuti berhenti disebuah rumah.
Kedua lelaki ini saling menatap kearah rumah kosong yang dihentikan wanita itu, "Buat apa wanita itu berhenti di rumah kosong? Apa dia menyimpan sesuatu di tempat itu?" batin Edbert masih memandang rumah kosong itu.
"Perlu saya masuk kesana, bos?" ucap Bob menatap Edbert.
"Tidak perlu. Saya rasa pencarian kita malam ini sudah cukup, besok kamu cari tau apa yang ada di dalam rumah itu." lontar Edbert sedikit penasaran dengan rumah yang dimasukan wanita itu, Bob mengikuti perintah dari Edbert dan mobil mereka bergegas pergi.
Felia seperti biasa bekerja di kantor Louis, walaupun Louis melarangnya untuk tidak bekerja tapi ia tidak ingin tinggal di rumah. Entah apa yang terjadi di kantor yang pasti sikap semua karyawan begitu berbeda, mulai dari ia datang sampai ia masuk keruangan.
"Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa mereka menatapku seperti itu." ucap Felia bertanya-tanya didalam hati.
Tatapan kali ini mengarahkan Cici, wanita itu baru saja tiba di kantor dengan penampilan yang menurutnya sangat berbeda.
"Kenapa Cici berpenampilan seperti diriku? Dan sikap dia kenapa sedikit berbeda?" Felia tetap menatap Cici dari jauh walau ia penasaran dengan Cici.
"Tunggu kenapa Cici masuk kesana? Apa dia ada perlu sama pak Louis?" tanya Felia ke salah satu karyawan lelaki.
Lelaki itu menatap Felia yang ia tau wanita ini adalah wanita yang pernah menabraknya, "Kak. Kakak gak tau mengenai Cici?"
__ADS_1
Bill membawa Felia ke salah satu tempat dimana tempat itu terlihat sepi, ia melepaskan tangan Felia dan membalikan badan untuk menatap Felia.
Belum sempat Felia bicara Bill memberikan berita mengenai Felia, wanita itu membaca berita hoax yang dia dapatkan melalui Bill.
"Pantas semua orang pada menatapku tidak suka, pasti gara-gara berita aneh ini membuat orang lain salah paham. Tapi siapa yang melakukan ini?" batin Felia masih bingung kenapa diberita ia seperti orang yang paling jahat.
Felia menatap Bill dengan memberikan handphone lelaki ini, "Kamu tau siapa yang melakukan ini?"
"Kalau aku tau aku sudah membantu kakak. Apa kakak punya musuh? Sampai musuh kakak tidak menyukai kakak." kata Bill membuat Felia berpikir, setahunya ia sama sekali tidak memiliki musuh.
"Mana mungkin aku punya musuh Bill. Aku aja baru kembali setelah menyiapkan pertunanganku." ucapan Felia membuat Bill terkejut, dia baru tau kalau Felia sudah mau tunangan dan sebentar lagi akan menikah.
Felia yang melihat Bill melamun menyadari lelaki ini, "Bill, kau ini kenapa bengong aja."
"Hah? Tidak apa-apa, kak."
***
"Siapa yang melakukan ini? Kenapa mereka menghujat Felia tanpa mengetahui berita yang sebenarnya." kata lelaki itu membaca semua komentar negatif mengenai Felia, ia sebagai kekasih merasa kesal dengan berita ini.
Tok! Tok!
Louis mendengar suara ketukan pintu berubah menjadi tidak terjadi apapun, ia melihat Cici datang membawa kopi yang dia minta. Wanita itu datang dengan tubuh yang persis dengan wangi Felia, ia memandang Cici saat wanita ini hanya fokus meletakan minuman.
"Pak, Pak Louis." panggil Cici membuat Louis tersadar, hampir saja ia menganggap Cici adalah Felia.
Tapi kenapa wanita ini terus mengikuti kelakuan Felia, dan kenapa wanita ini sedikit senang dari biasanya.
"Bapak kenapa? Apa bapak kelelahan sampai gak fokus gitu." ucap Cici membuat Louis menggeleng dengan menyentuh kening.
"Saya tidak apa-apa." Cici melangkah kearah Louis, ia mulai menggunakan rencana yang sudah ia susun.
