
Mayra terbangun saat dirinya melihat tubuhnya berada di atas tempat tidur, dia sama sekali tidak melihat keberadaan Louis. Lelaki itu malah pergi entah kemana, Mayra menyibukkan diri untuk memulai rencana awalnya.
Dia memutuskan pergi untuk menemui seseorang, sedangkan Louis dari tadi mengikuti kemanapun Mayra pergi. Ia sudah menebak kalau Mayra akan melakukan sesuatu, dan benar saja wanita itu pergi ke salah satu tempat yang di sana Mayra berhenti memilih jalan kaki kearah jalan tersebut.
Louis yang melihat itu langsung keluar dari mobil, ia meninggalkan mobil lalu mengikuti langkah Mayra. Jalanan panjang yang sangat sepi mampu membuat Louis curiga, jalanan terpencil yang tidak satupun orang datang dan dia sendiri datang ke tempat berbahaya ini.
Louis menghentikan langkahnya saat dia melihat dua laki-laki bertubuh besar berjaga di pintu utama, ia melihat Mayra masuk ke dalam rumah tersebut tetapi dia tidak bisa mengikuti Mayra sampai ke dalam.
"Bagaimana saya bisa masuk ke dalam dan mengusir dua penjaga itu." ucapnya dalam hati dengan menatap dua penjaga tersebut.
Akhirnya Louis menyamar dan merubah penampilannya, saat ia berada di depan penjaga ia sama sekali tidak ketahuan dan malah penjaga itu memintanya untuk masuk. Pandangan pertama yang dia lihat adalah alkohol, semua orang yang berada di tempat ini sangat menyukai alkohol dan lebih parahnya tempat ini adalah tempat penyiksaan.
"Astaga! Tempat ini ternyata lebih menyeramkan dari apa yang aku bayangkan." ucapnya masih menatap sekitar, ia memilih mencari orang yang dia cari.
Dan matanya menemukan salah satu wanita yang sibuk berkencan dengan satu laki-laki, Mayra menghampiri lelaki itu dengan memberikan sebuah ciuman yang menurutnya sudah terbiasa untuk dilakukan.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu." kata Mayra dengan memeluk tubuh lelaki itu tidak lupa lelaki itu memberikan ciuman di bibir Mayra.
"Tidak hanya kamu saja baby. Saya juga merindukan kamu, kamu kenapa akhir-akhir ini tidak datang ke tempat ini. Apa kamu sudah melupakan aku sampai kamu tidak datang ke tempat ini lagi?" tutur lelaki itu dengan menatap Mayra.
"Mana mungkin aku melupakan kamu, aku banyak kesibukan sampai tidak bisa datang kemari." jawab Mayra dengan meletakan tangannya ke belakang leher lelaki itu.
Louis yang melihat itu sontak kaget, pasalnya dia belum pernah melihat Mayra bersikap manja kepada lelaki lain selain dirinya. Dan dia malah melihatnya sendiri, Louis memilih mencari tempat duduk untuk mengetahui apa yang mereka bicarakan.
Lelaki itu membawa Mayra duduk sambil menawarkan minuman, Mayra terus berada di samping lelaki ini dan ditemani dengan para lelaki yang dianggap teman kekasihnya.
"Tumben banget lu ada di sini May biasanya sibuk." ucap salah satu lelaki yang sibuk bermain kartu.
__ADS_1
"Gua lagi kangen sama pacar gua ini. Apa gua salah nemuin pacar gua sendiri."
"Nggak ada yang salah tapi May..." ucapan lelaki itu terhenti saat dia menyelesaikan bermain kartu, lalu dia memilih menatap Mayra.
"Lu masih ingin menghancurkan mereka." ucap lelaki itu kembali saat Louis mengerutkan kening dengan perkataan lelaki asing itu.
"Iyalah. Lagian gua gak suka mereka bahagia dan tujuan utama gua menghancurkan kehidupan mereka, gua gak salah dong mau melakukan rencana ini." lontar Mayra yang sibuk menuangkan minuman, ia juga mengambil kartu yang sempat dimainkan temannya.
"Nggak ada yang salah sih. Tapi tujuan lu sudah tidak waras May! Rasa sakit hati lu seharusnya sudah punah May bukannya malah bertambah, apalagi lu punya niat untuk menghancurkan mereka semua. Apa lu gak punya hati nurani sampai melakukan itu semua."
Mendengar ucapan temannya itu ia lebih memilih tertawa dan melempar kartu yang dia pegang, "Hati nurani lu bilang? Rasa sakit hati gua di masa lalu sudah berakar jadi tidak ada yang bisa menyembuhkan luka di masa lalu gua."
"Dan menurut gua mereka pantas hancur. Karena gua ingin mereka merasakan apa yang gua rasakan dulu."
