
"Om. Om, kenapa senyum-senyum gitu? Apa ada yang membuat om bahagia sampai tersenyum seperti itu." ucap Felia membuat Edbert menatap kearah sumber suara.
Melihat Felia datang keruangan dengan membawa laporan kantor, Felia melangkah saat Edbert memintanya untuk ke tempatnya. Dia sebagai karyawan cuman bisa mengikuti perintah, dan ia memberikan laporan kantor saa Edbert sibuk menatapnya.
"Hari ini saya bahagia sekali, apalagi melihat kamu di sini membuat kebahagiaan saya berlipat ganda."
"Apa kamu tau yang membuat saya bahagia?" pertanyaan itu hanya dijawab dengan gelengan kepala.
Edbert meminta Felia mendekat, ia menyuruh Felia duduk di pangkuannya dengan tatapannya terus menatap Felia. Dia menyentuh rambut Felia dengan mencium tubuh Felia.
Wanita ini selalu membuatnya tidak bisa mengendalikan diri, belum ia menyentuh tubuhnya saja dirinya sudah tidak tahan untuk melakukan itu.
"Saya begitu bahagia karena kamu sudah menjadi kekasih saya, Felia. Saya tidak ingin kamu menganggap saya atasan anggap saja saya ini kekasih kamu." kata Edbert tanpa memalingkan wajah, Felia dengan beraninya meletakan kedua tangannya ke leher Edbert.
Melihat sikap Felia yang mulai menggodanya sangat ia sukai, karena sikap inilah yang akan membuatnya tergila-gila.
"Om. Apa om tidak takut nanti Louis tau hubungan kita?" tanya Felia masih bersikap manja, ia tersenyum saat Felia mulai terbiasa dengan dirinya.
"Apa yang kamu takutkan Felia. Kalau hubungan kita ketahuan Louis bukannya itu hal yang bagus, karena saya tidak usah bermain petak umpat dengan kamu."
"Bagi saya kamu itu hanyalah milik saya bukan milik siapapun. Jadi sampai kapanpun saya tidak rela kamu dimiliki orang walaupun itu putra saya sendiri." Edbert mengatakan isi hatinya dengan jujur saat Felia masih menatap Edbert.
Pria ini selalu saja membuatnya jatuh cinta, walaupun hubungan ini secara sembunyi dan dia melakukan hubungan terlarang tapi baginya dia sangat senang melakukan hubungan terlarang ini. Entah bagaimana kedepannya yang pasti ia tidak akan berpisah dengan pria ini.
"Om, kapan Louis pulang?" pertanyaan itu mampu membuat Edbert cemburu, lagi asiknya mereka berduaan malah Felia membahas Louis.
"Nggak tau." Felia yang melihat itu tertawa pelan pasalnya pria ini selalu cemburu saat dia membahas Louis.
Felia menggunakan tangannya untuk menyentuh wajah Edbert, sentuhan itu membuat Edbert menatap Felia dengan wajah cemberut. Felia terus menyentuh pipi Edbert dengan menatap wajah tampan pria ini.
"Jangan marah aku tanya tentang Louis hanya memastikan dia kembali. Aku gak mau nanti dia pulang mendadak di saat kita berdua lagi bermesraan."
__ADS_1
"Seminggu lagi." jawab Edbert dengan wajah lesu, Felia yang mengetahui kepulangan Louis begitu cepat membuatnya terdiam.
"Seminggu? Bukannya kata om Louis mengurus pekerjaan sekitar satu sampai tiga bulan. Kenapa cepat sekali dia pulangnya." kata Felia membuat Edbert memalingkan wajah.
Tanpa menyuruh Felia beranjak dari pangkuannya ia memilih memeluk tubuh Felia, "Saya sudah memastikan waktunya semaksimal mungkin supaya kita bisa berduaan lebih lama lagi. Tapi Louis meminta untuk di percepat kepulangannya, om tidak bisa melarang kepulangan Louis apalagi anak itu selalu merindukan kamu."
Felia mengusap kepala Edbert dengan pria ini bersandar di buah dada Felia, terasa hangat dan nyaman di tubuh kekasihnya. Felia tidak bisa menahan keputusan Louis, ia tidak mungkin meminta Louis lebih lama lagi di sana yang ada pria itu akan curiga dengannya.
"Nggak apa-apa om. Om masih bisa ketemu aku tanpa sepengetahuan Louis, jadi om tidak usah sedih gitu. Aku tidak akan meninggalkan kalian berdua." mendengar ucapan Felia Edbert memilih menatap Felia, ia membiarkan tatapan itu lebih lama sampai dia bisa mencium bibir kekasihnya.
***
Di ruangan kantor tanpa ada orang yang tau kegiatan mereka, keduanya masih sibuk bercumbu mesra dengan lenguhan yang sangat indah. Sensasi nikmat yang mereka buat membuat ruangan itu terasa panas, walau ruangan ini memakai AC tapi kegiatan mereka yang membuat ruangannya semakin panas.
Edbert terus menciumi tubuh Felia, mulai dari bibir itu mengenai bibir Felia sampai sentuhannya berpindah ke leher wanita ini. Felia terus menikmati sentuhan yang diberikan Edbert sampai dirinya tidak bisa menahannya.
