
Semenjak kepergian Edbert ia merasa kehilangan sesuatu dari hidupnya, seakan-akan hidupnya tidak berarti lagi kalau tidak ada ayah mertuanya.
"Sayang, kamu kenapa berdiri di luar? Nanti kamu sakit gimana, kasihan anak kita kalau tau ibunya sakit." ucap Louis dengan memeluk tubuh Felia dari belakang.
Felia hanya memberikan sebuah senyuman saat Louis terus memeluk tubuhnya, "Sayang, kamu kenapa?" tanya Louis saat ia sudah melepaskan pelukannya.
"Aku gak apa-apa. Aku suka aja menikmati angin malam di balkon." ucap Felia saat mereka saling berhadapan.
"Angin di sini semakin kuat sayang, kita masuk ke dalam aja yuk. Aku gak mau melihat kamu kedinginan di sini." kata Louis dengan mengajak Felia untuk ke kamar, akhirnya Felia memutuskan ke dalam saat tubuhnya sudah merasa menggigil.
Sedangkan di tempat lain Edbert terus menatap langit malam dengan menikmati angin yang terus menusuk ke tubuhnya, di sebuah mension yang jauh dari perkotaan yang hanya terdapat pohon-pohon tinggi. Mension yang ia miliki berada di tengah hutan, itupun jauh dari warga sekitar.
Setelah mengurus masalah kantor ia memutuskan untuk pergi ke mension memakai helikopter, dan tibalah ia berada di tempat yang mewah dan megah. Dia berada di tempat ini cuman bisa memandang pohon tinggi tanpa melihat apapun lagi selain pohon besar.
Saking sibuknya ia memandang kearah langit tiba-tiba saja ia mengingat Felia, "Baru saja aku berusaha menjauhinya tetapi kenapa aku tidak bisa menghindarinya. Berapa lama pun aku menjauh pasti selalu mengingatnya."
"Felia, maaf. Ayah tidak bisa bersama kamu, ayah tidak bisa menjaga kamu dan anak kita. Ayah sudah mempercayai Louis untuk kamu, ayah yakin kamu akan bahagia dengan Louis." batin Edbert masih setia berdiri di balkon.
"Sayang, kamu sudah bangun." kata Louis saat dia melihat Felia sudah berada di ruang makan.
Felia terus menatap Louis yang sangat sibuk menyiapkan kebutuhannya, mulai dari susu hamil dan kebutuhan lainnya. Dia sangat bahagia melihat perubahan suaminya, tapi hatinya terasa kurang walaupun Louis sudah kembali.
"Sayang!"
"Felia!" panggilan kedua kalinya barulah Felia tersadar dan langsung menatap Louis.
"Iya, kenapa?"
__ADS_1
"Harusnya aku yang tanya itu sama kamu Felia. Kamu ini kenapa bengong aku dari tadi bicara sama kamu, kamu lagi mikirin apa sampai gak fokus gitu." kata Louis yang menatap Felia.
Felia menggeleng, "Aku gak apa-apa, sayang. Hari ini kamu langsung ke kantor?" kali ini Felia yang berbicara lebih dulu dan menanyakan Louis.
"Iya, hari ini aku tidak bisa temani kamu. Nggak apa-apakan kamu tidur sendiri malam ini?"
Felia tersenyum saat mengetahui kalau Louis akan sibuk lagi, "Iya, nggak apa-apa."
Melihat Louis sudah pergi ia terasa kesepian di rumah sebesar ini, biasanya ia selalu di temani dengan ayah mertuanya walaupun ayah mertuanya selalu mengurus kantor. Tapi dia malah yang seperti tidak punya keluarga, kesepian tanpa harus melakukan apapun di rumah.
Merasa bosen berdiam diri di rumah Felia memutuskan untuk memberikan pesan untuk Edbert, saat pesan itu masuk Edbert sama sekali tidak membaca apalagi menjawabnya. Seakan-akan pesan itu tidak ada artinya lagi untuk ayah mertuanya.
"Kenapa pesanku tidak di lihat. Apa jam segini ayah sudah berada di kantor, atau jangan-jangan ayah sengaja tidak membalas pesan dariku." gumam Felia yang terus menatap kearah ponsel.