Louis cukup lama terdiam saat mendengar semua ucapan yang dilontarkan mereka semua terutama Mayra, ia tidak tau apa yang terjadi kepada Mayra sampai wanita itu ingin membalas dendam. Dan ia juga tidak mengerti apa yang mereka ucapkan, karena ia tidak tau apa yang terjadi sebenarnya.
Louis kembali dalam keadaan biasa, ia tidak ingin wanita itu curiga kalau sebenarnya semalam ia mengikuti wanita itu. Dia sama sekali tidak melihat Mayra dan ia memilih menemui Felia.
Felia yang sibuk menonton film dengan cemilan di tangannya mendengar suara bel, tetapi ia memilih membiarkan dan memilih fokus dengan filmnya tetapi lama kelamaan suara itu mengusik ketenangannya.
Felia memilih melangkah kearah sumber suara, dan apa yang dia dapatkan. Dia melihat Louis berdiri di pintu dengan menatapnya, sudah lama sekali ia tidak melihat suaminya tapi ia malah bersikap biasa saja.
"Silakan masuk." ucap Felia meminta Louis masuk, lelaki itu sedikit bingung dengan sikap istrinya dan mengikuti apa yang diucapkan Felia.
"Kamu apa kabar, sayang?" tanya Louis tiba-tiba saat Felia sibuk menyiapkan minuman.
"Harusnya kamu tanyakan itu sama diri kamu sendiri, kalau memang kamu sibuk pasti tau keadaan istri kamu bukan bertanya. Sesibuk apapun suami pasti akan memberi kabar bukan malah bertanya saat lagi butuh."
__ADS_1
Felia kembali menyiapkan minuman di saat Louis memilih diam, perkataan Felia sama sekali tidak bisa ia jawab malah dia seperti merasakan sekujur tubuhnya kaku akan ucapan Felia.
Felia melangkah membawa segelas minuman, ia meletakan minuman itu di depan Louis. Dan dia memilih duduk berjauhan.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuat kamu khawatir tapi aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan aku."
"Iya aku tau. Silakan di minum." ujar Felia sambil mempersilahkan Louis minum, melihat perubahan sikap Felia seakan ia kehilangan sesuatu di hidupnya.
Seharusnya dia memberi kabar untuk istrinya dan malah ia sibuk dengan selingkuhannya, "Dimana ayah? Kenapa aku tidak melihatnya."
"Ayah masih di kantor." percakapan terakhir itu membuat Louis tidak bisa bicara lagi, ia malah melihat Felia sibuk dengan kegiatannya.
"Felia, maaf aku sudah membuat kamu khawatir. Seharusnya aku memberi kamu kabar malah aku memilih sibuk mengurus pekerjaan dari pada kamu." ucapnya dengan nada lirih, mendengar itu membuat Felia menatap dan benar saja ia melihat ada rasa bersalah dari raut wajah Louis.
"Sudahlah jangan di bahas lagi. Aku paham posisi kamu, tapi aku juga tidak bisa bersikap seperti ini sama kamu."
"Suatu saat aku akan lelah sama sikap kamu terhadap aku dan aku tidak akan bisa bersikap seperti ini terus. Aku tau kamu sibuk mengurus pekerjaan tapi aku juga tidak bisa berada di posisi ini, seakan-akan aku ini tidak dibutuhkan oleh kamu Louis."
"Aku ini istri kamu bukan orang lain. Kamu seharusnya bersikap seperti suami bukan bersikap seperti orang asing, aku sudah lama mengerti keadaan kamu tapi apa.. Apa yang aku dapatkan dari kamu! Apa aku mendapatkan keadilan di saat kamu sibuk bekerja dan malah seolah-olah kamu tidak butuh aku sebagai istri kamu." ungkap Felia, seakan-akan perkataan ini sudah lama ingin dia utarakan dan baru bisa diucapkan sekarang.
"Maaf." Louis berusaha menatap Felia tetapi wanita ini enggan untuk menatapnya, "Maaf. Seharusnya aku tidak melakukan ini sama kamu, maaf sudah membuat kamu kecewa Felia."
Felia memilih menghela nafas dan barulah dia bisa menatap suaminya, "Sudahlah jangan di bahas lagi. Lebih baik kamu pergi dari sini, aku tidak mau bertemu kamu dan melihat kamu lagi Louis."
Mendengar itu Louis dengan cepat mengangkat kepalanya untuk menatap Felia, wanita itu seakan seperti tidak melihat kehadirannya dan ia melihat Felia bersikap acuh.
"Baiklah aku akan pergi, tapi aku akan berusaha datang lagi untuk menemui kamu dan melihat keadaan kamu." setelah Louis mengatakan itu ia melihat Louis pergi, dan dia hanya bisa terdiam di tempat duduk tanpa mengejar kepergian suaminya.
__ADS_1