
"Om." gumam Felia, baru saja Felia membuka pintu ia melihat pemandangan seorang lelaki berdiri di depan pintu.
Lelaki itu masuk tanpa meminta izin dari pemilik rumah, Felia kembali menutup pintu. Ia melangkah kearah dapur untuk mengambil minuman, tidak butuh waktu lama minuman itu selesai dibuat.
"Om, kenapa ada di sini. Bukannya om lagi sibuk mengurus kantor." kata Felia meletakan dua minuman, Felia memilih duduk di sofa satunya membuat Edbert tidak menyukai posisi duduk Felia.
Felia menatap tangan Edbert meminta dirinya duduk di sampingnya, Felia memutuskan untuk mengikuti keinginan Edbert. Tanpa ia duga Edbert memilih tidur dipangkuan Felia dengan tangan mengarahkan ke atas kepala Edbert.
"Om, kenapa? Kalau om sakit aku akan telepon dokter untuk memeriksa kesehatan om." ucapnya masih memainkan rambut Edbert, Felia memandang wajah Edbert begitupun dengan Edbert.
Tanpa menjawab perkataan Felia Edbert mendorong kepala Felia untuk mencium bibir wanita ini, ciuman itu berhasil dia dapatkan sebelumnya ia belum mendapatkan bagian. Edbert semakin memperdalam ciuman itu sampai Felia menikmati permainan yang dilakukan Edbert.
Edbert menghentikan ciumannya dengan jari telunjuk mengarahkan ke bibir Felia, jari itu menghapus jejak ciumannya.
"Om belum jawab pertanyaan aku. Kenapa om datang ke rumah ini udah malam om, om 'kan bisa pulang ke rumah bukan ke rumahku." ucap Felia membuat Edbert membuang muka, sekian detik wajah itu ia palingkan barulah Edbert kembali menatap Felia.
"Saya merindukan kamu. Apa saya salah kangen sama kamu?" ucapan Edbert mampu membuat Felia diam tanpa bicara apapun, ia tidak mengerti kenapa Edbert terus mengatakan hal itu.
"Nggak salah om. Itu hal yang wajar karena om kangen sama aku cuman sebatas calon menantu, begitupun dengan aku. Aku menganggap sikap om seperti seorang ayah kepada anaknya, apalagi aku sudah menjadi milik Louis dan sebentar lagi aku akan menjadi menantu om."
Edbert tidak terima dengan perkataan Felia, ia memilih bangun dari pangkuan Felia dengan menatap wanita ini. "Saya tidak menganggap kamu seperti calon menantu atau anak saya Felia. Tapi saya menganggap kamu seperti kekasih saya."
"Om sadarkan dengan ucapan om sendiri." ujar Felia membuat lelaki itu menatapnya dengan serius.
Edbert mengambil kedua tangan Felia dengan tatapan masih mengarahkan ke wanita ini, "Saya sadar dengan ucapan saya sendiri, tapi saya tidak bisa membohongi perasaan saya ke kamu. Anggap saja saya sudah gila karena mencintai pacar anak saya sendiri, tapi saya tau perasaan ini seharusnya tidak terjadi Felia."
"Saya mencintai kamu begitupun dengan kamu mencintai Louis. Saya tau perbuatan saya ke kamu itu salah, tapi perasaan saya tidak bisa dibohongi Felia. Saya tidak suka kamu berhubungan dengan laki-laki lain, maupun putra saya sendiri. Karena saya ingin kamu menjadi milik saya seutuhnya."
Entahlah dia saja bingung mau berkata apa, ini semua diluar dugaannya. Ia mengaggap Edbert seperti ayah sendiri tapi lelaki ini malah menganggapnya lebih.
__ADS_1
Felia melepaskan tangannya dari tangan Edbert, "Maaf om saya tidak bisa membalas perasaan om. Seharusnya perasaan itu tidak terjadi om, apa yang kita lakukan dulu seharusnya dilupakan bukan menjadi seperti ini."
"Sekarang aku dengan Louis sudah bertunangan, dan sebentar lagi hubungan aku dengan Louis akan sampai kejenjang pernikahan. Aku gak mau Louis mengetahui perbuatan kita, aku gak ingin mengecewakan Louis om." ucapnya kembali dengan menatap Edbert, lelaki itu memilih membuang muka dari pada menatapnya.
"Om." panggil Felia saat lelaki itu tidak ingin menatapnya, melihat itu Felia tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena ia tidak tau harus melakukan apa.
***
• Kejadian di acara pertunangan
Melihat adegan bermesraan Louis dengan Felia, ia memilih pergi dari acara pertunangan ini. Edbert keluar mencari tempat yang tidak dikunjungi orang, ia sekarang berada di balkon dengan pandangan mengarahkan ke langit malam.
Menikmati angin malam membuat dirinya merasa kurang, ia mengeluarkan sebungkus rokok dari kantung jas. Ia mengambil satu batang rokok dengan korek yang selalu ia bawa, saat api korek menyala mengenai ujung rokok seseorang mengambil rokok tersebut.
