
"Saya tidak tau apa yang kalian sembunyikan tapi saya akan mencari taunya sendiri." ucapnya dalam hati.
Baru beberapa tempat ia menemani Felia, wanita ini sudah kelelahan dan sekarang mereka berada di sebuah toko penjual es krim.
Edbert memperhatikan Felia makan sampai wadah es krim habis tanpa tersisa, melihat perubahan Felia ia sudah mulai curiga kalau wanita ini.
"Atau jangan-jangan Felia hamil?" ia berkata dengan hatinya yang terus menatap Felia, dia melihat Felia sudah menghabiskan empat es krim tetapi wanita ini selalu memintanya terus.
"Stop! Kamu jangan nambah lagi." ucap Edbert menahan tangan Felia saat tangan wanita itu ingin memanggil pelayan.
"Tapi aku mau lagi."
"Felia, kamu sudah menghabiskan empat mangkok es krim masa mau nambah lagi. Nanti kamu sakit aku gak mau melihat kamu sakit."
"Tapi..."
"Sudah jangan tapi-tapian, sekarang kita pulang." Edbert bangun dari tempat duduk dengan tangan mengajak Felia bangun tetapi ia melihat Felia menggeleng.
"Kamu mau kemana lagi, Felia. Apa kamu tidak lelah berjalan kaki terus." ucap Edbert menatap Felia yang masih nyaman di tempat duduknya.
"Aku mau kesana lagi." ucap Felia dengan tangan menunjukan ke salah satu wahana permainan.
Melihat itu Edbert dengan cepat menggeleng dan membawa Felia pergi, Felia terus berontak saat Edbert membawanya pergi tetapi Edbert membiarkan apa yang dilakukan Felia.
Tiba di rumah Edbert melihat Felia berjalan lebih dulu, ia menghela nafas saat Felia meninggalkannya yang berada di dalam mobil. Ia keluar dari mobil dan mengambil semua barang belanjaan yang sempat dibeli Felia.
Sampai di ruang tamu Edbert meletakan belanjaan di sofa dan dia melangkah dimana Felia duduk, "Kamu marah sama saya?"
"Nggak."
Edbert yang melihat itu tersenyum gemas, dia dengan cepat mengambil dagu Felia untuk ia lihat wajah cantik wanita ini.
"Kalau tidak marah kenapa ninggalin saya, Hem!" ucapnya masih menatap Felia, wanita itu sama sekali tidak bisa mengedipkan mata pasalnya lelaki ini selalu membuatnya gagal jantung.
"Om aja kelamaan." gumaman itu masih terdengar oleh Edbert saat Felia memilih menatap kearah lain.
__ADS_1
"Felia. Sekarang kamu lihat saya."
"Sayang." panggilan lembut itu mampu membuat Felia terhipnotis, ia dengan cepat menatap lelaki tampan ini sampai dirinya melihat Edbert mengambil bibirnya.
"Sudah jangan marah lagi. Saya minta maaf tidak mengikuti kemauan kamu, saya tau saya salah tapi saya tidak mau melihat kamu kelelahan."
Keduanya sama-sama masih terdiam sampai Edbert kembali bicara dan mengingat ucapan yang sempat ia lontarkan di hatinya.
"Felia. Kenapa akhir-akhir ini saya melihat kamu mudah kelelahan dan suka sekali makan es krim. Yang saya aneh dari sikap kamu sekarang lebih suka manja dari pada biasanya, apa jangan-jangan kamu hamil?" ucapan yang dilontarkan Edbert mampu membuat Felia terdiam, dia terus mengingat sifat dan sikapnya mulai berubah.
Felia menggeleng dengan cepat dan memilih tertawa dengan perkataan aneh Edbert, "Mana mungkin aku hamil. Kalau aku hamil pasti anak ini anak Louis yah. Lagian ayah bicaranya aneh, memangnya ayah mengira anak ini anak siapa kalau bukan anak dari Louis."
"Anak saya." jawaban Edbert membuat Felia ketakutan pasalnya lelaki ini menatapnya dengan tatapan tajam.
"Nggak mungkin yah. Anak ini pasti anak aku dengan Louis bukan anak aku dengan ayah."
Edbert berbalik dan memilih bersandar di sofa dengan tatapan melihat kearah jendela, "Mungkin aja! Lagian saya yang melakukan itu sama kamu bukan Louis, lagian kamu lakuin itu sama Louis cuman sekali. Sedangkan saya sudah lebih dulu menanam benih di rahim kamu." kata Edbert dengan menatap Felia.
Yang dikatakan Edbert memang ada benarnya juga, semenjak Louis sibuk bekerja ia lebih banyak waktu bersama dengan ayah mertuanya dari pada sama suaminya. Dan dia sekarang bekerja di kantor Edbert bukan lagi di kantor milik suaminya, dia juga diminta untuk mengurus perusahaan Louis.
Felia dengan cepat menatap Edbert dengan serius begitupun dengan Edbert, "Berarti kalau aku hamil anak om, gimana dengan Louis. Yang ada dia akan tau kalau anak ini bukan anaknya."