Ia memilih membuka kancing kemeja yang dikenakan Felia, di sana dia melihat dua gundukan kenyal yang sangat ia sukai. Benda kenyal itu adalah tempat yang paling ia suka, apalagi kalau mulutnya bisa memainkan dua gundukan itu.
Felia merasa geli dan nikmat saat sentuhan itu mulai membuatnya bergairah, suara lenguhan kenikmatan yang menjadi saksi saat dia benar-benar nikmat akan sentuhan yang diberikan Edbert.
"Om... Ahhh" sentuhan ini sangat membuatnya gila, gila akan permainan liar yang dilakukan Edbert.
Pria ini benar-benar membuatnya tidak bisa menolak kegiatan panas ini, karena baginya Edbert selalu membuatnya puas akan sentuhannya. Edbert terus menyentuh tubuh Felia sampai dirinya benar-benar puas.
Ruangan ini menjadi saksi bisu kegiatan panas mereka sampai Edbert meminta seseorang untuk tidak mengganggunya, karena momen inilah yang bisa membuat cinta mereka semakin utuh. Felia memang tunangan putranya tapi tubuhnya sudah menjadi miliknya, dia tidak akan rela kalau tubuh Felia disentuh orang lain.
Kegiatan mereka terhenti saat mendengar suara telepon dari handphone Felia, ia masih menikmati sentuhan Edbert tetapi dia juga meminta pria ini untuk menghentikan kegiatannya.
"Angkat saja saya tidak akan menggangu pembicaraan kalian." Felia mencoba meraba tangannya untuk mengambil handphone di atas meja.
Posisi mereka sekarang Felia menghadap depan sedangkan Edbert berada di belakang punggung Felia, kegiatan mereka masih sama saat Edbert sibuk memainkan dua benda kenyal yang terus bergerak ke sana kemari. Felia mencoba menahan lenguhannya saat Edbert sibuk menyentuh tubuhnya.
__ADS_1
"Sayang, aku kangen banget sama kamu. Kenapa lama sekali kamu mengangkat telepon dariku." ucap Louis, tanpa dia tau bahwa Felia sibuk bercinta di kantor.
"Mpph. Maaf sayang tadi aku lagi rapat jadi tidak mendengar telepon dari kamu." bohong Felia, nyatanya dia sama sekali tidak lagi rapat melainkan menikmati sentuhan yang dilakukan Edbert.
"Sekarang kamu lagi apa? Aku kangen banget sama kamu, boleh gak kalau aku meminta kamu vidio call." Felia terdiam menyaring ucapan Louis, apa dia tidak salah dengar kalau Louis memintanya vidio call di saat dia lagi sibuk melakukan aktifitas panas ini.
"Honey, ada apa?" tanya Edbert pelan, saking pelannya suara Edbert mampu membuat telinganya panas.
Felia menjauhkan handphonenya supaya Louis tidak mendengar percakapan mereka, "Louis memintaku untuk melakukan vidio call. Aku takut dia tau kalau kita lagi melakukan aktifitas panas ini."
"Kamu tenang aja dia tidak akan tau. Sekarang kamu ikuti saja kemauannya dia tidak melihat kegiatan panas kita ini."
"Tapi..."
"Sudah jangan banyak tapi. Sekarang kamu lakukan vidio call nya dan aku akan melakukan kegiatan panas kita tanpa sepengetahuan Louis."
Felia mengikuti kemauan Edbert, sebelum ia memulai vidio call dengan Louis Edbert sudah membawa tubuhnya ke atas meja. Edbert menatap Felia yang sibuk bicara dengan Louis, sedangkan dia sibuk memainkan sesuatu di bawah sana.
Felia mencoba menahan suara lenguhannya di depan Louis, karena dia tidak tau apa yang dilakukan Edbert yang pasti pria ini sedang mencari sesuatu supaya dirinya puas. Melihat tingkah laku Felia yang cukup aneh Louis memilih berbicara.
"Kamu kenapa Felia? Kenapa wajah kamu berkeringat seperti itu? Apa ruang rapat AC nya mati sampai tubuh kamu kepanasan." kata Louis melihat keringat di kening Felia terlihat jelas, dia dengan cepat mencari sesuatu supaya Louis tidak mencurigainya.
"Tidak. AC di sini aman, mungkin saja aku kelelahan sampai berkeringat." Edbert menghentikan kegiatannya dengan memberikan senyuman, senyuman saat mendengar ucapan Felia kalau dirinya sangat pintar membohongi Louis.
"Baiklah. Aku tidak akan ganggu kamu lagi, kamu harus istirahat jangan terlalu capek. Aku gak mau kamu kelelahan."
"Aku gak apa-apa sayang. Kamu fokus kerja saja aku akan jaga diri baik-baik." akhirnya panggilan telepon itu berakhir membuat Edbert memilih bangkit dan berdiri menatap Felia.
"Kamu memang pintar membohongi Louis. Saya sangat suka acting kamu, kegiatan kita mau dilanjut atau dihentikan?" tanya Edbert membuat Felia berpikir.
"Dihentikan om. Aku masih banyak pekerjaan kalau kegiatan ini dilanjut yang ada semua karyawan di sini akan curiga."
__ADS_1
"Baiklah. Nanti kita lanjut di rumah." mereka berdua dengan cepat memakai kembali pakaiannya dan Felia menunggu Edbert menandatangani laporan kantor.