
Setiap sudut rumah Laura sudah terpasang banyak CCTV, tapi CCTV itu tanpa diketahui oleh Laura karena Edbert meminta Novan memasang CCTV dengan ukuran yang tidak dilihat pemilik rumah.
CCTV itu berputar sedikit sudut saat jari tangan Edbert mulai menghidupkan CCTV itu, Felia semakin penasaran kenapa Edbert selalu bertindak seperti ini tanpa beritahunya lebih dulu. Dia tau apa yang dilakukan Edbert benar, karena ayah mertuanya ini selalu membantunya setiap dia ada masalah.
"Ayah makasih." gumam Felia pelan, gumaman itu mampu membuat telinga Edbert dapat mendengarnya.
"Apa yang kamu katakan barusan?" tanya Edbert yang pura-pura tidak mendengar perkataan Felia barusan.
"Aku... Aku tau ayah mendengarnya, jadi aku tidak perlu mengatakannya lagi." ucap Felia yang tidak berani menatap Felia, Felia tidak sadar kalau Edbert mulai mendekati wajahnya.
"Ucapan terima kasih tidak cukup bagiku Felia. Setelah masalah kalian selesai saya akan meminta hadiah dari kamu." bisik Edbert dengan pelan membuat Felia melirik ayah mertuanya.
"Hadiah? Memangnya ayah ingin apa nanti aku akan belikan untuk ayah sebagai ucapan terima kasih aku."
"Tidak sekarang Felia, nanti juga kamu tau apa yang akan aku minta dari kamu." Edbert kembali fokus dengan layar laptop, tidak dengan Felia yang masih setia menatap wajah Edbert.
Dia baru sadar kalau ayah mertuanya semakin hari semakin tampan, dan pesona lelaki ini membuat dirinya tidak bisa lepas dari Edbert. Walau lelaki ini terbilang cukup dewasa, tapi baginya Edbert tetap seperti lelaki dewasa yang masih berumur dua puluhan. Tidak terlihat jelas dengan umur sekarang yang sudah memasuki umur tiga puluh tahun lebih.
"Sudah jangan dipandang terus, saya tau saya tampan aku sudah merasakan bagaimana gagahnya saya saat bersama denganmu." kata Edbert membuat Felia sadar atas tatapannya itu, dia kembali menatap kearah layar laptop.
CCTV itu sudah berjalan saat mereka menemukan mobil Louis tiba di halaman rumah Laura, lelaki itu turun dari mobil saat pemilik rumah keluar dan mengetahui siapa yang datang.
Dugaannya benar kalau Louis dengan Laura memiliki hubungan spesial, sangat jelas karena dia melihat Louis mencium bibir Laura tanpa memikirkan perasaannya. Dua orang itu masuk ke dalam setelah melepaskan ciumannya, mereka terus memantau dari layar laptop bagaimana keadaan di dalam rumah itu.
"Sayang, mau aku buatkan apa untuk malam ini?" tanya Laura membuat Louis segera memeluk tubuh Laura dari arah belakang.
"Aku ingin memakan mu saja. Aku rasa aku hanya membutuhkan tubuhmu tanpa membutuhkan yang lain." tutur Louis dengan lembut dan seksi, bisikan yang diucapkan Louis mampu membuat sekujur tubuh Laura merinding.
__ADS_1
"Kamu sekarang semakin agresif ya Louis. Saya baru tau tenaga kamu lebih kuat dari pada saya, apa kamu tidak lelah pulang dari kantor langsung meminta itu sama saya." ujar Laura saat posisi mereka masih sama.
"Tidak! Saya tidak akan pernah lelah kalau itu menyangkut kamu Laura, saya semakin kecanduan kalau sudah bersama dengan kamu." kata Louis dengan meletakan dagu di pundak Laura.
Laura semakin tidak kuat untuk mendesah saat Louis mulai menyentuh leher jenjangnya, pria ini benar-benar perkasa kalau menyangkut dengan bercinta.
"Sayang jangan lakukan itu di sini ya. Aku tidak fokus membuat kamu kopi kalau kamu seperti ini."
"Nggak apa-apa sayang. Kamu lanjut membuat kopi aja dan aku sibuk menyentuh tubuh kamu." Louis terus menyentuh tubuh Laura saat Laura semakin tidak fokus dengan sentuhan pria ini, akhirnya Laura menghentikan membuat kopi dan fokus dengan Louis.
***
Felia yang melihat bagaimana Louis dengan lihai menyentuh tubuh Laura di depan matanya sendiri, walau dia tidak melihat langsung tapi melihat di layar laptop bagaimana keduanya saling menikmati kegiatan itu. Kegiatan yang mereka lakukan semakin membuatnya jijik, apalagi mendengar suara yang sangat membuatnya muak.
Edbert yang melihat adegan itu langsung melihat kearah Felia, di sana Felia sangat tidak menyukai adegan mereka di tambah suara yang sangat menganggu telinganya.