***
Felia diminta Edbert untuk istirahat di rumah, tapi dia memilih pergi mencari sesuatu yang janggal di hatinya. Dia sempat curiga kalau Edbert menyembunyikan sesuatu darinya, tapi ia tidak bisa mengatakan hal itu kepada Edbert yang ada lelaki itu malah tidak memberitahunya.
Ia memutuskan untuk mencari taunya sendiri, tetapi ia tidak tau memulainya dari mana. Dan seketika dia baru ke ingat kalau Novan pasti tau semuanya, Felia memutuskan kembali ke kantor tempat dimana ia bekerja.
Tiba di kantor ia tidak bertemu dengan Louis, dia malah melihat Novan sibuk mengurus pekerjaan.
Ketukan meja itu mampu membuat Novan mengakhiri pekerjaan dan memilih menatap orang tersebut, dia melihat Felia berdiri di dekatnya sambil melipat kedua tangannya.
"Jam segini Louis ke kantor?" tanya Felia membuat Novan menggeleng.
"Saya sudah katakan sama ibu. Pak Louis sudah lama tidak ke kantor dan saya tidak tau keberadaan pak Louis."
__ADS_1
"Sudah berapa lama Louis tidak ke kantor?" melihat Felia yang mengkhawatirkan Louis, ia membawa Felia masuk keruangan tertutup dan memilih menutup semua kaca ruangan.
"Bu. Saya minta maaf sudah lancang membawa ibu kemari, tapi jujur saya tidak tau pak Louis dimana. Dia sudah lama tidak ke kantor saya juga tidak tau kenapa pak Louis berubah."
"Berubah? Maksud kamu?" tanya Felia yang sedikit bingung dengan perkataan Novan.
Akhirnya Novan menceritakan kecurigaannya sampai ia menemukan bukti CCTV yang tidak sengaja dia temui, Felia yang mendapatkan bukti itu dengan cepat melihat dan di sana ia melihat satu perempuan sempat ke kantor Louis. Tetapi ia tidak tau kenapa wanita itu sering ke kantor Louis, dan setiap Louis menerima telepon dari seseorang ia segera pergi meninggalkan pekerjaan.
Felia selesai melihat rekaman CCTV itu langsung menatap Novan, "Apa yang kamu curiga kan dari wanita ini, Novan. Bukannya wanita ini hanyalah wanita rekan bisnis dari bos kamu."
"Awalnya saya mengiranya begitu Bu. Tapi saya curiga kalau diantara mereka memiliki hubungan, tidak hanya saya saja yang melihat kedekatan mereka berdua pak Edbert melihatnya juga Bu." ucap Novan.
"Ayah? Jadi selama ini ayah tau semuanya, atau jangan-jangan maksud dari ucapan ayah ini." batin Felia, melihat Felia melamun Novan dengan cepat menyadarkan Felia.
"Ibu gak apa-apa." kata Novan membuat Felia menggeleng.
Felia beranjak dari kursi dan membawa bukti yang diberikan Novan, "Baiklah, kalau gitu saya duluan Novan. Terima kasih kamu sudah beritahu informasi ini sama saya."
"Sama-sama, Bu." Felia pergi dari ruangan semula, ia memilih pergi ke kantor saat dia baru saja datang ke kantor Louis.
Edbert yang melihat Felia datang ia dengan cepat memeluk tubuh Felia dan mencium bibir kekasihnya, "Kamu tumben kemari. Bukannya aku minta kamu istirahat di rumah."
"Iya, aku bosan di rumah."
"Yasudah, kamu temani aku aja. Jarang-jarang kita punya waktu berduaan di kantor, biasanya kamu sibuk mengurus pekerjaan sampai tidak punya waktu untuk aku." ujar Edbert, ia dengan cepat membawa Felia duduk di dekatnya dengan membawa satu kursi untuk Felia.
Saat dia mulai nyaman dengan hubungan terlarang ini, ia sama sekali tidak mengingat bahwa dirinya memiliki istri sedangkan dirinya lebih mementingkan Mayra dari pada Felia.
"Honey." panggil seseorang yang baru saja memeluknya dari belakang, Louis tersenyum sambil menyentuh pelukan yang diberikan Mayra.
"Sayang, tumben kamu tidak menemui istri kamu. Biasanya kamu paling merindukan dia, dan sekarang kenapa tidak bertemu dengan istri kamu." ucap Mayra masih memeluk Louis.
Louis menghentikan bermain game, dia memilih membawa Mayra duduk di pangkuannya.
"Buat apa saya menemuinya bukannya saya masih ada kamu. Jadi gak usah bahas tentang dia, percuma kalau kamu lebih segalanya dari Felia." tutur Louis membuat Mayra tersenyum, ia dengan cepat meletakan kedua tangannya di leher Louis dan mengambil kesempatan untuk mencium Louis.
__ADS_1
"l Love you, sayang."
"l Love you to." jawab Louis membalas pelukan Mayra.