
Laura yang awalnya bekerja di kantor Louis mulai memilih resign dari kantor tersebut, sekarang ia akan melamar kerja di perusahaan Edbert. Perusahaan yang akan dia incar untuk mendapatkan lelaki itu.
Akhirnya setelah melakukan kegiatan panjang dia berhasil bekerja di perusahaan Edbert, dan sekarang ia akan memulai rencananya untuk mendapatkan Edbert seperti awal mulanya mendapatkan Louis.
Hari ini adalah hari dimana Laura menjadi karyawan baru, karyawan yang akan menggantikan posisi Bob untuk sementara waktu sebelum Bob kembali. Laura yang mendapatkan posisi bagus membuatnya sangat beruntung, hari ini adalah hari keberuntungannya sampai tuhan baik kepadanya.
"Ekhem. Selamat pagi Pak! Perkenalkan saya Laura sekretaris baru di kantor ini pak." ucap Laura saat ia melihat lelaki di depannya sibuk menatap handphone.
"Yasudah kamu kembali bekerja, hari ini kamu atur semua pekerjaanku saya tidak ingin ada kesalahan selama kamu bekerja di kantor saya." kata Edbert saat ia melihat ke arah Laura, lalu ia kembali menatap layar komputer.
"Baik pak." Laura pergi dari sana dan ia memulai melakukan pekerjaan sebagai karyawan.
Semua pekerjaan yang diberikan Edbert sangatlah berat sampai dirinya tidak bisa menggoda Edbert, lelaki itu terus memintanya melakukan pekerjaan sampai semua pekerjaan diberikan kepadanya.
Ini semua bukan keinginannya tapi mau gimana lagi, semua karyawan di sini pada bekerja keras untuk melakukan pekerjaan. Dan Laura sangatlah kelelahan melakukan semuanya, sampai dirinya kembali mengingat rencananya.
"Apa aku mulai saja rencanaku sekarang mumpung pekerjaanku banyak, dan ini kesempatanku untuk mendapatkan lelaki itu." ucapnya dalam hati, Laura mengambil satu laporan yang sama sekali ia tidak mengerti.
Sebenarnya semua laporan yang diberikan Edbert sangatlah mudah ia kerjakan, tapi karena tujuannya untuk menaklukan lelaki itu ia segera melakukannya sekarang. Saat masuk keruangan Edbert ia melihat lelaki itu sangat sibuk, sampai kedatangannya saja tidak terdengar oleh Edbert.
"Permisi pak! Maaf saya mengganggu waktu bapak bekerja, apa boleh saya menanyakan sesuatu tentang laporan yang bapak berikan ke saya." ucap Laura saat dia berada di ruangan Edbert dengan tatapan tertuju pada Edbert.
Edbert sangat tidak menyukai kedatangan Laura apalagi wanita ini terus menatapnya, awalnya dia tidak ingin seorang wanita yang menggantikan posisi Bob tapi mau gimana lagi ia harus mencarinya untuk sementara waktu.
Akhirnya Edbert memutuskan untuk melihat ke arah Laura, "Bukannya kamu sudah memiliki banyak pengalaman di perusahaan sebelumnya, kenapa kamu masih menanyakan hal yang seharusnya tidak perlu kamu tanyakan lagi."
"Apa kantor kamu yang sebelumnya tidak bisa melihat kinerja karyawan sampai menyusahkan bosnya sendiri?" kata Edbert dengan nada dingin, aura yang diberikan Edbert sangatlah jelas kalau dia tidak menyukai Laura.
__ADS_1
Laura terdiam dan menunduk, ini pertama kalinya dia diperlakukan seperti ini. Sebelumnya ia tidak pernah di perlukan seperti ini oleh Louis, dan dia sangat geram dengan sikap Edbert.
"Maaf pak. Saya tidak bermaksud seperti itu, hanya saja saya kesulitan melakukan pekerjaan ini. Apa bapak ingin membantu saya untuk menjelaskan pekerjaan ini?" Laura berharap kalau Edbert akan luluh dengan suaranya, tapi apa yang dia dapatkan malah dia diperlakukan seperti orang asing.
"Silakan kamu keluar dari ruangan saya, saya tidak ingin menjelaskan apapun tentang pekerjaan kamu. Dan sebelum kamu melamar di perusahaan saya, seharusnya kamu sadar potensi kamu sebelum bekerja di sini." ucap Edbert dengan lantang sampai suara itu bergema.
"Ma-maaf pak. Kalau gitu saya permisi." Laura segera keluar dengan membawa laporan kantor, tapi dari luar Laura merasa kesal di perlakukan seperti ini.
"Lihat saja kamu Edbert suatu saat kamu akan tunduk seperti Louis. Dan kamu akan menyesal karena sudah melakukan ini sama saya." ucapnya lalu dia segera pergi dari sana.
***
Laura terus menerus melakukan apapun demi mendapatkan Edbert tapi semua usahanya sia-sia, malah dia selalu dianggap tidak ada malah seperti orang asing. Sebagai laki-laki ia tidak mungkin bodoh dengan rencana licik Laura, dia bukanlah Louis yang mudah tergoda dengan suara lembut wanita itu.
