
Baru saja menikah dengan Felia ia sudah diperlihatkan dengan berbagai berkas, semua berkas yang dikirim oleh Bob membuat dirinya pusing melihat tumpukan berkas itu. Tanpa pikir panjang Edbert mulai mengerjakan semua berkas sampai waktu yang awalnya untuk Felia malah untuk pekerjaan.
"Begini amat nasib seorang CEO." gumam Edbert yang sudah mengambil satu berkas paling atas.
Edbert yang sudah menyelesaikan semua berkas melihat kearah jam tangan, ternyata jam itu menunjukan pukul sepuluh malam yang berarti Felia sudah tertidur. Edbert memutuskan untuk merapikan semua berkas dan menyimpan berkas itu ke lemari khusus.
Selesai merapikan meja ia mengambil jaket dan kunci mobil, ia melangkah keluar menuju basement. Edbert yang sibuk melangkah ke basement tidak sengaja melihat seorang perempuan yang berada di depan mobilnya.
Wanita itu bersandar di mobil dengan posisi seperti orang mabuk, saat ia ingin menyingkirkan wanita itu dia melihat wajah dari wanita tersebut. Ternyata wanita itu adalah teman kuliahnya dulu.
"Theia, sadarlah! Kamu kenapa mabuk kaya gini. Kemana pacar kamu?" ucap Edbert yang terus menyadari Theia tetapi wanita itu tidak sadar-sadar.
Malah semakin tidak karuan dengan sikap, Edbert menyuruh Theia menyingkir lalu dia mengambil handphone di saku celana. Jari tangannya terus mencari nomor seseorang, saat mendapatkan nomor tersebut ia segera menelpon.
"Ada apa bos? Jam segini kenapa kau menelpon ku?" kata lelaki itu yang baru saja terbangun akibat bunyi telepon dari Edbert.
"Cepat datang ke kantor saya butuh bantuan kamu."
"CK! Kenapa harus sekarang bos, ini sudah jam berapa buat apa kau memintaku datang ke sana."
"Cepat ke kantor saya atau kamu mau gaji kamu saya potong." mendengar ancaman itu Bob segera melotot dan segera bangun, ia langsung menuju kantor.
Edbert terus menyingkirkan Theia saat wanita ini terus mendekat apalagi dia melihat kalau wanita ini hampir saja menciumnya, tanpa memiliki perasaan terhadap Theia ia malah mendorong tubuh Theia sedikit menjauh. Akibatnya wanita itu jatuh ke aspal dengan posisi nungging ke belakang.
Bukannya Edbert membenarkan posisi itu ia malah membiarkan Theia seperti itu, tidak butuh waktu lama mobil yang dikendarai Bob tiba di basement. Melihat pemilik mobil itu turun Edbert segera menatap saat Bob menatap seorang wanita sedang nungguin di aspal.
"Bos! Siapa wanita ini? Kenapa dia seperti itu." ucap Bob yang melihat penampilan wanita itu sangat berantakan apalagi posisinya yang sangat memalukan.
"Antar wanita itu ke rumahnya saya tidak mau membawanya."
"Terus saya harus mengantar dia kemana?" tanya Bob yang menatap Edbert, lelaki itu mengeluarkan sebuah kertas yang tertulis nama Theia.
Mendapatkan kertas yang tertulis alamat Bob segera melaksanakan tugas, tanpa membantu Bob ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area basement. Melihat itu Bob merasa kesal dan pasrah melihat sikap bosnya.
__ADS_1
"Kenapa pria itu selalu saja menyusahkan ku. Apa dia tidak bisa sehari saja tidak menggangguku." oceh Bob lalu dia segera menggotong wanita ini masuk ke dalam mobil.
Selama di perjalanan Bob terus memperhatikan wanita ini, dia takut kalau wanita ini sampai muntah di dalam mobil. Bob menancap gas mobil dengan cepat secepat kilat, sampai mobil itu tiba di alamat wanita ini. Tiba di sana Bob segera keluar dari mobil dan membantu wanita ini keluar.
Benar saja dugaannya kalau wanita ini sudah mulai muntah, Bob menjatuhkan wanita itu saat wanita itu sudah mengeluarkan cairan. Untung saja wanita ini tidak muntah di dalam mobil, kalau sampai muntah mungkin dia tidak akan memakai mobilnya lagi.
"Mba tidak apa-apa?" tanya Bob yang berusaha mendekati wanita itu, Bob segera menjauh saat wanita ini hampir mendekatinya.
"Kepala saya pusing banget. Apa kamu yang mengantarkan saya pulang? Kenapa bukan Edbert yang mengantarkan saya pulang, harusnya dia bukan kamu." wanita ini terus saja meracau tidak jelas sampai telinganya sendiri merasa kesakitan.
"Ya sudah mba kalau gitu saya antar sampai sini aja ya! Saya langsung pulang." ucap Bob, tapi saat Bob mau pergi wanita ini menahannya.
Bob segera menyingkirkan tangan wanita asing ini lalu dia masuk ke dalam mobil.
***
Melihat kepergian lelaki asing itu, Theia segera sadar. Sebenarnya dia tidak sepenuhnya mabuk, ia sengaja melakukan itu untuk bertemu dengan Edbert tapi pria itu malah memperlakukan dirinya seperti binatang.
