Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Santapan Kenikmatan


__ADS_3

Entah sudah berapa lama dia bermain dengan Mayra, tetapi wanita itu sungguh membuatnya puas. Dia merasa Mayra sangat cocok dengan apa yang dia inginkan, apalagi gaya saat bercinta dengannya sungguh nikmat.


Tiba di rumah Louis masuk ke rumah tersebut, ia menyimpan mobil itu barulah keluar. Louis masuk ke dalam dengan menatap sekeliling rumah, tanpa memikirkan hal yang aneh Louis lebih memilih naik ke lantai dua.


Langkahnya terhenti saat melihat Edbert keluar dari kamar, tidak ada sapaan ataupun ucapan dari keduanya. Mereka sama-sama diam saat Louis memilih masuk ke dalam kamar, bibir itu mengangkat sedikit berbentuk lekukan senyuman saat melihat Felia berada di ranjang.


Ia terbangun saat merasakan tubuhnya di sentuh seseorang, ia mencoba membalik badan untuk melihat siapa yang memeluknya. Dia melihat Louis memeluknya dengan mata masih terpejam, pria tampan yang sudah menjadi suaminya ini selalu membuat dirinya nyaman.


Felia mencoba menyentuh wajah Louis menggunakan tangan, semua yang berada di wajah Louis sangat ia sukai apalagi bibir tebal berwarna coklat. Felia mencoba mendekati tubuhnya untuk mencium bibir suaminya, saat sentuhan bibir itu ingin dia lepas tiba-tiba saja Louis membalas ciumannya dengan memeluk pinggang rampingnya.


Louis masih menikmati bibir Felia sampai dirinya tidak bisa menghentikan kegiatan ini, baru saja dia ingin merasakan tubuh istrinya tiba-tiba saja suara handphone berbunyi. Awalnya suara itu diabaikan begitu saja sampai telinganya sudah terganggu.


"Aku angkat telepon dulu." Felia bangun saat melihat Louis menjauh, dia terus memperhatikan Louis sampai telepon itu berakhir.


"Ada apa? Apa ada masalah di kantor?" tanya Felia menatap suaminya.


Louis memilih duduk di samping Felia dengan menatap wajah cantik Felia, "Saya harus ke kantor, kantor membutuhkan aku. Kamu gak apa-apa aku tinggal di rumah?"


Helaan nafa yang keluar terlihat kasar saat Felia tidak menyukai sikap Louis, ia kembali menatap Louis.


"Sekarang hari libur. Apa urusan kantor tidak bisa digantikan oleh orang lain?"


"Nggak bisa sayang. Aku gak bisa membiarkan kantor di pegang orang lain, aku harus ke sana sekarang."


"Tapi kamu bisa minta tolong Novan untuk mengurus kantor bukan kamu yang harus ke sana."


Louis menyentuh wajah Felia dengan tangannya, ia tatap wajah itu sampai Felia menikmati sentuhan suaminya. "Maaf sayang aku gak bisa. Aku harus pergi ke kantor sekarang, kamu baik-baik di sini tunggu aku pulang baru kita bisa bersama lagi."

__ADS_1


Akhirnya Felia mengizinkan Louis pergi walau hatinya tidak rela, Felia memilih beranjak dari kasur menuju dapur. Melihat dapur kosong ia bergegas membuat sarapan, sarapan untuk tiga orang yang tinggal di sini. Saking asiknya masak ia merasakan seseorang memeluknya, Felia tersenyum saat Louis memeluknya dan mencium lehernya.


"Sayang, sudah jangan cium lagi. Aku lagi masak yang ada nanti aku gak fokus masak untuk kamu." ucapnya yang belum menyadari seseorang yang memeluknya.


Tanpa ada jawaban dari orang ini Felia memilih melanjutkan kegiatan memasak, tetapi dia merasa bukan Louis yang menyentuhnya melainkan orang lain. Sentuhan ini bukan dari Louis melainkan dari Edbert, dan benar saja lelaki itu sudah meraba tubuhnya dengan mencium pundaknya.


Ciuman itu semakin dalam saat Felia memutuskan mengakhiri kegiatan memasaknya, dia lebih fokus dengan kegiatan yang diberikan Edbert sampai dirinya benar-benar terbuai.


"Ahhh... Om..." lenguhan itu keluar begitu saja saat dirinya mencoba menahannya, sentuhan ini begitu nikmat sampai dirinya tidak bisa fokus dengan pekerjaan awal.


"Felia, kamu pikir saya Louis. Saya Edbert kekasih kamu, hanya saya yang bisa memuaskan kamu bukan suami kamu." kata Edbert disela-sela kegiatan mereka.


