Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Gagal Menggoda Louis


__ADS_3


Cici menatap penampilannya di depan kaca toilet, dia tidak menyangka ternyata Felia berani melawannya. Dia pikir wanita itu sama seperti wanita yang ada di adegan drama, tapi nyatanya Felia lebih melawan dari pada menangis.


"Bisa-bisanya dia nyiram gua dengan air, lihat saja Felia perbuatan kamu kali ini akan aku balas. Tunggu dan lihat nanti!" ucap Cici dengan menatap dirinya di pantulan kaca di tambah tangannya selalu mengepal kuat.


Felia tidak lagi memikirkan kejadian dimana Louis di cium oleh Cici sahabatnya sendiri, ia malah menyibukkan diri bekerja di luar lapangan dari pada di dalam kantor. Melihat adegan Louis dengan Cici Felia memilih pergi dari kantor, ia diminta ketua untuk melakukan pekerjaan di luar dan itu semua ia lakukan untuk menghilangkan ingatan menjijikkan itu.


"Sendiri aja, dimana Louis?" perkataan dari seseorang membuat Felia melirik laki-laki yang duduk di dekatnya, lelaki itu tersenyum saat Felia tidak meliriknya kembali.


"Om, kenapa bisa ada di sini."


"Saya datang ke tempat ini melihat pembangunan rumah, saya tidak sengaja melihat kamu duduk melamun dengan minuman yang masih tersisa." kata Edbert membuat Felia menatap minuman.


"Kamu datang ke tempat ini sendiri tidak sama Louis?" tanya Edbert menatap Felia.


"Saya yang bertugas di lapangan juga om, Louis sama seperti om yang menunggu hasil pekerjaan karyawan."


"Saya tidak sama dengan Louis, saya memang pemilik perusahaan tapi saya tidak mau pekerjaan saya dilakukan orang lain." Edbert menatap Felia, ia memilih bangun dari tempat duduk dan berdiri menatap Felia.


"Dari pada kamu bengong sendiri di sini lebih baik kamu ikut saya," ucap Edbert membuat Felia melihat Edbert berdiri di depannya.


"Kemana?" tanpa menjawab ucapan Felia ia menarik tangan Felia, Edbert membawa Felia ke salah satu rumah makan.


Felia mengikuti kemauan Edbert sampai ia diminta Edbert duduk, "Silakan kamu pilih makanan yang kamu suka, saya tidak mau melihat kamu kurus." Felia melihat menu yang ditempel di tembok.


Edbert melihat Felia melahap semua makanan tersenyum, entahlah sudah berapa lama wanita ini tidak makan sampai rakus seperti itu.


Edbert mengambil tisu untuk mengelap sisa makanan yang menempel di sudut bibir Felia, "Makan jangan buru-buru saya tidak akan mengambil makanan kamu."


Felia menatap perlakuan Edbert, ia dengan cepat mengambil tisu untuk menghilangkan rasa gugup.


"Kamu lagi ada masalah dengan Louis?" pertanyaan itu sontak membuat Felia tersedak, Edbert dengan cepat membantu Felia mengambil minuman.


"Kamu gak apa-apa 'kan?" Felia mengangguk walaupun mulutnya masih minum.


Ia kembali menatap Edbert, "Gak ada masalah sama sekali om. Saya dengan Louis baik-baik aja."


"Kamu yakin?" Felia mengangguk dengan pertanyaan yang diberikan Edbert.

__ADS_1


Ditempat lain Cici keluar dari toilet, ia kembali ke tempat kerja. Di sana dia tidak melihat keberadaan Felia, melihat meja yang bisa di tempatkan Felia kosong ia mulai melanjutkan rencananya.


Jam pulang kantor Cici sengaja menunggu mobil Louis keluar dari basement, dan benar saja dugaannya matanya menemukan mobil Louis keluar, Cici dengan cepat menghentikan mobil saat pemilik mobil menginjak rem melihat Cici menghalangi jalan.


Louis membuka kaca mobil, ia sedikit mengeluarkan kepala untuk melihat Cici. "Cari mati kamu berdiri di depan jalan, kalau saya tidak melihat kamu mungkin kamu sudah saya tabrak."


Cici melangkah mendekati Louis, "Maaf pak saya tidak sengaja. Saya boleh numpang di mobil bapak?"


"Nggak bisa! Kamu punya kendaraan sendiri jadi kamu gunakan saja kendaraan kamu, jangan menganggu saya lagi."


Cici dengan cepat menghentikan Louis membuat Louis menahan kesal, "Saya mohon pak. Mobil saya mogok, bapak mau 'kan anterin saya pulang Kali ini aja."


Melihat Cici memohon akhirnya ia mengizinkan wanita ini masuk, Cici dengan cepat masuk ke dalam mobil.


"Dimana alamat rumah kamu?" pertanyaan itu sontak membuat Cici menatap, tiba-tiba saja Cici mengingat rencananya saat mendapatkan kesempatan bersama Louis.


"Bapak boleh antar saya ke hotel? Malam ini saya tidak mau pulang ke rumah." sikap perubahan Cici mulai digunakan saat Louis hanya mengikuti kemauan Cici.


Lelaki itu membawa Cici ke hotel terdekat, tidak butuh lama Louis tiba di depan pintu utama hotel, ia menatap Cici membuat wanita itu menatapnya juga.


