Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Mulai Goyah


__ADS_3

Semenjak kejadian di cafe kemarin Felia mulai bimbang dengan keputusannya, ia melihat bagaimana Louis memperjuangkannya kembali. Saat dia melihat Louis datang ke rumah Edbert untuk menjemputnya, dan dia juga melakukan hal-hal romantis seperti yang dia lakukan dulu.


"Felia, besok kan libur apa aku boleh mengajakmu jalan-jalan sama Alfred. Sudah lama aku tidak jalan dengan kalian berdua, apa besok kamu punya waktu untukku?" kata Louis yang melihat Felia sedang sibuk menatap layar handphone.


"Aku akan usahakan untuk bertemu kamu, jadi kamu jangan sungkan untuk menemui ku dan Alfred." jawaban Felia membuatnya tersenyum.


Dia akan mencoba menaklukan hati Felia, supaya rencana untuk berpisah tidak dipikirkan oleh Felia. Sedangkan Edbert tidak menyukai sikap Louis, sejak tadi pagi Louis sudah menjemput Felia di rumah.


Sebenarnya apa yang akan dilakukan Louis, apa pria itu akan meminta Felia untuk kembali atau memang pria itu ingin membuktikan kalau dirinya benar-benar menyesal.


"Argh! Kenapa semuanya jadi begini, kenapa Louis tiba-tiba bersikap seperti itu. Apa Felia akan kembali dengan Louis dan meninggalkannya lagi." batin Edbert yang sibuk melamun diruang kerja.


Edbert yang mendengar suara ketukan tersadar akan lamunannya, dia melihat Bob datang membawa berkas kantor. Tangan terus bekerja seperti biasa tapi pikiran entah tidak ada di sana, Bob yang melihat itu segera mengambil berkas kantor dan menatap bosnya ini.


"Bapak tidak apa-apa? Sepertinya bapak sedang banyak masalah, apa bapak sedang memikirkan Felia." ucap Bob membuat Edbert menatap sekretarisnya.


"Apa menurut kamu Felia akan kembali dengan Louis dan kembali meninggalkan saya lagi?"


Bob mengerutkan kening dengan pertanyaan yang dilontarkan Edbert, "Kemarin saya melihat Felia makan siang bersama dengan Louis, dan saya tidak tau apa yang terjadi diantara mereka. Tapi saya melihat sikap Louis aneh, seperti meminta Felia kembali. Apa menurut kamu Felia akan kembali kepada Louis?"


"Saya takut Felia akan dimanfaatkan oleh Louis tapi saya tidak punya bukti, menurut kamu saya harus melakukan apa supaya Felia tidak goyah dengan keputusannya." sambung Edbert dengan meminta pendapat kepada Bob.


"Pak! Saya tau bapak khawatir dengan Felia, tapi menurut saya Felia tidak mungkin seperti itu. Apalagi Felia sudah tau perlakuan Louis kepadanya, bagi saya Felia akan mengambil keputusan yang tepat untuk dirinya sendiri. Jadi bapak tinggal menunggu keputusannya, kalau memang Felia akan memberi kesempatan untuk Louis kita terima saja, tapi kalau Felia memilih dengan keputusannya dia akan kembali." lontar Bob membuat Edbert mencerna perkataan Bob.


Dia tau Bob memberi jalan yang tepat untuk pikirannya, tapi ia juga khawatir kalau semua yang ditakutkan selama ini akan terjadi.


"Felia semoga apa yang saya takutkan tidak terjadi lagi, saya tidak mau melihat kamu terluka." batin Edbert.


Dia akui selama ini Louis sudah sangat berubah, mulai dari sikapnya sampai perlakuannya benar-benar berubah. Dia tidak tau apakah sikap Louis yang sekarang ini nyata atau cuman kepalsuan aja.


Dia sangat bingung dengan sifat Louis yang sekarang, hari ini ia sangat bahagia melihat Louis sudah kembali seperti dulu tapi dia juga takut kalau apa yang dia lihat sekarang adalah kepalsuan.


"Felia, kamu kenapa bengong aja. Aku dari tadi manggil kamu malah sibuk melamun." ujar Louis dengan duduk di samping Felia, lalu pria itu sibuk menggendong Alfred.


"Alfred sudah tidur?" tanya Felia yang melihat putranya tenang di gendong oleh Louis.

__ADS_1


Louis menatap Alfred, "Ya! Sepertinya dia sangat lelah terlalu banyak main denganku." Louis tersenyum lalu dia menatap Felia, "Mau pulang sekarang atau kita mampir dulu cari makan."


"Pulang aja. Aku takut ganggu kamu, lagian juga aku gak tega melihat Alfred seperti itu."


"Baiklah." Louis terus menggendong Alfred sedangkan tangan satunya menggandeng tangan Felia.


***


Louis membawa Felia kembali, tidak butuh waktu lama mobil Louis tiba di halaman rumah Edbert. Lelaki itu lebih dulu turun dari mobil dan berjalan untuk membuka pintu mobil.


Felia lagi-lagi tersenyum melihat sikap Louis sangat manis, lelaki itu membawa perlengkapan Alfred dan keduanya sudah berada di depan pintu.


"Kamu tidak mau masuk dulu." tawar Felia saat Alfred sudah ada digenggamnya.


