Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Pernikahan Edbert & Felia


__ADS_3

Selama Louis berada di luar negeri mengurus perusahaan, ia mendengar berita kalau ayahnya akan bertunangan dengan Felia. Mantan istrinya dulu, sekarang ia mendapatkan undangan pernikahan yang akan dilaksanakan seminggu lagi.


Ia membuka undangan pernikahan itu lalu dia melihat ada dua nama mempelai, nama Felia tertera di undangan pernikahan. Melihat nama Felia membuat hatinya begitu menyakitkan, sangat sakit sampai dia tidak bisa melupakan Felia.


"Yang dikatakan orang benar Felia kalau saya sekarang sedang mengalami penyesalan, penyesalan yang saya buat sendiri. Tapi saya akan merelakan kamu untuk ayah, semoga kamu bahagia dengan ayah dan saya tidak akan berjumpa lagi sama kamu." batin Louis terus memandang undangan pernikahan.


Louis sudah menerima penyesalan yang selama ini ia alami, sekarang ia akan bangkit dan merelakan Felia bersama dengan orang lain. Waktunya ia tinggal memulai kehidupan baru dan bertemu dengan orang baru, walau dia tidak yakin apakah dia masih diberikan sosok wanita seperti Felia atau tidak.


° Seminggu Kemudian °



Gedung pernikahan yang bertema biru seperti laut ini membuat semua orang yang melihatnya akan takjub dengan dekorasinya, begitupun dengan Felia yang melihat gedung pernikahannya sudah seratus persen selesai. Tinggal menunggu besok pernikahan mereka akan dilaksanakan.


Hari ini momen yang mereka tunggu begitupun dengan tamu undangan, selesai melakukan janji suci kedua mempelai akan berjalan ke resepsi pernikahan yang dilakukan secara langsung. Momen seperti inilah yang mereka tunggu, kedua mempelai itu melangkah secara bersamaan melewati tamu undangan saat mereka melangkah di jalan tepat di tengah-tengah tamu undangan.


Felia yang berada di samping Edbert dengan tangan terus berada di tangan Edbert, selalu menampilkan senyum manisnya saat melihat Tami undangan pada melihat kearah mereka.


Edbert selalu menggenggam tangan Felia sampai mereka tiba di depan altar wedding, keduanya saling berhadapan satu sama lain dengan memandang satu sama lain. Semua tamu undangan pada bersorak ria saat semua tamu berteriak ingin melihat adegan ciuman mereka.


Tanpa menunggu waktu lama lagi Edbert memberanikan diri mendekati Felia sampai wajah mereka begitu dekat, "Terima kasih kamu sudah mau menerimaku, saya akan berusaha untuk membahagiakan kamu Felia sampai kakek dan nenek." ucap Edbert pelan membuat Felia tersenyum.


"Aku juga terima sama sama ayah karena aku sudah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya, maaf aku sudah menunggu waktu ayah untuk mendapatkan aku."


"Nggak apa-apa Felia, yang terpenting aku dan kamu sudah bersatu. Kita akan menjalani kehidupan pernikahan kita sampai melihat anak-anak kita memiliki keluarga."


Selesai kedua pengantin itu bicara Edbert langsung mencium bibir Felia, bibir itu menempel disambut dengan sorakan dan tepuk tangan tamu undangan. Begitupun dengan Louis yang melihat itu terlihat bahagia, dia sangat bahagia melihat Felia bertemu dengan orang yang tepat.


Edbert melepaskan ciuman itu saat mereka saling bertatapan, keduanya saling berbalik arah melihat kearah tamu undangan. Ada yang tersenyum bahagia dan ada juga menangis karena terharu melihat perjuangan cinta mereka.


Akhirnya acara pernikahan selesai semua tamu undangan pada pulang, tinggal tamu dari rekan bisnis dan juga keluarga. Louis menghampiri kedua mempelai di atas altar wedding membuat mereka berdua melihat Louis.


"Selamat untuk kalian berdua. Maaf aku baru sempat datang ke acara pernikahan kalian." ucap Louis mengucapkan selamat kepada mereka berdua.


Felia dan Edbert memberikan senyuman atas ucapan selamat yang diberikan Louis, dia begitu senang saat melihat Louis lagi.

__ADS_1


"Kamu dari kapan datang ke Indonesia Louis, bukannya kamu bilang tidak bisa datang ke acara pernikahan kami." ucap Felia membuat Louis tersenyum.


"Tidak Felia, saya tidak mungkin tidak datang ke acara pernikahan kalian. Hari ini kan hari bahagia kalian jadi saya harus datang melihat kalian bahagia." tutur Louis lalu dia kembali menatap Edbert.


***


"Ayah maafin aku baru sempat datang ke pernikahan kalian, aku tidak sempat datang ke pertunangan kalian."


"Nggak apa-apa Louis, kamu datang ke pernikahan ayah aja ayah sudah senang apalagi kamu datang ke dua acara." urai Edbert lalu lelaki itu segera memeluk Louis dengan erat sampai pelukan itu terdengar suara tangan Edbert yang menepuk pundak Louis.