Merasa kesal dengan orang tersebut ia langsung melihat siapa yang menggangunya, ia melihat Bob datang ke balkon dengan mencuri rokok yang sempat ia bakar.
"Kamu ngapain ngikutin saya sampai sini. Bukannya saya menyuruh kamu menjaga acara pertunangan putra saya." kata Edbert memilih mengambil satu batang rokok, ia menyalakan korek untuk menyalakan rokok begitupun dengan Bob.
"Apa saya boleh menanyakan sesuatu sama bos?" mendapatkan anggukan dari Edbert ia memilih menghisap rokok sebelum ia bicara.
"Apa bos mencintai Felia?" mendapatkan pertanyaan itu membuat Edbert menatap Bob, ia melihat lelaki itu sibuk menghisap rokok dengan pemandangan kearah langit malam.
"Tidak. Saya tidak mencintai pacar putra saya." sejujurnya ia ingin mengatakan 'ya' tapi nyatanya kebohongan itu terus saja ia ucapkan.
"Bos jangan membohongi perasaan bos sendiri, saya tau bos mencintai Felia. Semenjak Louis memperkenalkan Felia dengan bos, saya sudah menebak kalau bos memiliki perasaan terhadap Felia." ucap Bob membuat Edbert menghela nafas panjang.
Edbert menghabiskan sisa rokok dan membuang batang rokok yang sudah habis, "Apa menurut kamu perasaan saya ini salah?" Edbert memilih memandang Bob karena ia menginginkan jawaban dari orang kepercayaannya.
"Perasaan tidak ada yang salah bos. Perasaan itu secara tidak sengaja pasti akan datang lalu pergi, makanya saya melihat itu dari diri bos. Karena saya tau bos sudah lama tidak mencintai wanita lagi semenjak istri bos meninggal, makanya saat Louis memperkenalkan Felia bos langsung jatuh hati kepada wanita itu." tutur Bob langsung menyimpulkan bahwa ucapannya benar.
__ADS_1
Felia membiarkan Edbert menginap di rumahnya, ia menyiapkan satu kamar tamu yang berada di lantai bawah tapi nyatanya pria itu memilih tidur dengannya.
Dan sekarang posisi tidur mereka saling memeluk, tepatnya Edbert yang memeluk tubuh Felia. Ia terus memainkan rambut Edbert dengan lelaki ini memeluknya, memeluk dengan sangat erat sampai dirinya tidak bisa bergerak sama sekali.
Felia membenarkan posisinya tetapi Edbert yang merasa ada pergerakan dari Felia ia dengan cepat memeluknya kembali, Felia hanya bisa pasrah dengan sikap Edbert ia menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya dan tubuh Edbert barulah Felia bisa tertidur dengan membalas pelukan Edbert.
Pagi harinya Felia membuka mata mencoba menyamakan cahaya matahari, pandangan yang dia lihat adalah orang yang tidur bersamanya. Saat ia mencoba bangun barulah ia bisa melihat seorang lelaki duduk di kursi dengan memberikan senyuman.
"Om. Kenapa om tidak membangunkan aku, sekarang sudah jam berapa?" Edbert memberikan segelas air putih untuk Felia, Felia mengambil segelas air putih dari tangan Edbert.
"Sekarang baru jam enam." Edbert menerima gelas dari tangan Felia, ia menyimpan gelas itu kembali menatap Felia.
"Kamu mau kemana?" tanya Edbert melihat kaki Felia turun dari ranjang.
"Aku mau siap-siap bekerja."
"Om sudah meminta Louis untuk meliburkan kamu, sekarang kamu tidak usah bekerja dulu. Om gak mau kamu sakit hanya gara-gara terlalu fokus bekerja."
"Kamu mau kemana lagi, Felia?" ia dengan cepat beranjak dari kursi saat melihat Felia sudah tidak di atas tempat tidur.
"Aku mau mandi om."
"Mau om mandikan." urai Edbert yang tiba-tiba menggodanya, ia mengambil bantal di atas ranjang buat melempar bantal itu ke wajah pria ini.
Sebelum bantal itu mendarat di wajah Edbert, ia sudah mengambil bantal dari tangan Felia. "Kenapa kamu marah om hanya tanya saja, wajar dong om menanyakan hal itu. Apa jangan-jangan pikiran kamu saja yang mengarahkan ke situ."
"Stop, om. Aku tidak mau bercanda. Sekarang om keluar dari kamar aku dari pada aku lempar benda yang lebih keras dari bantal." ucap Felia dengan memberikan ancaman kepada Edbert.
Akhirnya Edbert menyerah, ia memilih pergi dari kamar Felia membuat Felia dengan cepat menutup pintu kamar.
__ADS_1
"Dasar om mesum." gumam Felia berdiri di belakang pintu.