"Sudah sampai. Silakan kamu bisa keluar dari mobil saya." ucap Louis dengan tegas, Cici sama sekali tidak turun malah dia nyaman di dalam mobil.


***


Edbert menatap Louis yang baru saja kembali, ia melihat lelaki itu duduk di sofa dengan kaki di luruskan ke kursi kecil.


"Jam segini kamu baru pulang?"


"Di kantor banyak pekerjaan jadi saya tidak sempat pulang cepat." Edbert meninggalkan dapur menuju Louis, Louis merasa Edbert duduk di sampingnya ia dengan cepat mengubah posisinya.


"Gimana nanti kamu nikah, kamu aja belum bisa mengatur waktu kamu. Yang ada Felia bakal cari pria lain karena diabaikan sama kamu." perkataan Edbert membuat Louis menatap pria ini, ucapan Edbert membuatnya semakin takut karena dia tidak mungkin meninggalkan wanita itu.


"Itu tidak akan terjadi, saya bakal berusaha mencari waktu untuk Felia. Saya tidak ingin Felia mencari pria lain selain saya."


"Tapi Felia sudah memberikan haknya untuk saya Louis, dan kamu belum tentu mendapatkan hak kamu dari Felia." ucapnya di dalam hati.


Berbangga hati boleh, asalkan jangan terlalu percaya diri. Itulah kelakuan Edbert, ia selalu percaya diri kalau Felia cuman punya dia seorang.


Louis baru saja keluar dari kamar menuju lantai bawah, dia melihat Edbert sibuk sarapan dengan pakaian berbeda.

__ADS_1


"Ayah, mau kemana rapih banget?" pertanyaan itu membuat Edbert menghentikan sarapan, ia menatap Louis duduk di kursi dengan mengambil sarapan.


"Ayah mau ke kantor kamu."


Ucapan Edbert membuat Louis terkejut, seumur hidup ia belum pernah melihat ayahnya pergi ke kantor. "Apa? Buat apa ayah ke kantor aku."


"Buat memastikan perkembangan perusahaan kamu. Ayah tidak mau perusahaan yang kamu pimpin bangkrut, karena ayah tidak sepenuhnya mempercayai kamu memegang perusahaan." kata Edbert melanjutkan kegiatan makan, walau tatapan Edbert terus mengarahkan Louis.


Tiba di kantor dua lelaki tampan keluar dari mobil, mata mereka menatap perusahaan yang sudah ada di depan mata. Dua lelaki itu masuk saat mata Edbert menemukan sosok wanita yang ia cintai, wanita itu sibuk melakukan tugas kantor saat Felia tidak melihat keberadaan Edbert.


"Wah, ganteng banget laki-laki itu. Kelakuan mereka berdua sama persis, aku mau deh jadi simpanan om-om itu."


Mendengar ocehan dari para karyawan membuat Felia menatap, dia melihat Edbert berada di kantor Louis. Lelaki itu melangkah keruangan Louis saat tatapan lelaki itu belum lepas dari Felia.


"Kenapa om Edbert ada di kantor? Mau apa dia di kantor Louis?" semua pertanyaan yang melintas di otaknya, membuat Felia semakin menginginkan jawaban pertanyaan yang dia berikan.


Cici menatap dua lelaki itu menuju ruangan Louis, "Siapa lelaki itu? Kenapa aku belum pernah melihat pria itu?" batin Cici masih menatap punggung lelaki asing yang berdiri disamping Louis.


Felia melihat Cici menuju ruangan Louis, wanita itu dengan santai berjalan lebih dulu seakan Cici akan berhasil melakukan rencananya lagi.


Tok! Tok!


Ketukan suara pintu terdengar membuat dua lelaki itu menatap, satu wanita melangkah membawa berkas kantor dengan penampilan yang sedikit terbuka.


"Selamat pagi pak. Ini dokumen yang bapak minta." Louis memberikan anggukan dengan menjawab ucapan Cici, tidak dengan Edbert ia terus memperhatikan penampilan Cici.


"Apa seperti ini karyawan yang bekerja di perusahaan ini? Kenapa harus model kaya gini bisa keterima kerja di tempat ini." batin Edbert tanpa mengalihkan pandangan kepada Cici.


"Permisi pak." ucapan Felia sontak membuat ketiganya menatap, wanita itu terus melangkah membawa dokumen.


"Kenapa Felia bisa ada di sini? Bukannya dia sibuk melakukan pekerjaan di lapangan." batin Cici menatap sinis Felia.


"Kamu bisa pergi dari ruangan saya?" pertanyaan itu membuat Cici semakin percaya diri, dia mengira pertanyaan itu diberikan kepada Felia nyatanya diberikan kepadanya.


"Kenapa kamu masih ada di sini?" tanya Louis sekali lagi dengan menatap Cici, Cici mengarahkan jari menunjuk kearahnya.


"Ya kamu. Kamu ngira saya akan mengusir Felia? Itu tidak mungkin, karena saya lebih membutuhkan Felia dari pada kamu." hati Edbert tersenyum mendengar ucapan Louis, baru pertama kali ia melihat sikap Louis tegas kepada wanita ini.


"Baik pak, kalau gitu saya permisi."

__ADS_1


__ADS_2