
Felia tidak tau harus melakukan apa di kantor polisi, ia hanya diam membisu dengan memperhatikan mereka bicara dan dia hanya mendengarkan apa yang mereka katakan.
Edbert tetap diam saat polisi menjelaskan semua kejadian di masa lalu, sedangkan kedua orang tua lelaki itu terlihat kecewa saat mengetahui putranya melakukan kejahatan.
Selesai bicara dengan pihak polisi kedua pelaku itu dibawa oleh polisi, mereka berdua masuk ke dalam penjara dan ia membawa Felia keluar dari tempat tersebut.
"Kasihan ya melihat mereka berdua. Seharusnya mereka menikmati kehidupan indah malah menikmati kehidupan di dalam penjara." ucap Felia saat langkah keduanya sudah berada di luar penjara, Edbert yang mendengar itu menatap Felia.
"Mereka pantas mendapatkan itu. Apapun kejahatan yang mereka perbuat mereka sudah tau akibat yang sebenarnya." Felia mengangguk saat ia menatap Edbert, ia membawa Felia ke dalam mobil dengan menggenggam tangan kekasihnya.
Di dalam mobil Felia terus bersandar di pundak Edbert dengan tangan lelaki itu terus menyetir mobil, "Sayang, kamu mau makan dulu?" tawar Edbert saat ia masih sibuk mengendarai mobil.
Tanpa melepaskan pelukannya Felia memberikan jawaban dengan cara mengangguk, tanpa bicara lagi Edbert membawa Felia ke tempat makan yang berada di pinggir jalan. Karena Felia yang memintanya untuk berhenti di salah satu penjual pecel ayam.
Belum sempet Felia mau membuka pintu mobil ternyata Edbert sudah menahannya, "Kenapa?"
"Kamu yakin mau makan di tempat ini?" bukannya menjawab pertanyaan dari Felia Edbert malah bertanya kembali.
"Kenapa? Bukannya makanan pinggir jalan rasanya mengalahkan restoran. Kamu gak mau makan di tempat ini?" kata Felia melihat Edbert yang tidak ingin makan di tempat seperti itu.
"Gimana nanti kalau makanannya gak higenis. Aku rasa kita harus cari tempat makanan yang lain, ayah gak yakin kalau makan di sini enak dan higenis." ucap Edbert masih menahan Felia, ia juga melihat bahwa tempat penjual pecel lele terlihat jorok.
"Ya sudah ayah tinggal cari tempat makan yang lain saja. Aku mau makan di sana aja, kalau ayah gak mau makan cari tempat lain aja jangan ngajak aku." melihat Felia sudah turun dari mobil Edbert bergegas mengikuti Felia, dia sudah menebak kalau tempat ini bukan tempat yang cocok.
Buktinya aja ia melihat piring kotor di letakan di bawah, dan yang paling jorok minyak bekas goreng ayam tidak pernah diganti sampai menghitam apalagi meja yang di duduki Felia sangat berminyak dan berdebu.
Aduh Edbert, dia gak tau aja makanan pinggir jalan paling enak dari pada makanan di restoran. Author aja jadi pengen makan di pinggir jalan lagi 😂😂ðŸ¤
Edbert terpaksa mengikuti kemauan Felia, ia melihat seorang ibu-ibu menghampiri meja mereka saat Felia memanggil nama penjual pecel ayam.
"Bu, satu porsi pecel ayam sama teh hangatnya satu. Ayah mau makan apa?" tanya Felia saat ia menatap Edbert sibuk menatap kearah lain.
"Hah? Ayah samakan aja kaya kamu."
__ADS_1
"Dua porsi pecel ayam sama teh hangatnya ya Bu." ucap Felia kepada penjual pecel ayam.
"Baik mba. Nanti saya siapkan." Felia mengangguk saat ibu-ibu itu sudah pergi menyiapkan pesanannya, tidak dengan Edbert ia terus sibuk memperhatikan tempat yang ia duduki.
"Ayah ini kenapa? Dari tadi gak bisa diem gitu."
Edbert memajukan tubuhnya supaya ia bisa bicara dengan pelan tanpa menyakiti perasaan penjual, "Kamu yakin mau makan di tempat seperti ini? Tempat ini gak sehat Felia, lihatlah di sana masa minyak untuk menggoreng ayam sudah menghitam seperti tidak pernah di ganti. Dan satu lagi piring di cuci di bawah seharusnya di wastafel tempat cuci piring bukan di bawah."
Ia lama-lama bisa gila menghadapi sifat Edbert, ia terus menghela nafas saat ayah mertuanya terus bicara dengan perkataan yang sama.
"Sudahlah ayah jangan bawel terus. Ayah bicara seperti itu karena ayah belum pernah merasakan makanan di tempat ini, nanti kalau ayah sudah tau rasanya pasti ayah akan nambah."
***
Yang diucapkan Felia memang benar kalau makanan di sini sangatlah enak, buktinya saja ia terus meminta penjual pecel ayam untuk memasak pesanannya lagi.
