Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Pesta


__ADS_3

Edbert melihat dari kejauhan seorang wanita duduk dibangku taman, wanita itu menatap kearah langit dengan memejamkan mata. Ia memberanikan diri untuk mendekati wanita itu, merasakan ada seseorang yang duduk disebelahnya mencoba membuka mata.


Di sana ia melihat Edbert menatapnya dengan memberikan senyum manisnya, "Om. Kenapa om bisa ada di sini?"


"Seharusnya saya yang tanya itu sama kamu, kenapa kamu diam di taman sendirian. Apa kamu tidak ada pekerjaan lain selain duduk di taman dengan memejamkan mata?"


Edbert menatap Felia saat wanita itu memilih menatap orang-orang yang sibuk berlalu lalang, "Pekerjaan saya sudah selesai om. Saya nyaman aja duduk di taman ditemani dengan angin sore."


"Kalau gitu saya duduk di sini aja sama kamu menikmati angin sore." urai Edbert membuat Felia tersenyum.


Entah kenapa dia lebih menyukai Felia tersenyum dari pada melamun, ia memutuskan pandangan melihat orang-orang dengan helaan nafas.


"Nanti malam kamu mau ikut saya ke sesuatu tempat?" pertanyaan itu mampu membuat Felia menatap, lelaki itu sama sekali tidak menatap Felia melainkan hanya menatap orang-orang.


"Sepertinya tidak bisa om. Sebentar lagi saya mau tunangan saya tidak mungkin jalan dengan pria asing."


Edbert memilih menatap Felia saat wanita ini menganggapnya lelaki asing, "Kamu menganggap saya pria asing?"


"Bukan gitu maksud saya om. Saya gak mau Louis salah paham dengan om, dan saya gak mau hubungan saya dengan Louis hancur gara-gara saya sibuk berduaan dengan om."


Edbert bangkit dari duduk, ia memandang Felia dengan berdiri dan tangan ia simpan di kantung celana.


"Saya tidak menerima penolakan dari kamu, nanti malam saya akan jemput kamu di rumah. Malam ini kamu harus dandan cantik, saya tidak mau kamu menolak ajakan saya." Felia menatap lelaki di hadapannya ini, berusaha menolak percuma pasti lelaki ini akan memaksanya menerima ajakannya.


"Baiklah, nanti malam saya akan ikut." Edbert tersenyum mendengar Felia menerima ajakannya, ia mencoba mendekati Felia supaya dia bisa mengecup kening Felia.


"Saya tunggu kamu nanti malam, ingat harus dandan yang cantik supaya saya tidak berpaling dengan wanita lain." lelaki itu pergi setelah memberikan kedipan mata, melihat kepergian Edbert mampu membuatnya menggeleng kepala.


Louis menutup kembali kulkas saat minuman kaleng berhasil ia dapatkan, tatapannya mengarahkan kearah Edbert. Lelaki itu sibuk merapikan penampilannya disaat Louis masih menatap Edbert.


"Malam-malam begini ayah mau kemana?" tanya Louis sontak membuat Edbert menatap.


"Ayah mau ke acara teman ayah." Louis memberikan anggukan, ia meletakan minuman kaleng melangkah tepat kearah Edbert.

__ADS_1


"Yasudah kamu hati-hati di rumah, besok pagi ayah baru pulang sekalian berkumpul dengan teman lama." kata Edbert memperingati Louis, lelaki itu lagi-lagi menjawab dengan anggukan.


Louis memilih duduk di sofa temani dengan acara televisi, Edbert mengendarai mobil dengan kecepatan sedang melewati berbagai tempat dan jalan yang cukup sepi. Tidak butuh waktu lama Edbert sampai di sebuah rumah yang ditinggalkan Felia, ia keluar dari mobil melangkah kearah rumah itu.


Mendengar suara bel berbunyi Felia dengan cepat keluar dari kamar, ia melangkah dengan anggun saat pintu terbuka Edbert menatap penampilan Felia begitu cantik seakan wanita ini mampu membuatnya terpesona.



Melihat penampilan Felia yang sedikit terbuka, Edbert melepaskan jas untuk dipakai menutupi buah dada Felia.


"Kamu sengaja menggoda saya dengan berpakaian banyak belahan seperti ini?" ucap Edbert kembali melihat penampilan Felia.


Ia memeluk tubuh Felia dengan mendorong sedikit tubuh Felia, "Malam ini kamu cantik sekali, saya semakin terpesona dengan kecantikan kamu." bisik Edbert tepat ditelinga Felia.


bisikan yang diberikan Edbert mampu membuat Felia tersenyum malu, ia memberikan sebuah tangan untuk menggandeng tangan Felia.


***



Lelaki itu lebih dulu turun dari mobil, ia melangkah untuk membuka pintu mobil. Felia melihat Edbert tersenyum dengan memberikan tangan, ia meletakan tangannya ke tangan Edbert.


"Sudah siap?" tanya Edbert membuat Felia mengangguk.