***
Edbert yang baru saja selesai berolahraga di tempat khusus olahraga, melihat kearah handphone yang terdapat banyak pesan dan panggilan dari Felia. Ingin sekali ia membalas pesan itu tapi ia harus tau kalau tujuan utamanya datang kemari untuk menjauhi menantunya.
Edbert meletakan kembali handphone tersebut dan dia memilih masuk ke dalam kamar mandi, di dalam kamar mandi ia menyalakan keran yang berada di bathtub tidak lupa dengan sabun cair. Sabun cair itu ia tuangkan ke dalam air yang sudah menutupi permukaan bathtub, barulah ia meletakan tangan masuk ke dalam bathtub untuk memberikan busa di setiap air.
Edbert meletakan handuk barulah ia bisa masuk ke dalam bathtub, berendam dan menikmati sensasi air terasa tubuhnya hangat walau cuaca di tempat ini sangatlah dingin.
"Ahh.. Enaknya berendam sehabis olahraga." lontar Edbert menikmati berendam di dalam bathtub.
Tidak butuh waktu lama bagi Edbert berendam akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari bathtub, dia segera menyelesaikan membersihkan tubuh sebelum ia memutuskan untuk kembali.
Dari kejauhan seorang wanita terus menatap kearah laki-laki yang ia akui sangatlah tampan, lelaki itu juga sangatlah berwibawa, dan ia sangat menyukai laki-laki tersebut. Tetapi sayangnya lelaki yang ia kagumi itu sudah memiliki istri dan dia tidak akan bisa mendapatkan lelaki itu.
__ADS_1
"Baik, meeting hari ini sampai di sini. Kalau kalian masih ada pertanyaan kalian bisa tanyakan ke Novan atau ke saya." ucap Louis sambil menatap semua karyawan yang berada di ruang meeting.
Karyawan tersebut akhirnya melangkah keluar, sedangkan satu wanita terus memperhatikan Louis beserta Novan.
"Maaf pak. Apa saya boleh menanyakan tentang masalah meeting barusan?" kata wanita yang ia ketahui bahwa wanita itu karyawan baru di kantornya.
Louis dengan Novan saling menatap karyawan baru tersebut, barulah Louis memutuskan untuk menyetujui keinginan wanita itu. Karyawan wanita itu terus mengikuti Louis sampai mereka tiba di depan pintu ruangan Louis.
"Kamu siapkan laporan meeting tadi nanti laporan itu berikan ke saya, saya tunggu laporan itu di ruangan saya." pinta Louis kepada sekretarisnya, barulah Louis menatap karyawan baru itu.
"... Dan kamu ikut saya ke dalam." perintah Louis membuat karyawan baru itu mengangguk.
Louis meminta wanita itu duduk di depannya yang dihalangi dengan meja kerja, "Katakan dimana yang membuat kamu tidak mengerti masalah meeting barusan."
Wanita itu masih belum sadar dengan perkataan Louis, ia malah terfokus dengan wajah tampan bosnya ini.
"Hei, Laura." ucap Louis dengan melambaikan tangan tepat di wajah Laura, "Kamu ini kenapa bengong aja, saya tanya sama kamu bagian mana yang tidak kamu mengerti."
"Hah? Maaf pak, bagian ini." Louis terus menjelaskan semua materi meeting barusan, tetapi Laura hanya memandang wajah tampan bosnya ini.
"Gimana Laura apa kamu sudah paham penjelasan saya?" tanya Louis saat ia sudah menyelesaikan materi meeting barusan.
"I-iya pak. Saya sudah mengerti pak, terima kasih banyak bapak sudah menjelaskan materi meeting hari ini." kata Laura membuat dirinya sangat gugup.
"Iya sama-sama, silakan kamu lanjutkan pekerjaan kamu lagi. Nanti kalau ada yang tidak mengerti kamu bisa tanyakan langsung ke senior kamu atau ke Novan."
"Baik, pak." Laura keluar dari ruangan tersebut, tetapi ia sangat penasaran tentang keluarga bosnya itu.
__ADS_1
"Felia di rumah lagi apa ya! Apa aku telepon aja." ucap Louis dengan mengambil handphone yang berada di saku celana.
Selama mereka bicara di telepon Louis sangat merindukan Felia, dia sampai ingin cepat-cepat pulang karena ingin bertemu dengan Felia dan anaknya, selesai bicara dengan Felia melalui telepon akhirnya ia kembali bekerja.