__ADS_1
Secara perlahan langkah kaki Cici tepat di samping Louis, ia mulai menggunakan tangannya untuk menggoda Louis. Ia yang mendapatkan sentuhan dari Cici hampir terbuai, dia mencoba tidak tertarik dengan Cici tetapi apa daya wanita ini lebih kuat memikatnya.
"Sepertinya bapak kelelahan, apa perlu saya melakukan sesuatu untuk bapak. Supaya bapak lebih nyaman lagi." ucap Cici saat tangan itu mulai menyentuh kedua pundak Louis.
Louis tetap menahan sentuhan yang diberikan Cici, wanita itu menatap Louis yang tidak merespon godaannya.
"Sial! Kenapa Louis susah untuk digoda, harus cara apa lagi supaya lelaki ini bisa tergoda." batin Cici masih terdiam memikirkan rencana apa yang harus dia lakukan.
Seketika Cici tersenyum saat ide cemerlang masuk ke dalam otak, Cici memutar tempat duduk yang diduduki Louis. Yang awalnya posisi duduknya menghadap meja kerja dan sekarang menghadap Cici, wanita itu mulai menggunakan cara untuk merayunya.
Buktinya saja Cici sudah tidak menganggap atasan melainkan pria lain, ia melihat Cici menatapnya dengan duduk di pangkuannya.
"Apa yang kamu lakukan Cici. Sekarang masih jam kantor apa kau tidak punya etika merayu bos kamu sendiri." kata Louis menatap Cici, wanita ini kembali menatap Louis yang awalnya ia sibuk mencari sesuatu didalam tubuh Louis.
"Saya rasa saya sudah jatuh hati sama kamu, anggap saja ini bukan kantor melainkan tempat lain." Cici mencoba melonggarkan dasi yang dipakai Louis, ia mulai membuka satu persatu kancing kemeja Louis.
"Kamu bersikap seperti ini sama dengan wanita malam. Perlakuan kamu sekarang seperti mereka, apa kau tidak punya harga diri sampai kau melakukan ini." kata Louis membuat Cici tertawa, wanita itu bangkit dari pangkuan Louis.
"Apa bedanya saya dengan wanita penggoda. Bukannya saya lakuin ini demi mendapatkan hati kamu? Seharusnya kamu senang diperlakukan seperti ini, bukan malah menolak apa yang saya lakukan ke kamu."
Cici mendekat dengan tangan diletakan di sandaran kursi saat tubuh Louis menempel di kursi, ia mulai mendekati kearah telinga Louis.
"Saya akan melakukan cara untuk mendapatkan kamu, dan kamu tidak bisa bahagia dengan Felia. Sampai kapanpun saya tidak akan rela kamu dimiliki Felia, walau nanti saya akan menyingkirkan Felia demi mendapatkan kamu." Louis terdiam mendengar ucapan Cici, ia mulai menatap Cici saat wanita ini sudah mulai menjauh.
"Tindakan kamu bukan cinta atau sayang Cici melainkan sudah berlebihan. Orang yang benar-benar sayang sama seseorang walaupun orang itu bukan milik kamu, dia akan merelakan dan mengikhlaskan orang itu bersama pilihannya. Bukan seperti kamu yang melarang orang bahagia, sikap kamu bukan membuatku jatuh cinta melainkan akan membenci kamu." lontar Louis dengan nada tegas, ia memilih pergi dari ruangan tanpa memperdulikan Cici.
Felia tidak sengaja melihat Louis keluar dari kantor, entah mau kemana yang pasti pria itu buru-buru mengendarai mobil.
Malam harinya Bob sudah berada di tempat yang kemarin ia lihat, dia melihat rumah itu terlihat kumuh seperti tidak terawat. Ia mulai masuk ke rumah tersebut, disaat seorang wanita keluar dari rumah itu. Bob dengan hati-hati masuk dengan menatap sekitar, setelah menurutnya aman barulah Bob masuk.
Tidak begitu jelas isi yang ada di dalam rumah ini, ia mencoba mencari saklar lampu untuk menyalakan setiap sudut rumah. Lampu mulai terang satu persatu, di rumah sebesar ini tidak ada barang mewah hanya terisi barang yang sudah rapuh.
__ADS_1
Semakin langkahnya maju membuat Bob penasaran, tatapannya kali ini mengarahkan ke salah satu ruangan yang menurutnya sangat aneh, saking anehnya ia tidak bisa membuka ruangan ini.