"Tidak usah Felia saya langsung pulang aja. Kamu jaga diri baik-baik ya, besok aku akan jemput kamu lagi." kata Louis membuat Felia mengangguk, dia melambaikan tangan tidak lupa memberikan sebuah senyuman untuk Louis.


Saat mobil itu sudah pergi Felia masuk ke dalam, di sana dia melihat Edbert duduk di sofa dengan sibuk menggenggam tablet di tangannya.


"Ayah. Apa hari libu begini ayah masih mengurus pekerjaan?" tanya Felia yang sudah memberikan Alfred ke baby sister.


Felia menghela nafas saat ayah mertuanya lebih memilih sibuk melihat ke layar tablet dari pada menatapnya, lalu ia memutuskan untuk masuk ke dapur untuk mengambil minuman.


Felia melangkah dengan membawa dua minuman kaleng, ia memberikan minuman itu dan duduk di depan Edbert.


"Ayah, apa aku boleh bicara hal penting sama ayah." ucap Felia membuat Edbert menghentikan pekerjaan, tapi ia sama sekali tidak menatap Felia.


"Mau bicara apa? Apa pembicaraan kamu ini ada hubungannya dengan Louis? Atau memang kamu datang mencari saya cuman butuh bantuan dari saya."


"Maksud ayah?" Edbert menyelesaikan pekerjaan dan menyimpan tablet, sekarang tatapannya mulai tertuju pada Felia.


"Sudahlah Felia saya sudah muak dengan sikap kamu yang seperti ini, saya sudah bilang sama kamu jangan terlalu percaya dengan Louis tapi kamu malah dekat lagi dengannya."


"Apa menurut kamu aku ini patung dan bisa disembah begitu aja. Kalau memang kamu membutuhkan aku, aku akan siap berada di samping kamu. Tapi saya pikir kamu sudah tidak membutuhkan aku lagi, karena kamu sudah tau jawaban dari pertanyaan kamu itu." setelah mengatakan itu Edbert memilih pergi dari sana.


Dia sudah lelah dengan sikap Felia, dia akan memberi waktu untuk Felia sendiri tanpa bantuannya. Mungkin ini satu-satunya cara supaya Felia berpikir, karena percuma kalau dia turun tangan pasti Felia akan kembali dengan sikapnya yang dulu.

__ADS_1


Felia tidak tau harus melakukan apa lagi, semenjak kemarin ia sudah tidak berbicara dengan ayah mertuanya. Seakan-akan ayah mertuanya menjauhkannya, apa dia melakukan kesalahan sampai ayah mertuanya tidak mau bertemu dengannya lagi.


"Apa semalam ucapanku salah sampai membuat ayah marah seperti itu, mungkin aja ayah tidak suka aku kembali dengan Louis. Tapi aku bingung apa aku akan kembali dengan Louis atau tetap memilih keputusanku yang sekarang." batin Felia yang sibuk sarapan sendiri di meja makan.


Kepergian Edbert membuat Felia bingung apalagi sekarang Louis menunggu jawaban darinya, ia tidak tau apakah dia yakin dengan Louis atau memang pria itu sengaja melakukan ini supaya dia bisa melakukan hal yang sama seperti dulu.


"Felia kita sudah sampai di tempat kerja kamu." kata Louis saat melihat Felia melamun.


"Felia." panggil Louis saat ia merasakan Louis menyentuh punggung tangannya.


"Hah? Iya, kenapa Louis?"


"Kita sudah sampai. Kamu kayaknya sedang mikirin sesuatu, apa ada masalah sama kamu Felia?" tanya Louis saat dia mulai fokus dengan Felia.


"Tidak ada Louis. Kalau gitu aku duluan ya, makasih kamu sudah nganterin aku sampai kantor."


"Ya sama-sama." Felia membawa tas dan keluar dari mobil, selesai menatap punggung Felia Louis segera pergi.


Edbert selalu saja bersikap dingin dengan Felia, mulai dari Felia mengantar berkas sampai mengatur pertemuan dengan para kerja sama. Tapi pria itu sama sekali tidak melihatnya, seperti acuh kepadanya. Apa dia salah berbicara seperti itu sampai membuat ayah mertuanya marah.


Tok! Tok!


"Masuk." ucap Edbert dari dalam ruangan, Felia yang mendapat jawaban segera masuk.


Dia melihat Edbert sangat sibuk bekerja sampai enggan melihat wajahnya lagi, biasanya pria ini selalu memberikan sebuah senyuman atau hal-hal berkesan tapi sekarang bersikap dingin.


"Permisi pak saya mau mengantarkan dokumen untuk bapak."


"Letakan aja di meja saya."


"Baik pak. Saya sudah meletakan dokumennya kalau gitu saya permisi dulu."


"Ya!" itulah yang di dengar Felia, pria ini sudah berubah saat dia ada di hadapannya saja tidak meliriknya malah sibuk dengan pekerjaan.


Akhirnya Felia memutuskan untuk pergi dari ruangan Edbert, tetapi Felia tidak tau kalau kepergiannya membuat Edbert sangat merindukan wanita itu.

__ADS_1


"Maafkan saya Felia, saya sengaja melakukan ini sama kamu. Saya tidak mau melihat diri saya terluka, apalagi sampai kamu kembali dengan Louis. Mungkin aja aku tidak akan bertemu kamu lagi Felia." batin Edbert.


__ADS_2