"Kata ayah makanan di sini gak enak kenapa minta lagi." ucap Felia yang sedikit menyindir Edbert.
"Gimana ayah suka sama makanan di pinggir jalan?" tanya Felia saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
"Iya, ternyata makanannya sangat enak ayah sangat suka."
Felia dengan Edbert saling memberikan tatapan saat ia melihat sebuah mobil terparkir di depan rumah, tanpa berlama-lama di dalam mobil keduanya turun dari mobil dan melangkah ke dalam rumah.
Di sana mereka melihat Louis duduk di ruang tamu dengan pandangan kearah televisi, "Kamu datang. Ayah kira kamu akan lupa sama istri kamu."
perkataan Edbert mampu membuat Louis menatap dan melihat Felia dan ayahnya tiba di rumah, "Kamu dari mana aja sayang, kenapa handphone kamu susah di hubungi." ucap Louis saat lelaki itu menghampiri Felia.
"Bukan urusan kamu ini. Lagian tumben banget kamu nanyain aku biasanya kamu lupa sama aku." lontar Felia dan dia memilih melangkah menjauhi Louis, ia memilih ke dapur mengambil minuman kaleng.
"Maaf. Aku tidak bermaksud melupakan kamu Felia, selama ini aku sibuk mengurus kantor jadi tidak sempat datang menemui kamu." mendengar itu Felia menatap Louis sebentar lalu ia memilih duduk menikmati minuman kaleng.
"Ngapain kamu minta maaf Louis. Lagian juga ada kamu dan nggak ada kamu gak berpengaruh untuk Felia." Edbert memilih duduk di sofa saat Louis masih berdiri menatap Felia.
__ADS_1
"Felia, tolong buatkan ayah kopi ya." pinta Edbert membuat Felia mengangguk, sedangkan Louis kembali duduk di sofa berhadapan dengan ayahnya.
Kedua pria itu masih belum bicara sampai Felia datang membawa dua gelas minuman, segelas kopi ia berikan untuk Edbert dan satunya diberikan untuk Louis. Felia membawa segelas susu hamil untuknya dan memilih duduk di samping Edbert.
Louis melihat kearah gelas yang dibawa Felia, semenjak ia menjalin hubungan dengan Felia ia mengetahui bahwa Felia tidak menyukai susu dan sekarang kenapa Felia sangat menyukai susu.
"Sayang, kamu bukannya tidak suka susu kenapa minum susu." kata Louis yang keheranan melihat sikap Felia.
Saat Felia ingin menjawab ucapan Louis Edbert lebih dulu menjawabnya, "Istri kamu lagi hamil makanya dia harus minum susu hamil. Suami macam apa kamu yang tidak tau istri hamil."
Mendengar itu Louis seketika membeku, sekujur tubuhnya membeku sempurna dan dia belum mencerna ucapan Edbert saat ayahnya mengatakan Felia hamil. Saat ia sudah mencerna semuanya barulah Louis berdiri untuk menghampiri Felia.
"Sayang, kamu beneran hamil?" tanya Louis yang memastikan kalau pendengarannya tidak salah.
"Yang ayah bilang benar aku hamil. Sekarang kehamilanku sudah menginjak dua bulan." mendapatkan jawaban dari bibir Felia, ia dengan cepat memeluk tubuh Felia.
"Makasih ya sayang kamu sudah memberikan aku hadiah seindah ini. Aku janji aku tidak akan sibuk lagi, aku ingin fokus mengurus kamu dan anak kita." kata Louis yang menampakan ekspresi bahagia.
"Aku tidak butuh janji kamu yang aku butuhkan kepastian dari mulut kamu." ucap Felia membuat Louis menatap wajah Felia, lalu ia mengangguk dan tidak lupa memberikan sebuah kecupan di kening Felia.
Sedangkan Edbert terus menggenggam tangan Felia tanpa sepengetahuan Louis, sebenarnya anak yang dikandung Felia adalah anaknya bukan anak Louis. Karena dialah yang menanam benih itu bukan Louis.
Semenjak mendengar kabar bahwa Felia hamil Louis memutuskan untuk menyempatkan waktu untuk istri dan buah hatinya, dia selalu memberikan sebuah perhatian untuk Felia karena ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu kebersamaan dengan istri dan anaknya.
"Mau aku kupas kulit buahnya?" tanya Louis saat dia melihat Felia duduk di sofa dengan menikmati cemilan.
Felia tersenyum mendengar perhatian dari Louis di saat lelaki itu baru saja pulang kerja, "Boleh."
Tidak dengan Edbert ia malah tidak menyukai kedekatan Louis dengan Felia, semenjak mengetahui kehamilan Felia Louis terus berada di sisi Felia sedangkan dia hanya melihat dan menatap kebersamaan mereka berdua.
"Ayah mau kemana?" tanya Louis yang melihat Edbert sudah memakai pakaian rapih.
"Ayah ada urusan." setelah itu Edbert pergi dari mereka berdua, tetapi tidak dengan Felia ia malah menganggap kalau Edbert sedang menjauhinya.
__ADS_1