Keduanya masuk ke dalam acara, Felia terus memperhatikan setiap orang yang datang ke acara ini. Ini seperti mimpi, dia berada disekitar orang-orang sukses dan semua orang yang datang ke acara pesta terdiri dari kalangan mewah.


"Jangan tegang gitu, suatu saat kamu akan terbiasa datang ke acara seperti ini." ucap Edbert pelan, Felia memberanikan diri untuk menahan rasa gugup walau hatinya sudah tidak karuan.


Melihat sosok laki-laki datang bersama dengan wanita cantik, lelaki itu menghampiri Edbert. Ia tersenyum melihat teman lamanya datang dan seketika ia melirik wanita cantik yang datang bersama Edbert.


Melihat lirikan dari mata temannya langsung ia memperkenalkan Felia, "Dia Felia calon menantuku."


"Bukan calon menantu Louis melainkan kekasih saya." lanjut Edbert berkata di dalam hati.

__ADS_1


Felia memberikan senyuman saat lelaki itu memberikan sebuah tangan untuk berjabat tangan, Felia dengan cepat menarik tangannya kembali karena dia merasa lelaki di depannya ini menatap dengan tatapan aneh.


"Kalian nikmati pestanya. Saya akan menyambut tamu." kata lelaki itu dengan memberikan sentuhan di pundak Edbert.


"Pacar anak kamu cantik, dia lebih pantas dijadikan simpanan saya. Berapa harga permalam nanti saya akan transfer ke rekening kamu." bisik lelaki yang umurnya sama dengannya, mendapatkan ucapan seperti itu Edbert dengan cepat memeluk tubuh Felia lalu memberikan tatapan tajam kepada lelaki ini.


"Saya hanya bercanda. Selamat menikmati pestanya!" lelaki bejat itu pergi setelah membisikkan sesuatu yang mampu membuatnya marah, melihat kemarahan diraut wajah Edbert Felia langsung menatap lelaki ini.


"Kenapa, om?"


"Tidak apa-apa." Edbert tidak bisa melepaskan Felia begitu saja, ia malah bersikap posesif terhadap Felia.


Edbert yang sibuk ngobrol dengan teman lamanya membuat Felia jenuh, ia memilih pergi mengambil beberapa cemilan. Dari kejauhan seorang lelaki terus memandang Felia, pertama Felia datang lelaki itu sudah menatap dan melirik Felia.


Langkah kaki lelaki itu mengarahkan kearah Felia dengan membawa segelas minuman, "Sendiri aja." ucap seorang lelaki yang sudah berdiri di samping Felia.


Felia yang mendengar ucapan dari pria asing meletakan cemilan yang sempat ia letakan di piring, "Apa matamu buta kalau saya datang kemari tidak sendiri. Dari pada kamu mengganggu orang lain lebih baik kamu pergi dari hadapan saya."


Lelaki asing itu tersenyum mendengar ucapan wanita cantik ini, ia meminum minumannya dan meletakan gelas minumannya.


Lelaki itu mencoba mendekati Felia walaupun wanita ini terus menolaknya, "Jangan terlalu jutek gitu nanti tidak ada yang mau sama kamu." mata lelaki itu mencoba melirik orang-orang barulah kembali menatap wanita cantik ini.


"Dari pada kamu sendirian di sini lebih baik kamu sama saya aja. Lumayan loh kamu bisa mendapatkan uang dari saya." ucap lelaki itu, mendengar ucapan lelaki tidak tau diri ini Felia membalikan tubuh menatap lelaki brengsek ini.


"Saya tidak butuh uang dari kamu. Simpan uang kamu baik-baik karena saya tidak tertarik uang murahan yang kamu beri." lelaki itu melihat kepergian Felia dengan tersenyum, baru pertama kali dia di tolak dengan cara seperti ini.


"Menarik juga wanita itu." gumamnya dengan mengambil cemilan lalu memasukan cemilan itu ke dalam mulut.


Melihat ekspresi wajah Felia mampu membuatnya ingin melahap wanita ini, ia berpindah tempat di samping Felia dengan menggeser kursi yang dia tempati.


"Jangan memasang ekspresi wajah seperti itu. Wajahmu itu seakan-akan ingin aku lahap, apa kamu mau malam ini aku lahap di depan orang banyak?" Felia melirik Edbert saat lelaki ini terus menggodanya.


"Berani om lakuin itu di depan umum akan saya tendang milik om." mendapatkan ancaman dari Felia mampu membuat Edbert tertawa, bagaimana bisa wanita ini mengatakan ini menendang miliknya sedangkan dirinya saja tidak mampu bertahan.

__ADS_1


Edbert mencoba mendekati Felia, "Kau berani melakukan itu sama om? Kalau berani malam ini om tunggu perlawanan kamu."


Felia dibuat mati kutu dengan perkataannya sendiri, dengan posisi emosi kenapa harus bicara seperti itu. Apalagi dia berhadapan dengan lelaki perkasa yang mampu membuatnya tidak berdaya. Felia tidak sadar kalau sebenarnya Edbert tersenyum dengan perkataan yang diucapkan Felia.


__ADS_2