"Aku ingin melihatnya sampai selesai ayah. Aku ingin adegan yang mereka lakukan ini akan menjadi bukti kalau Louis tidak mengakui perselingkuhan mereka." urai Felia tanpa menatap kearah Edbert, dia masih fokus dengan CCTV.
"Apa kamu yakin untuk melihat rekaman CCTV ini?" tanya Edbert untuk menyakinkan Felia, dia tau bagaimana sakit hatinya wanita ini tapi ia masih bisa baik-baik saja setelah melihat semuanya.
"Iya ayah." lalu keduanya kembali ke CCTV itu lagi, adegan mereka masih berlanjut sampai menjelang malam barulah mereka menyelesaikan kegiatan panas mereka.
Edbert meminta Bob untuk menyiapkan segelas air putih, dia tau Felia akan shock melihat semuanya apalagi mereka berdua dengan sangat senangnya melakukan itu.
"Kamu minum dulu Felia." ucap Edbert memberikan segelas air putih, Felia mengambil gelas dari tangan Edbert dan dia langsung meminum air putih itu.
Edbert mengambil gelas itu dan meletakan kembali gelas tersebut, "Saya tau kamu shock dengan rekaman CCTV yang kamu lihat barusan, tapi ini satu-satunya cara supaya kamu percaya dengan saya Felia. Sekarang kamu tenangi diri kamu dulu barulah kamu bisa bicara kembali setelah kamu merasa tenang."
__ADS_1
Felia berusaha menenangkan dirinya, mulai dari menghela nafas terus menerus sampai ia berusaha melupakan bagaimana kegiatan yang mereka lakukan terus melintas di pikirannya. Tanpa diduga Edbert menarik Felia ke dalam pelukannya, dia terus memeluk tubuh Felia sampai dia mendengar suara tangisan yang pecah dari Felia.
Edbert membiarkan wanita ini menangis sampai Felia benar-benar tenang, setelah dia merasakan Felia tenang baru dia melihat Felia kembali.
"Sudah ya jangan nangis lagi, kamu tidak pantas menangis seperti ini Felia. Laki-laki seperti Louis tidak pantas kamu tangisi, saya tau kamu kecewa dengan ini tapi saya harap kamu bisa membalas semua perbuatan mereka." kata Edbert mampu membuat Felia kebingungan.
"Gimana caranya aku bisa membalas perbuatan mereka ayah, sedangkan aku tidak kuat untuk bertemu dengannya setelah apa yang aku lihat barusan." ucap Felia yang sudah mulai meneteskan air mata.
Edbert buru-buru menghapus air mata itu, dia tidak ingin wanita yang dia cintai menangis cuman gara-gara lelaki brengsek seperti Louis.
"Sudah jangan sedih lagi. Mulai sekarang ayah akan selalu menemani kamu, ayah janji akan membantu kamu membalaskan dendam sama mereka berdua. Sekarang kamu fokus mengurus diri kamu dan anak kita, kamu akan tinggal dengan ayah tidak tinggal di rumah ini lagi." kata Edbert membuat Felia menatap lelaki di depannya ini.
"Tapi kalau aku tinggal dengan ayah nanti Louis akan cari aku ayah."
"Ayah sudah bilang sama kamu jangan pikirkan dia lagi Felia, yang harus kamu pikirkan diri kamu dan Alfred. Kamu mau melihat hidup kamu seperti ini terus sampai suami kamu terus menyakiti perasaan kamu." Felia dengan cepat menggeleng, dia juga tidak ingin diperlakukan seperti ini terus.
Seharusnya dia bangkit tanpa memikirkan perasaan Louis, toh dia saja tidak memikirkan perasaannya kenapa harus dirinya terus yang memikirkan perasaannya.
Felia tersenyum dan mengangguk, "Baik ayah, mulai sekarang aku harus berusaha mengubah diriku sendiri. Aku tidak ingin hidupku seperti ini, aku ingin bangkit dan membuat mereka berdua hancur seperti apa yang mereka lakukan padaku."
Edbert tersenyum dengan perkataan Felia, dia bangga dengan wanita ini. Dalam sekejap Felia berubah dan mulai bangkit dalam kesedihannya, dia janji akan selalu berada di sisi Felia dan tidak akan lagi pergi lagi.
Pertempuran dahsyat yang mereka lakukan membuat Laura bangun dari tidurnya, di sana dia melihat Louis memeluk tubuhnya dengan posisi tubuh tanpa memakai sehelai pakaian hanya tertutup dengan selimut.
Laura tersenyum dan terus menyentuh wajah Louis dengan lembut, dia terus menatap kekasihnya sesekali ia mencium wajah Louis yang masih menutup mata. Louis yang merasa wajahnya terus di sentuh segera membuka mata, ia tersenyum melihat Laura sangat cantik.
"Sekarang sudah jam berapa sayang?" tanya Louis yang berusaha bangun, Laura yang melihat Louis bangun ia segera bangun dan mencari handphone untuk melihat jam.
__ADS_1
"Jam delapan sayang." mendengar itu Louis dibuat kaget dengan apa yang dia lakukan, ternyata dia terlalu asik bermain dengan Laura sampai lupa waktu.