Theia memutuskan untuk masuk ke dalam, ia akan mencari cara untuk mendapatkan Edbert kembali. Sebenarnya dia sudah tau berita tentang pernikahan Edbert, tapi dia sengaja tidak datang ke acara pernikahan Edbert.
Karena dia ingin membuat rumah tangga mereka hancur, ia tidak terima kalau wanita itu berhasil mendapatkan Edbert. Apapun caranya dia akan membuat Edbert kembali kepadanya.
Edbert merasa rumah sudah sepi, ia sudah mengira kalau istrinya sudah tertidur. Lalu dia melangkah ke lantai atas dimana kamarnya berada. Dia melihat Felia sudah masuk ke alam mimpi dengan tubuh ditutupi dengan selimut.
"Maafkan aku Felia, saya sudah membuat kamu menunggu. Saya pastikan kamu tetap berada di samping saya tanpa ada wanita lain di hidup kita." batin Edbert terus memperhatikan wajah Felia dengan memainkan rambut Felia.
Paginya Edbert lebih dulu bangun saat dia melihat Felia masih memejamkan mata, ia terus saja tersenyum dan terus memeluk Felia sampai tangannya dia gunakan untuk menyentuh wajah Felia.
"Saya sangat mencintai kamu Felia, jangan pernah ninggalin saya lagi ya! Saya takut kalau kamu akan ninggalin saya seperti dulu." Edbert terus saja sibuk bicara di dalam hati dengan mata terus memperhatikan wajah Felia.
Wajah yang terus ia tatap sampai mata Felia terbuka, Felia tersenyum saat melihat Edbert terus memperhatikannya.
"Kamu sudah pulang? Dari kapan kamu pulang, kenapa aku tidak mendengar kamu pulang." ucap Felia yang masih sibuk menatap Edbert.
__ADS_1
"Jam sebelas malam. Saya sampai di rumah kamu sudah tidur makanya saya tidak membangunkan kamu, saya gak mau mengganggu waktu istirahat kamu." urai Edbert yang terus memainkan wajah Felia.
"Kamu mau sarapan apa biar saya yang akan membuat sarapan untuk kamu." ujar Edbert saat ia sudah bangun, ia melihat Felia bersandar di punggung ranjang.
"Apa aja. Semua masakan yang dibuat kamu aku pasti menyukainya." Edbert tersenyum mendengar gombalan Felia, ia segera menarik hidung Felia membuat pemilik hidung itu meringis kesakitan.
"Maaf sayang habisnya kamu gemesin banget." ucap Edbert membuat Felia meninju lengan Edbert membuat suaminya tertawa.
Felia yang sudah siap-siap ingin ke kantor melihat suaminya sibuk menyiapkan sarapan, pria ini sangat lihai membuat makanan. Felia duduk di kursi memperhatikan Edbert yang menyiapkan sarapan, lalu dia mendengar suara Alfred.
"Morning Dad, Bun." sapa Alfred membuat Felia tersenyum melihat kedatangan putranya.
"Morning sayang. Kamu sudah siap-siap aja ke sekolah, semua keperluan sekolah sudah kamu siapkan?" tanya Felia melihat Alfred, lalu Edbert segera duduk di samping Felia saat ia sudah selesai memasak.
"Sudah Bun. Semua keperluan sekolahku sudah lengkap semua." tatapan Alfred tertuju pada Edbert saat ia sudah menatap Felia, "Dady hari ini mau antar aku ke sekolah kan?"
"Ya dong sayang, dady sudah janji sama kamu mau antar kamu ke sekolah. Kalau dady sibuk baru dady minta supir untuk antar kamu ke sekolah." kata Edbert membuat Alfred mengangguk, lalu dua lelaki itu berpamitan kepada Felia.
Selama di perjalanan dua lelaki itu tetap diam membisu tidak ada percakapan apapun, saat kesunyian itu mulai asing Edbert memulai pembicaraan.
"Sayang, kamu harus rajin-rajin belajar jangan nakal di sekolah ya! Kalau kamu butuh sesuatu katakan aja sama dady." tanya Edbert yang melihat putranya sibuk mengeluarkan buku.
"Ya dady." kata Alfred membuat Edbert tersenyum.
Putranya ini tidak pernah menuntutnya tapi malah dia dibuat bangga dengan sikap Alfred, sudah tampan, pendiam dan berprestasi. Membuatnya sangat menyayangi putranya ini.
"Selama dady bersama kamu apa kamu tidak mau meminta sesuatu dari dady?" ucap Edbert kembali setelah beberapa menit mereka terdiam.
Alfred berpikir sejenak saat ia menyingkirkan buku lalu dia kembali menatap Edbert, "Aku mau adik dad. Aku merasa kesepian tidak ada teman."
"Baiklah, dady akan mengabulkan keinginan kamu." jawab Edbert membuatnya senang, karena inilah yang dia inginkan.
Saat dia meminta Felia untuk melakukan itu Felia selalu menolak, karena Felia tidak mau Alfred merasakan kekurangan kasih sayang. Jadi Felia memutuskan untuk tidak melakukan itu sampai Alfred sekolah, hari ini waktunya tiba karena putranya yang memintanya sendiri.
__ADS_1