Entah sudah berapa hari wanita itu terus melakukan rencana, tapi ia selalu mengabaikan wanita itu sampai dimana ia sangat muak dengan sikap Laura.
"Apa yang kau lakukan Laura. Kenapa kamu berada di ruangan saya, bukannya saya meminta kamu mengurus laporan kerja sama dengan klien." ucap Edbert saat ia melihat Laura duduk di bangku kerja dengan kaki diangkat di kaki satunya dengan kedua tangan dilipat.
"Apa bapak ingin tau kenapa saya berada di sini?" tanya Laura membuat Edbert menaiki satu alisnya dengan mata terus tertuju pada Laura.
"Pak Edbert. Saya tau bapak ini seorang duda ditinggal meninggal, saya juga tau bapak memiliki seorang anak lelaki yang sudah menikah. Tapi apa bapak tidak ingin bersama dengan saya untuk menggantikan posisi istri bapak yang sudah lama meninggal?" tutur Laura membuat Edbert terdiam dengan menatap tangan Laura yang sangat berani menyentuhnya.
Lalu matanya beralih ke wajah Laura, "Lepaskan tangan kamu dari tubuh saya. Saya tidak mau melihat tangan kotor mu itu berada di baju saya."
Mendengar itu Laura tertawa dia segera melepaskan tangannya, tapi bukannya melepaskan malah Laura segera menarik kerah kemeja Edbert membuat lelaki itu hampir mencium wajah Laura.
"Saya tidak akan pernah melepaskan bapak sampai saya bisa mendapatkan bapak. Suatu saat kamu akan tunduk seperti Louis putramu itu, dan saya akan membuat hidup wanita yang kamu cintai menderita." bisik Laura tepat ditelinga Edbert, Edbert yang mendengar itu segera melepaskan diri dari wanita murahan ini.
__ADS_1
"Ayah." panggil Felia yang melihat Edbert bersama dengan wanita lain dan dia mengira kalau ayah mertuanya sudah melakukan hal senonoh.
Laura dengan Edbert dengan cepat membalikan badan, dia sangatlah terkejut melihat Felia berada di kantornya.
"Felia." entahlah kenapa dirinya begitu kecewa melihat adegan itu, adegan yang tidak seharusnya dia lihat.
Felia memutuskan untuk pergi, melihat kepergian Felia Edbert segera menyusul wanita itu. Sedangkan Laura tersenyum puas melihat pertengkaran mereka.
Edbert terus mengejar langkah kaki Felia sampai dirinya berhasil menyentuh tangan Felia, "Felia saya bisa jelasin ke kamu, saya dengan dia tidak melakukan apapun. Kamu harus percaya dengan saya."
Felia tidak bisa bicara apapun lagi, dia tidak tau apa dia harus percaya atau tidak dengan lelaki ini. Akhirnya Felia memutuskan untuk melepaskan genggaman tangan Edbert, lalu dia membalikan badan untuk melihat Edbert.
"Aku percaya sama ayah. Lagian juga aku tidak berhak mengurusi urusan pribadi ayah, aku akan mendukung ayah dengan wanita itu. Jadi aku akan melakukan apapun demi kebaikan ayah, kalau gitu aku pulang dulu yah." kata Felia langsung bergegas pergi, sedangkan Edbert yang melihat kepergian Felia segera melampiaskan amarahnya.
"Argh! Sial! Kenapa jadi seperti ini. Kenapa wanita itu selalu saja menghancurkan hidupku, kenapa harus Felia yang berada di sana kenapa bukan orang lain." erang Edbert dengan tangan terus meninju ke udara.
Felia terus menahan tangis saat melihat adegan dimana Edbert mencium wanita lain, saat itu juga dia berada di sana dan melihat adegan mereka berdua.
"Ada apa denganku. Kenapa aku tidak suka melihat kebersamaan mereka berdua, seharusnya aku mendukungnya bukan malah kesal seperti ini." ucapnya dalam hati dengan sibuk melihat kearah kaca mobil.
Awalnya Felia ingin menemui Edbert di kantor sambil berbicara dengan ayah mertuanya, tetapi yang dia lihat malah Edbert sedang beradu kasih dengan wanita lain.
Louis yang baru saja pulang kerja melihat Felia sibuk menonton televisi, entah matanya yang fokus dengan televisi atau pikirannya yang tidak ada di sana. Tanpa sadar Louis sudah berada di samping Felia, lalu Felia yang sibuk melamun menyadarkan diri saat seseorang menyentuh tangannya.
"Ada yang kamu pikirkan sampai melamun begitu." ucap Louis melihat Felia yang sedang menatapnya.
Felia tersenyum dengan menggeleng kepala, lalu ia kembali menatap suaminya yang baru saja pulang dari kantor.
__ADS_1
"Maaf aku tidak sadar kalau kamu sudah pulang."
"Nggak apa-apa. Kalau kamu lagi ada masalah bilang aja siapa tau aku bisa membantu kamu." urai Louis dengan Laura menganggukkan kepala.