"Om... Ahhh... Aku mohon om hentikan." kata Felia mencoba untuk menahan suaranya, karena kalau dia teriak yang ada satu rumah tau kegiatan ini apalagi Louis.


"Kenapa harus dihentikan? Bukannya kamu sangat menikmatinya, Felia."


"Saya sudah katakan dari awal, saya tidak suka kamu memikirkan pria lain di saat bersamaku. Dan kamu malah mengira kalau sentuhan saya ini dari Louis, saya akan memberikan kenikmatan yang sesungguhnya supaya kamu mengingatnya kalau sentuhan ini bukan sentuhan Louis melainkan saya." kata Edbert masih menikmati sentuhan tubuh Felia.


Keduanya sama-sama menikmati sarapan, kegiatan barusan terhenti saat Felia memohon kepada Edbert. Kegiatan barusan hampir saja diketahui oleh Louis, untung dia segera mengakhiri kegiatan barusan kalau tidak mungkin dia sudah ketahuan basah bercumbu dengan ayah mertuanya sendiri.


Louis masih menikmati sarapan yang dibuat Felia dengan tatapannya terus mengarahkan Felia, "Sayang, kamu sakit? Kenapa wajah kamu berkeringat terus."


Felia memberanikan diri menatap Louis, ia mencoba menahan lenguhannya di hadapan Louis.


"Aku gak apa-apa, sayang."


"Kamu yakin? Apa aku bawa kamu ke dokter aja." ucap Louis kembali dengan memberikan rasa khawatir melihat tubuh Felia terus mengeluarkan keringat.

__ADS_1


"T-tidak usah, kamu lanjut makan aja." Louis tidak sadar kalau apa yang dia lihat bukannya keringat akibat sakit melainkan keringat menahan kenikmatan yang diberikan Edbert.


Louis kembali melanjutkan sarapan dengan mata mencari seseorang, Louis langsung menatap Felia.


"Kamu tidak melihat ayah? Kenapa ayah tidak ikut sarapan bersama apa dia sudah ke kantor." ucap Louis menatap Felia, Felia terdiam sejenak dengan menahan suara yang hampir ia keluarkan.


"Aku tidak tau mungkin ayah sudah ke kantor." ucapan yang dilontarkan Felia dijawab anggukan oleh Louis.


Gimana bisa Louis mempercayai ucapannya sedangkan orang yang dia cari ada di bawah meja, Edbert yang mendengar suara langkah kaki dan suara dari Louis ia dengan cepat bersembunyi di bawah meja makan. Bukannya Edbert mengikuti kegiatan sarapan bersama malah dia masih menikmati kegiatannya.


Louis menyudahi sarapannya ia melangkah dimana Felia berada, "Sayang, aku ke kantor dulu. Kamu jaga rumah, maaf aku gak bisa temani kamu di rumah."


"Iya, gak apa-apa." Louis tersenyum dengan memberikan ciuman di kening Felia, barulah dia pergi menuju kantor.


Melihat kepergian Louis akhirnya Felia bisa mengeluarkan suara indahnya, begitupun dengan Edbert berhasil membuat Felia menikmati kegiatannya. Edbert mencoba menatap Felia dari bawah tanpa bangun dari tempat.


"Apa Louis sudah pergi?" tanya Edbert masih bersembunyi di bawah meja.


"Kalau Louis masih di sini dia akan tau kegiatan barusan." cetus Felia membuat Edbert tersenyum, akhirnya Edbert bisa keluar dari persembunyiannya dengan duduk di sebelah Felia.


"Hehe. Aku kira kamu akan menikmatinya di depan Louis, supaya dia tau kalau akulah yang bisa memuaskan mu." lontar Edbert, lelaki itu malah melanjutkan sarapannya kembali.


"Aku sudah bilang kalau ada Louis jangan melakukan itu, apa om mau kegiatan barusan ketahuan oleh Louis." bukannya pria ini mikir malah tertawa, apa yang dia lakukan hampir membunuhnya secara hidup-hidup.


Bagaimana bisa pria ini bersikap santai dan melanjutkan kegiatan barusan di depan Louis, dia saja yang berusaha menahannya hampir mati gimana bisa Edbert bersikap seperti itu tanpa memikirkan dirinya yang hampir saja ketahuan.


"Maaf sayang, aku gak bisa menahannya. Tubuhmu itu sudah candu untukku jadi tidak bisa di tahan, semakin di tahan tubuhku ini tidak bisa terkontrol."

__ADS_1


Ya begitulah jawaban Edbert, sama aja dia hampir membunuhnya di depan Louis. "Untuk hari ini aku memaafkan kamu tapi untuk lain kali aku tidak akan memaafkan kamu."


"Iya, sayang." ucap Edbert dengan memberikan kecupan di punggung tangan Felia.


__ADS_2