"Jaga Felia ayah. Aku tidak mau melihat Felia sedih lagi, aku sudah menyesal nyakitin perasaan Felia demi keegoisanku sendiri." ucap Louis saat mereka masih memeluk.


"Ya! Ayah akan selalu menjaga dan membahagiakan Felia, tanpa kamu bilang ayah akan berusaha membahagiakan Felia." Edbert kembali melepaskan pelukannya dan dia menatap Louis.


"Ayah bangga sama kamu sekarang kamu sudah cukup dewasa, ayah yakin suatu saat kamu akan mendapatkan wanita yang mencintai kamu dengan tulus. Pasti wanita itu akan menerima masa lalu kamu dan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya."


Mendapatkan ucapan seperti itu Louis merasa bahagia tapi ia tidak yakin kalau ucapan ayahnya bisa menjadi kenyataan, sebenarnya setelah berpisah dengan Felia ia tidak ingin membuka hati lagi. Ia takut kalau suatu saat nanti dia akan tergoda dengan wanita lain.


"Baiklah, kalau gitu aku pamit dulu yah Felia."


"Loh kamu cepat sekali pulangnya kenapa gak nginap aja." ucap Felia yang mendengar Louis akan pulang secepat itu, lalu Louis kembali bicara.


"Baiklah, kalau gitu kamu hati-hati di jalan. Semoga kedepannya kamu bisa bahagia dan menemukan jalan yang terbaik untuk kamu."


Louis hanya bisa menjawab dengan senyuman, lalu dia berpamitan kepada kedua pengantin. Melihat kepergian Louis membuat sosok wanita itu segera menghampiri Louis, dan benar saja kalau Louis hampir masuk ke dalam mobil kalau bukan suaranya yang menghentikan Louis.


"Tania. Kenapa kamu mengikuti aku? Bukannya acaranya belum selesai." ucap Louis yang melihat Tania berada di hadapannya.


"Kamu mau kemana buru-buru sekali, apa kamu langsung pulang ke rumahmu." kata Tania yang memandang Louis.


"Tidak Tania. Saya tidak akan kembali lagi ke Indonesia."


"Maksud kamu? Kamu akan tinggal di luar negeri mengurus perusahaan di sana." urai Tania membuat Louis mengangguk.


"Berapa lama." Louis mengerutkan kening saat mendapatkan ucapan dari mulut Tania, ia tidak tau apakah Tania sedang mengkhawatirkannya atau tidak.

__ADS_1


"Hah? Maksud aku kamu tinggal di luar negeri mengurus perusahaan berapa lama, apa setelah kamu mengurus perusahaan akan kembali lagi." ucap Tania kembali, untung saja Tania bisa menemukan kata-kata jadi Louis tidak curiga dengan maksud perkataannya.


"Saya sudah katakan sama kamu barusan saya tidak akan kembali ke Indonesia saya akan tetap tinggal di luar negeri."


Jujur saja ia tidak berharap kalau Louis akan mengetahui perasaannya, tapi ia akan jujur dengan perasaannya sendiri masalah pria ini menerima perasaannya atau tidak itu urusan nanti.


"Tania kalau tidak ada yang kamu katakan saya akan pergi." tutur Louis saat lamunan Tania tersadar, lalu dia menghela nafas sebelum bicara kembali.


"Saya... A-aku..."


"Kamu kenapa, Tania?" tanya Louis penasaran pasalnya wanita ini bicara seperti orang yang berhadapan dengan atasan.


"A-aku mencintai kamu Louis." Louis terkejut saat mendengar ungkapan perasaan dari bibir Tania.


Ia tidak tau apakah dia akan menerima wanita baru atau tidak, tapi ia sudah berniat tidak membuka hati lagi. Sekarang dia harus mengatakan apa kepada Tania kalau yang sebenarnya dia tidak memiliki perasaan ke wanita ini.


"Nggak apa-apa Louis kalau kamu tidak mau menjawabnya sekarang, tapi aku akan menunggu jawaban dari kamu sampai kamu siap menerimaku." ucap Tania saat wanita itu kembali menatapnya.


"Terima kasih kamu sudah mau jujur dengan perasaan kamu Tania. Tapi aku sudah janji sama diriku sendiri kalau aku tidak akan membuka hati lagi."


"...."


Tania yang mendengar ucapan Louis yang jujur kepadanya membuat hatinya tergores, tapi ia sudah menebak kalau perasaan ini akan ditolak oleh Louis. Tania sebisa mungkin menguatkan hatinya untuk bisa bertatapan dengan Louis, dan akhirnya ia bisa menatap wajah tampan Louis.


"Ya nggak apa-apa Louis. Kamu berhak mengambil keputusan kamu sendiri aku bisa menerima keputusan kamu."


"Kalau gitu kamu masuklah ke dalam mobil supir kamu sudah menunggu kamu di dalam." ujar Tania saat dia berusaha untuk kuat.


Louis tersenyum samar saat melihat senyuman Tania tidak seperti dulu, akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Tania di sana. Melihat kepergian Louis Tania kembali melangkah untuk mengambil mobil.




__ADS_1



...(anggap aja adegan Edbert sama Felia)...


__ADS_2